Tuesday, September 8, 2015

Road Trip to Malang 2015



Warning: It’s gonna be a loooongg looong writing.

Say what?

You road trip with a one year old toddler hah? Are you crazy hah?

Itu mungkin sekelumit contra party dari beberapa pihak setelah mendengar saya ingin melakukan perjalanan darat dari BSD ke Malang akhir Mei lalu. You know, toddler dengan segala warna-warninya ( if you mean, ke-cranky-annya), bukanlah elemen tepat untuk dimasukkan dalam wacana road trip.

Di tahun 2015, karena baru aja nyicil mobil, gue dan Mono memutuskan tahun 2015 no jalan-jalan. No budget, broooo. Udah ada niatan sih untuk ke Malang, karena terakhir Mono ke Malang untuk nengok eyangnya sekitar tahun 2012, sebelum ada Daru. Tapi, pengennya sih naik pesawat aja.

Eh tiba-tiba ada wacana dari Mono untuk road trip aja yuuukk! Selain karena doi gemes pengen jajal mobil baru (CIYEEEEE…), alasannya karena doi kangen sama tradisi road trip yang biasa dilakukan sama keluarganya dulu jaman dia masih kecil. 

Btw, jaman dulu road trip memang jadi tradisi keluarga ya. Mungkin karena tiket pesawat masih mahal, makanya orang-orang banyak yang memilih jalan darat. Gue juga lumayan sering kok road trip, tapi palingan ke Anyer, Bandung, paling jauh ke Jogja.

Back to wacana road trip, reaksi gue ketika Mono melempar wacana tersebut tentu saja ada dua, YES and NO.



Aku sih YES:

-          Daru has been so cooperative when in car. Dia bisa tidur sangat cepat dalam hitungan menit ketika masuk mobil, dan bisa tidur lamaaaa banget di mobil. Beda di pesawat di mana dia penasaran dan pengen eksplor ke sana ke mari.
-          Dengan mobil, tentunya lebih banyak tempat yang bakal dikunjungi. Nggak cuma Malang tok, pilihan tempat yang dikunjungi pun bisa lebih banyak.
-          Dengan naik mobil, nggak usah ribet sama bawaan dan gak capek jalan kaki.

Aku sih NO:
-          Emang sih Daru bisa tidur lama di mobil, tapi paling banter juga 4 jam. Sementara perjalanan road trip ke Jogja (check point pertama) kan minimal 12 jam boookkk! Jadi aku kudu piye? Bawa 10 kardus mainan? 10 container cemilan? 10 jenis kelitikan berbeda, biar anaknya ter entertain selalu?
-          Harus ekstra SABAR yang pastinya ya. Karena nggak ada mbak, nggak ada yang bantuin, nggak ada yang nyuapin, nyebokin apalagi,plus harus tambah fungsi jadi badut pesta sama penyanyi selama di perjalanan.
-          Mono sebenernya cuti sepuluh hari, dan kami akan berangkat di tanggal hari pertama ia cuti. Tapi sayangnya di hari terakhir ia cuti, akan ada nikahan sepupu gue, jad mau nggak mau kan kita harus pulang dua hari sebelumnya (supaya bisa istirahat sehari sebelumnya --> pembelaan zompo). Traveling buru-buru itu nggak enak banget deh!

Tapi akhirnya setelah melalui berbagai pertapaan dan persemedian, keragu-raguan menjurus ke YES. I will take the risk! Biarlah rontok badan ini, tapi rasa penasaran akan terpuaskan!



Persiapan dan Ekspektasi:
Nggak ada yang istimewa sih, dari segi baju, baby gear macam gendongan, sampe makanan, cemilan, ataupun bawaan mainan.  Tapi yang dibikin beda kali ini adalah layout mobil. Biasanya kan, Daru duduk di car seat. Tapi nggak mungkin kan ya berbelas-belas jam harus duduk di car seat, ga kebayang crankynya bakalan kayak apa.

