Thursday, June 25, 2015

Australia (Melbourne & Sydney) Trip Day 6: Paddington Markets & Paddy's Market

Sabtu, 27 September 2014

It’s our last day in Sydney!

Seperti biasa, akhenda kalau lagi jalan-jalan, hari terakhir tentunya nggak jauh-jauh dari urusan belenjong! Tujuannya memuaskan keinginan para sanak saudara di rumah alias beli oleh-oleh, dan keinginan diri sendiri doong..


Paddington Markets
I love local markets! Jadi, gue hepi karena menu hari ini adalah liat-liat Paddington’s Markets di Paddington, dan beli oleh-oleh di Paddy’s Market.

Gue tadinya juga bingung, sebenernya bedanya apaan sih antara dua pasar yang namanya mirip-mirip ini?

Beda banget, shaeee…

Paddington’s Market adalah sebuah curated market, yang diselenggarakan tiap hari Sabtu di Paddington Church.  Yah mirip-mirip sama hipster market ala Brights**t di Jakarta, karena barang yang dijual pun produksi lokal dan hand-crafted. Mumpung hari terakhir kita di Sydney hari Sabtu, kenapa nggak jajal aja? Apalagi rutenya nggak jauh dan gampang dicapai, jadilah kita pergi naik bus ke Paddington di Sabtu pagi nan ceria ini.



Paddington Markets diselenggarakan di halaman gereja Paddington yang juga merangkap sekolah. Suasananya hangat dan menyenangkan banget. Para penjual stall-nya sepertinya udah saling akrab, bau makanan hangat menyeruak (((MENYERUAK)), Anak-anak berkeliaran dan main-main di playground, soccer moms, hipsters are sunbathing (because sunbathing in Bondi is too mainstream), dan yang pasti ada… Asians with their tongsis. Teteup…



Kesan-kesan begitu sampe? Ya rabbi ya salam alaika, aku pengen beli semuanya! Tapi mungkin harus panen pohon duit di Swiss yang gak pernah ada dulu kali ya! Soalnya mahal-mahal banget sihh.. Tapi emang barangnya lucu-lucu banget dan hipster banget..

Yuk kita telaah satu persatu..

Arts for your home

Sabun-sabun organik

Kalo ngga inget harga dan kapasitas koper.. Mau banget deh!

Indomie as an art :)) Hampir beli tapi bingung nyimpennya gimana di koper?

mainan-mainan kayu yang bikin GMZ


Fresh vegetables juga adaaa...

Wangi banget deh berdiri di sini



Ada satu stall mainan kayu yang bagus-bagus banget ini. Penjualnya kakek-kakek ramah.


Dia nanya, “Where are you from?”

Kita jawab, “Jakarta, Indonesia.”’

Si kakek nanya lagi, “Wow I’ve heard that traffic jam is so bad there.”

I rolled my eyes and said, “Trueee..”

Terus dia nanya lagi, “If you could choose, would you rather live here? You can drive 2 hours and find NOTHING. NOTHING, just desert. If you’re lucky you’ll meet kangaroo,” katanya sambil ketawa.

Dan gue jawab, “In Jakarta you sit 2 hours in a car and you’ll go nowhere, sir. Hahaha…”

Kek, kok ngasihnya pertanyaan retoris sih.. Btw, karena si kakek lucu dan kita juga gemes sama jualannya, akhirnya kita beli mobil mainan truk buat Daru. Bisaan deh si grandpa..

Ngga cuma barang-barangnya aja yang lucu, makanan yang dijual juga enak-enak dan instagrammable. Contohnya ini. Apa ya nama makanannya aku lali.



Terus ada berbagai juice yang seger banget yang cucok banget di hari yang panas. Kebanyakan sih kayak hot dog, Himalayan food, indian food, semua dijual dari food truck. Ini Paddington apa marketmuseum?


Satu lagi, nggak komplit rasanya kalau acara makan nggak diiringi pengamen alias street musician Sydney yang sudah berumur, tampan, dan menyanyikan lagu Lucy in The Sky. Sah sudah kehipsteran jalan-jalan kali ini!
video



Pas keluar, Ada stall yang menjual chocolate truffle, iih so sophisticated ya namanya. Prasaan baru denger kata truffle itu dari Masterchef. Yaudah beli yuk, kata Mono, cuma dua dollar ini.

Rasanya..

Kayak upil dikasih ekstrak vanili.

Kita berdua nggak ada yang sanggup ngabisinnya, huahahahaha.. chocolate truffle adalah pembelian kita tergagal di hari itu. So long vintage-hipsterish market!


Paddy’s Market
Setelah menginjak siang hari, kami pun beranjak ke Paddy’s Market. Paddy’s Market terletak di Haymarket, di daerah Chinatown, dan di dalam gedung Market City. Nah loh, njlimet..

Jadi, Paddy’s Market adalah nama pasarnya, Market City adalah nama bangunan tempat pasar ini berada, tepatnya di lantai bawah, Haymarket  adalah nama distriknya namun sering disebut Chinatown karena memang banyak imigran dari China yang tinggal di sini. Jadi nggak heran kalo di sini juga dijual berbagai mie instan China.. dan barang-barang yang dijual pun made in Tiongkok.