Jadilah kita mengubah bagian belakang mobil menjadi semacam tempat tidur, yang biasa dilakukan di Indonesia kalo lagi musim mudik.Teknisnya atuh lah yaa, sang suami yang mengurus (bini gak mau tau apa-apa hahahaa).. Intinya sih melipat jok belakang sehingga mobil jadi lebih luas buat Daru tidur dan menunaikan hobinya main mobil-mobilan. Diharapkan, dengan layout demikian maka trip kali ini akan aman sentosa.. Amieeen…

Ya beginilah kira-kira. Carseat tetap dibawa buat jaga-jaga kali aja Daru bosen

Kenyataan:
Ada sih saat-saat Daru anteng main mobil-mobilan di belakang, tapi…. Banyakan keponya ni anak! Saat terlama dia di belakang sementara emaknya bisa duduk di depan adalah saat doi bobo (kurang lebih 3-4 jam).  Habis itu doi minta ke depan dipangku. Hal ini merupakan tantangan tersendiri buat gue, apalagi sang bapake memilih jalur Selatan saat berangkat. Jalur selatan kan… kan.. kaan.. Cuma dua jalur dan harus bersaing sama truk-truk. Kalo truk depan kita lambreta, Mono mau ga mau harus nyalip dan sambil kebut-kebutan biar ga tabrakan sama mobil yang lawan arah sama kita.



HIIIIHHHH..

Kondisi ini bikin gue cukup setres, sehingga mendingan gue pindah ke belakang aja dah sama Daru. Daripada ngeliat nyawa dipertaruhkan di depan jidat. Nah, duduk di belakang juga tantangan tersendiri. Daru anteng kalo udah nen, tapi pas dia mo main mobil-mobilan, jadinya tempatnya sempit karena kehadiran gue. Jadi yang ada doi kesel-kesel sendiri. iPad? Ngga bisa diarepin. Selain karena iPad yang kami miliki hanya bergantung WiFi, Jangan harap di tengah sawah dan pepohonan di pulau Jawa ada sinyal. Satu-satunya hiburan adalah lagu “The wheels on the bus go round and round, round and round, round an round, the horn on the bus goes beep, beep, beep.. dst dst” dinyanyikan oleh saya sendiri 349043923 kali. 

Karena udah bosen nulis trip report per hari (plus ga selese-selese), makanya gue berniat bikin tulisannya dalam satu post ini. Nextnya mau review-review tempat-tempat yang menurut gue menarik. Bear with me ya pemirsa! *ada yang baca? Krik krik*


Rabu, 27 Mei 2015: Perjalanan BSD-Jogjakarta

Kami berangkat pagi banget, jam 5. Jam segitu sih Daru masih molor. Akhirnya kami ngegotong anak subuh-subuh dari tempat tidur sampe mobil. Udah kayak pelaku penculikan deh kite..

Di rest area KM 42, sekitar jam 7 pagi,  Daru bangun dan kita sarapan di Burger King. Habis sarapan, Daru tidur lagi sekitar 3 jam. Perjalanan lanjuuuut terus sampe Banjar, Jawa Tengah. 

Udah pernah denger yang namanya RM Pringsewu? Promonya luwar biasah pemirsah. Jika promo itu ada dua jenis yaitu ATL dan BTL, mungkin RM Pringsewu menganut sistem BW alias BRAINWASHING alias cuci otak.

Dari 50 kilometer sebelumnya, kita udah diingetin, eh makan di Pringsewu ajaa lewat bannernya. Lima kilometer kemudian.. eh elu lagiiii, PRINGSEWU bilang, ada es teh manis gratis lhooo.. Jalan lagi 1 km, PRINGSEWU bilang eh kita punya musholla lhoooo.. 175 meter selanjutnya: KITA ADA JUS GRATIS SAMPE JAM 4 LOH! 

 Gituuu terus gimana gak brainwashed?

 Akhirnya, kita makan di Pringsewu yang ternyata.. 

Biasa aja. 

Makanannya biasa, saungnya juga biasa (malah agak kotor), makannya sedikit mahal, dan WC-nya 
lagi renovasi.. Hihhh *beri tatapan Leily Sagita* Sumpah antiklimaks! Tapi lumayan lah, di sini Daru bisa ganti popok dan ganti baju supaya lebih nyaman lagi tidurnya.

Perjalanan terus melaju hingga lahir batin ini udah lelaaaah ga sampe-sampe dan bibir udah ledes nyanyi, akhirnya kita sampe Jogja jam… 9 MALAM! Antara mau tebar confetti karena bertahan di mobil bersama toddler dalam waktu 16 jam ato mo pingsan duluan.

Seperti biasa, langsung nangkring di kasur hotel..

Tibalah kami di Lokal Hotel. Karena udah malam, nggak mungkin ya mau cari-cari makan di luar. Udah rontok sebadan-badan, persyaitooon dengan kuliner enak di Jogja. Kita mamam di resto aja yah qaq..

Malam itu Lokal Resto lagi rame. Padahal hari itu hari Rabu lhoo.. Mungkin karena posisinya yang deket sama kampus, jadi enak buat tempat nongkri-nongkri. 

Makanannya, enak. Review menyusul yaaa.. Supaya postingan ini nggak terlalu panzang.

We just had to call it a day. Tepaaaarrrr...

  

Kamis, 28 Mei 2015: A Day in Jogja



Hari ini rencananya mau jalan-jalan di Jogja, tapi nggak ngoyo sih. Karena semalem nyampenya juga udah malem, pengennya santai-santai aja nggak langsung buru-buru pergi. Berenang dulu kali yaa? Yuuk..



Setelah berenang kami pun berangkat jalan ke museum Ullen Sentalu. Museum yang menampilkan sejarah Jogja ini memang bikin penasaran karena reviewnya selalu bagus. 

Nah.. satu lagi nih yang nggak boleh dilupain kalo bawa anak kecil, kita mesti ceki-ceki tu tempat mistis apa ngga. Sebenernya sih gue ngga curiga kenapa Daru nangis terus selama di museum, gue pikir karena panas aja udaranya. Pas udah pulang, ditanya sama salah seorang temen, “Eh anak lo rewel nggak selama di Ullen Sentalu?” Gue jawab iya. Eh dia malah lebih parah, anaknya nangis terus ampe malemnya pun nggak bisa tidur. Hiii..

Selain museum ini memang detail dan indah banget, guidenya menjelaskan dengan jelas dan ambisius,  suasana magisnya memang sangat terasa. Apalagi di ruang pertama yang dimasuki mirip sejenis goa gitu, berisi lukisan-lukisan para Sultan dan keluarga yang menyerupai aslinya. Bahkan ada satu lukisan 3 dimensi yang katanya mengikuti mata yang memandang. Gimana gak ngeri keren? 


Di luar suasana magis dan mistisnya, museum Ullen Sentalu sangatlah menarik buat dikunjungi. Tempatnya menyerupai labirin, dan di dalam labirin ada kamar-kamar yang suasananya beda tiap kamarnya. Ada ruang syair, ruang batik, apalagi yuaaa..  Maap, lupa-lupa inget ya *maklum bawa bocah rewel* Dan ada satu ruangan kita dikasih ramuan jahe yang rasanya seger banget. Namanya minuman Ratu Mas.

Bisa senyum lagi setelah keluar dari labirin :O

Selesai tur, kami akhirnya boleh mengambil foto di taman. Tamannya indaaah sekali, hijau banget dan ada kolam bunga teratai. Pokoknya instagrammable sekali deh.



Dari Ullen Sentalu, kami mau beranjak pergi. Bingung sih tadinya mau ke Malioboro, atau resto Jejamuran? Tapi kami langsung belok kanan ketika menemukan coffee shop yang lokasinya nggak jauh dari museum Ullen Sentalu.

Epic Coffee & Epilogue Furniture, ternyata memang seepik namanya! Merangkap sebagai coffee shop dan toko furniture, bikin tempat ini menyenangkan banget. Review menyusul ya.