 
Image from Wikipedia


Walaupun judulnya pajangan Sydney Opera House, baju gambar koala, topi kanguru tetep aja Made in Tiongkok. Makanya harganya pun murah-meriah, cucok banget buat beli oleh-oleh borongan. Pajangan 2 dolaran, gantungan kunci 50 sen, kaos 4 dolaran, dsb dsb.  Kalau mau beli boomerang-boomerangan juga ada. Lah gue aja sampe beli oleh-oleh buat mbak segala, plus buat suami dan anak-anaknya kali aja sogokan made in cina gue bikin doi ga pulang pas lebaran. *yakeles*


Image from here


Image from tripadvisor


Image from here

 Para kokoh dan cici di sini pun udah familiar sama yang namanya tawar-tawaran. Bahkan ada satu kios yang si cici faseh banget bahasa Indonesia-nya, yaitu kios kaos. Mungkin doi juga udah kenyang ditawar dagangannya sama para Indonesian, hehehe..

Selain Paddy’s Market-nya, Market City juga lumayan sebenernya buat belanja murah-meriah. Ada pasar segarnya juga lho kalo kebetulan cari bahan makanan buat masak *alerted because of emak2ness*. Oiya, walaupun Market City buka tiap hari, tapi Paddy’s Market cuma buka dari hari Rabu sampe Minggu.
Kinky banget nggak sih? :)))

Karena ceklis barang-barang oleh-oleh udah kebeli semua di Paddy’s Market dan barang-barangnya memang kurang menarik, Mono ngajak balik aja ke hotel yuk.. Yuukkkk…


Fish on Fire
Untuk makan malam di hari terakhir ini, gue dan Mono mengincar Fish and Chips nya Sydney. Soalnya kan, nggak sempet ke Sydney Fish Market (yang seafoodnya terkenal endes banget), jadi kita cari deh di Foursquare mana resto Fish and Chips yang paling juara.



Menurut rating, yang paling enak ya Fish On Fire, di daerah Glebe. Karena nggak jauh dari hotel kami, kami jalan kaki aja ke sana. Resotnya ternyata kecil banget, paling bener sih emang takeout aja kalo mo makan di sini soalnya tempatnya sempit. Untung Daru lagi tidur, jadinya kami nggak ribet harus mangku-mangku dan jadi entertainer alias badut pesta (seperti biasa).


Soal halal nggaknya makanan di Fish on Fire, hmm.. Nggak yakin juga ya! Hahahaha.. Soalnya kan setiap fish and chips di Australia itu kan pasti beer-battered. Maaf ya Allah.. kalo di Jakarta, virginitas akan beer di bibir ini gak perlu diragukan deh.. *tetep aje tong*

Harga makanan di sini lumayan mahal. Minimal 10 dolar untuk satu porsi fish and chips aja. Kalo mo komplit pake seafood, harganya 14 dolar. Mengingat kurs dolar Australia yang lumayan sadis (10 ribuan saat itu. Ini udah pake ngais-ngais receh di hari terakhir),  gue pesennya nggak mau yang mahal-mahal ah! Jadinya pesen Fish and Chips aja, yang deskripsinya: Cooked in a light crispy batter with beer battered chips and lemon (Aduuh.. HAROM! HAROM!) yag harganya AUSD 10. Sementara suamik pesen menu yang lummayan lengkap: Mixed Seafood Grill, yang isinya potongan ikan, gurita, cumi, udang, clams, salad, lengkap sama chips dan saus tartar, yang harganya 14.50 AUSD. Nggak apa-apa deh, istri soleha kan harus menghemaat, menghematt..

 
Mixed seafood grill.. Super loveee

Fish and chips yang biasa aja

Niatnya hemat, ujung-ujungnya penyesalan. Soalnya menurut gue Fish and Chips yang gue pesen rasanya standar aja, eleven twelve deh sama Fish and Co! Sementara punya Mono sungguhlah lezat, semua oknum dalam piring dipanggang dengan sempurna, lengkap dengan saus salad-nya yang tangy dan tartarnya yang creamy cucok banget bak jodoh. Saladnya juga enaaakk.. Akhirnya yang ada makan sepirdu alias sepiring berdua dan gua eikutan ngembat makanan Mono. Hehehehe..

Sekianlah sekelumit dari perjalanan kami di Australia. Sebenernya cerita belum selesai, karena masih nyisa cerita sepak terjang Daru di pesawat menuju Jakarta, yang bikin sakit pinggang dan gue kehilangan nursing cover Bebe Au Lait yang harganya tidak terjangkau. Maklum, itu bukan night flight dimana jam Daru bobok. Sepanjang aisle pesawat dirangkakin, and no sleep at all!

Tapi, kami belum kapok, karena cerita traveling selanjutnya adalah road trip menuju Malang! *encok dua minggu*

.

1 comment:

  1. Kaget liat ada Indomie art disana hahaha btw Thanks for review :)
    Watch movie
    Watch movie HD

    ReplyDelete