Hari pun ditutup dengan makan malam Mie Jogja pak Pele yang terkenal di alun-alun kota Jogja. Enyaaakk…


Jumat, 29 Mei 2015: Perjalanan Jogja - Malang

Siap-siap!!! Hari ini kita akan melakukan perjalanan Jogja-Malang. Insya Allah, perjalanan diprediksi nggak akan terlalu panjang, sekitar 8 jam sajaaa. Peran badut ancol pun harus dijalani dengan hati ikhlas dan sabar. Kami berangkat dari Jogjakarta sekitar jam 10 pagi, daaan…. nyampe di Malang jam 8 malam.
 
Karena Malang adalah kota tempat di mana saudara-saudara Mono berada, maka kami selama di Malang nggak nginep di hotel. Eh kecuali saat di Batu nanti.

Kami sampai di rumah tante-nya Mono sekitar jam 8 malam. Nggak mau mikir, langsung unpacking makan apa aja yang ada, bobo!


Sabtu, 30 Mei 2015 : A Day in Malang

Bangun dalam keadaan lumayan seger, dan rencana yang slowwww. Rencana utamanya adalah silaturahmi di rumah eyangnya Mono. Eyangnya Mono usianya udah hampir 90 tahun, tapi masih sehat, seger dan masih bisa masak sendiri lho.

Mampir di rumah Eyang ini kedua kalinya buat gue. Terakhir tahun 2012 lalu waktu masih jadi penganten baru.  Yang gue inget dari rumah Eyang itu adalah suasananya yang nyaman, adem,  tenang banget, bikin gue jadi ketiduran melulu. Gawat ini.
.
Eh yang kedua ini… podo waeee! Gue yang lelah karena road trip ini sempet ketiduran pas Daru lagi main, trus tidur lagi pas Daru minta nenen. Jadi total gue tidur dua kali di rumah Eyang dalam satu hari! 

Setelah siloturohmi slash istirohat slash bobo berkepanjangan di rumah Eyang, eh masih sore. Karena kita anaknya hipster, jadinya mampir ke museum ama ngopi (LAGII?).  Tujuan kami kali ini adalah Museum Malang Tempoe Doeloe, sama Java Dancer Coffee. Review menyusul yaaa!





Minggu, 31 Mei 2015 : To Bromo We Goooo!


Salah satu agenda yang kemaren lumayan gagal saat kunjungan ke Malang tahun 2012, adalah tujuan ke Bromo. Karena timingnya kurang tepat yaaa.. Masa lagi musim hujan, kite ke gunung.. Yang ada ya lepek..

Pas banget tahun ini kami ke Malang saat bulan Agustus, di mana matahari lagi lucu-lucunya. 

Sayangnya, jadwal ke Malang harus banget hari Sabtu? Saat it lagi long weekend pula. Karena sekarang, Bromo itu sekarang jadi tujuan liburan mainstream dan bukan saat yang tepat deh mengunjungi Bromo saat weekend.


Ya begitulah jadinya, sunrise indah sih dapet, tapi suasanaya udah cem konser. Tongsis are all around, manusia pose peace di kiri-kanan-serong depan-belakang. Belom lagi drama Daru kedinginan di atas Penanjakan. Aaaaaakkk.. 


Malamnya setelah dari bromo, kami bertiga cus ke Batu. Nginep di hotel Kampung Lumbung dan ke Batu Night Spectacular (dalam keadaan super ngantuk dan hampir koit).





Until tomorrow!



Senin, 1 Juni 2015: Museum Angkut, Batu Secret Zoo


Hari sayang anak, sayang anak! Karena semua tujuan hari ini adalah untuk memnyenangkan hati anak, yaitu kesukaannya akan mobil (Museum Angkut) dan hewan (Batu Secret Zoo).


Boong deng.. Bapak emaknya juga menanti-nanti kunjungan ke dua tempat ini. Apalagi kan review Museum Angkut sama Batu Secret Zoo seru-seru ya.





Tapi sepertinya penempatan itinerary untuk mengunjungi kedua tempat ini dalam satu hari kurang tepat adanya. Why? Karena ternyata seharusnya 1 hari dikheseuskan untuk satu tempat aja, terutama Batu Secret Zoo yah yang ternyata… luasss bingit!





Minal aidin wal faizin dulu kali ya, karena udah underestimate Batu Secret Zoo. Ta’kira modelnya kayak Ragunan. Museum Angkut juga nggak luput dari ke-underestimate-an saya, yang tak disangka tak dinyana butuh sekitar 3-4 jam untuk eksplor semua *sungkem*





2 Juni: Malang-Solo


Today we have to say good bye to Malang, and to Solo we go!


Bingung juga sih tadinya mau stop di Semarang apa Solo, tapi akhirnya kami memilih Solo dengan pertimbangan yang cetek..  makanannya lebih enak-enak! Selain itu kami juga penasaran kayak apa sih kota yang tadinya dipimpin sama Pak Presiden kita ini. Ciyeee..



Perjalanan Malang-Solo hampir sama dengan perjalanan Jogja-Malang, sekitar 8 jam. Tapi kami sampe Solo nggak malem-malem amat, sekitar jam 7 soalnya berangkat jam 10 dari Malang.
Check in dulu di hotel Rumah Batu yang bikin jatuh cinta lagii.. Oh kujatuh cinta lagii.. Gimana nggak jatcin, untuk dua malam kami menghabiskan Rp 770rb, view-nya sedikit rasa Bali, dan spa-nya.. Heaven! Review is here.






Setelah check in di Rumah Batu, kami makan malem di Sumber Bestik Pak Darmo. Pesen, duduk, beli buku mewarnai murah meriah biar Daru anteng dikit, terus ngeliat sosok kayanya familiar deh di ujung situ, nggak jauh-jauh amat.



Yaa amvlov, itu kan.. kan.. Anak sulungnya Yokowi bersama (yang saat itu masih jadi) calon estri! Makan berdua aja gitu di pojokan, serasa rakyat jelata!

FYI, Sumber Bestik Pak Darmo ini walaupun terkenal seantero Solo (bahkan jadi tujuan wiskul dari kota lain), tempat ini nggak fancy samsek. Semacem warung gitu lah, yang lantainya jarang di pel, ada penjual sama pengamen kelilingnya, meja dan tempat duduknya kayu panjang cem bangku panitia. Jadi kan, mana ekspek, ketemu anak Presiden di sini? Makin sukaa deh! *mulaaaai mulaaaiii politiiissss*

Tangan langsung gatel pengen potrek (naluri ibu-ibu infotainment), tapi kacian karena semua meja kayanya juga merhatiin mereka. Gibran (nama anaknya Yokowi) sama Selvi (sang calon estri) nggak mungkin sih nggak nyadar. Terus aja Mas, diutak-atik hapenya sampe ngehang. Hahaha.. Ajaibun bin kebetulun banget sik, nyampe Solo langsung ketemu anak Yokowi!




3 Juni: Keraton Surakarta


Sumpah hari ini udah ngga tau mau ngapain. Agenda wajib sih pasti berenang dulu di pagi hari (namanya juga sama bocah). Sempet mikir ke mall yuk, udah lama ga ngemol hahahaha.. Tapi yaudah deh kita kan lagi traveling, harus tetap berbudaya ya.. Hedonismenya diterapkan di ibukota aja ya, nak? Iya dah..


Jadilah kami ke Keraton Surakarta. Sampe sana, udah hampir tutup (jam 3 sore) jadinya kita turis terakhir yang diberi guide. Pertama kita dibawa ke pasir keraton Surakarta, setelah dari situ kita bisa eksplor sendiri museumnya.







Dari segi koleksi, bangunan, keraton Surakarta nggak banyak mengalami perubahan, tapi tetep indah. Tapi sayang, menurut gue keraton Surakarta saat ini sedikit kurang terawat ya. Koleksinya berdebu, ruangannya bau aneh, dan suasananya agak mistis, terutama di ruangan koleksi yang sepi dan lagi ga ada pengunjung.  Tetep ya urusannya mistis...



 Yang juga kurang menyenangkan dari kunjungan Keraton Surakarta ini adalah tukang foto kelilingnya. Begitu sampe gerbang, kita langsung disamperin sama kang foto yang sigep angkat kamera.  Insting emak-emak kayak gue langsung sigep juga nolak, “nggak ya, pak!” sambil pasang muka galak. Eh kang fotonya bilang, nggak dicetak kok Bu. Yaudah  kita pasrah aje pas difoto.

Eh pas mau pulang, si kang foto (bukan yang tadi, kayanya komplotan) tiba-tiba nyamper ngasih foto kita ukuran gede, hasil printingnya jelek, dan langsung matok harga 35ribu. GIlaaa ngajak ribut banget nggak sih! *singsingkan lengan*


Mau murka nggak sih, katanya nggak dicetak, trus apaan nih ujuk2 dateng trus nyuruh bayar. Kaya gini nih menurut gue termasuk pemerasan. Kitanya nggak niat beli, tapi dipaksa karena udah jadi. Capek argumen, mau ngga mau deh akhirnya gue ambil tuh foto yang buruk dengan harga 25 ribu, daripada dikata ga ngasih hak orang. *ZBL*KZL*

Beware ya, ibu ibuuu!

Tapi pengalaman di sini nggak semuanya menyebalkan kok. Sebelum ketemu kang foto tukang tagih tadi, gue sempet nyarter becak buat keliling. Soalnya Daru belom pernah ngerasain naik becak. Eh nggak disangka, pengalaman naik becak ini ternyata menyenangkan buat gue dan Daru. Soalnya selain nganterin keliling, kang becaknya gak pelit ngasih info tempat-tempat di sekitar Keraton. Sempet berhenti juga di kandang kerbau albino yang katanya merupakan pusaka penting keraton lho. Klenik banget deh.. Infonya bisa dibaca di sini http://srandil.com/2014/11/05/sejarah-kerbau-kyai-slamet-kraton-surakarta-solo/.

Dari Keraton, kami beranjak ke Museum Batik Danar Hadi. Niatnya cuma beli batik doang sih bukan mo jadi turis museum hehehe..Karena sekalian belanja batik, bisa juga lho jalan-jalan sambil tour museum di sini lengkap dengan private guide. Tiketnya 25 ribu, tapi jam bukanya cuma sampe jam 4 sore. Buat yang suka batik, cuuusss…

Malemnya, makan di Nasi Liwet Yu Sani dan pijet di Spa-nya Rumah atu. Both of them are heaven on  earth. Review soon!


4 Juni: Solo- Jakarta


Akhirnyaaa! Today’s the day when we were gonna wrap up all the trip, all the mess we made in the car, all the dirty laundry (tons of them!), all the craps we ate, and all  wonderful slash terrible slash funny memories. Pulaaaangg…


Berangkat dari Solo jam 10 pagi dan belum sarapan, akhirnya kita ubek2 foursquare lagi buat cari sarapan yang yahud. Berhentilah di Soto Seger Boyolali yang rame banget, dan ternyata rasanya.. Enakkk banget! More on this on review.



Setelah sarapan, gue tepar sampe 3 jam di jalan bareng Daru. Bangun-bangun langsung ngerasa bersalah sama Mono yang nyetir nonstop dari kemaren. Hehehe.. Akhirnya setelah makan siang, gue nawarin gantian nyetir, yang disambut dengan hangat oleh suami. 



Sejujurnya gue agak deg-degan juga sih. Nyetir Jakarta-Bandung aja nggak pernah, ini nyetir lewat Pantura yang konon serem karena banyak “orang iseng”nya. Belum lagi Daru yang saat itu masih suka minta nenen, cem mana gue bisa ngasi tetikadi kalo lagi berjibaku sama jalanan? Tapi diberani-beraniin deh, daripada Mono kehilangan kesadaran pas nyetir? Lebih ngeri lagiii…



Alhamdulillah, dari Tegal sampe Cirebon, perjalanan lancar jaya. Bahkan sempet lewat tol yang gue ga tau namanya, sebelum Cipali (karena saat itu Cipali belum jadi), kosong melompong nggak ada saingan. Kebutlah akika sampe 120km/jam. Cie banget nggak sih? Dari Cirebon sampe tol Cikampek Rest Area KM  62, Mono nyetir lagi. Dan gantian sama gue dari situ sampe rumah, jam 10 malam lewat sedikit.

FIUUUHHHHHHHH….

Lelah lahir batin, badan rontok, bau ketek, pengen pipis, bau jigong, semuanya deh jadi satuuuu! Tapi Alhamdulillah semua selamat, sampe di tujuan sehat dan nggak ada yang sakit. 

Overall, gue bersyukur karena gue pilih YES untuk roadtrip kali ini. Why? Karena Daru mendadak tambah pinter sepanjang perjalanan, tiba-tiba bisa ngomong “DUA”jelas banget, terus “TRUK”, mungkin karena sepanjang perjalanan itu lagi-itu lagi yang dilihat. Hahahahaha.. antara bahagia sama kasian.. Kedua, di trip ini, mungkin karena kebanyakan foto, tu anak mendadak bisa kep smail kalo disuruh. Walhasil bahagialah kita tiap liat foto-foto, hihi.. . Gue pun gembira karena sadar eh ternyata banyak yah hotel bagus di Pulau Jawa, nggak kalah lho sama Bali! *cetek amat*

Tapi, kalo ditanya mau lagi nggak road trip dalam waktu dekat? Mungkin jawabannya, enggaaaaakkkk… *nginep di tempat pijet*

 


 
 

11 comments:

  1. ah parah deh seru banget road tripnya.
    aku puuuun terinspirasiiiii... same condition here, bapake udah gemesh mau nyobain mobil baru, tapi emaknya masih bimbang, apakah sanggup road trip sama anak umur 18 bulan????

    kudu semedi 7 hari 7 malam.. semoga hasilnya pun sama kayak mba : YES!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Cakra, terima kasiiih.. Yuuk jangan raguuu! Seru lhooo.. Kalau belum berani, ke Jogja aja dulu hehehe..

      Delete
  2. seneng bacanya...jadi dah ada bayangan nih mbak mau ke malang :)

    ReplyDelete
  3. Panjang juga ya ceritanya, tapi seru bisa traveling ke beberapa kota, sejauh ini aku cuma ngubek2 malang aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuuk dicoba ke kota lain! Makasiih udah baca :)

      Delete
  4. ini trip yang aku pengen banget JAKARTA - JOGYA - MALANG. aku bawa 2 anak, 1 umur 12 thn yg kecil umur 4 thn. emang yg paling dikhawatirkan adalah bukan capenya atau macetnyah tapi apakah anaknya cranky apa ngga diperjalanan.
    jadi gak sabar pengen road trip lagi hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat mbaaak! Nanti jadi kenang-kenangan yang lucu :)

      Delete
  5. Peh...makan anak lw gmn? Kasih tips dong.. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuliteee, anak lo umur brapa? Soalnya wkt itu anak gue udah hampir 2 thn. Susah makan pula. Walau ngikut gue makan selama di jalan, tapi gue sedia abon takutnya dia nggak mau makan sama sekali sama menu restoran. Tapi emg selama liburan, makannya jadi nggak sehat sih karena skip sayur dan buah juga hahahaa. Jangan ditiru yak! Kalo anak lo doyan makan sih enak, plus beli2 buah aja di perjalanan biar seratnya juga cukup. Cuuusss...

      Delete
  6. Peh..kasih tips gmn makan c bocah slama traveling dong.. Hehe

    ReplyDelete