Thursday, April 23, 2015

Australia (Melbourne & Sydney) Trip Day 5: Taronga Zoo, Circular Quay

Jumat, 26 September 2014


Hari diawali dengan santai, lebih karena udah sedikit tepar kaki ini. Kadang aku suka iri, pengen naik stroller.

Tujuan hari ini adalah Taronga Zoo. Yeaaay, finally a zoooo!


Di usia 7 bulan, Daru pernah gue ajak bertigaan ke Taman Safari. Saat itu dia masih takut sama binatang tapi terlihat excited banget. Dan jujur aja gue suka banget liat reaksi anak kecil yang lagi lihat binatang. Excited dan amazed-nya itu yang lucu warbiyasakkkk…

Why Taronga Zoo and why not Melbourne Zoo?? karena setelah baca berbagai review, Taronga lebih layak dikunjungi dibanding Melbourne Zoo. Apalagi karena lokasinya yang berada di seberang harbor, jadinya memang Taronga Zoo itu lebih unggul karena keunikannya.

Lokasi Taronga Zoo itu berada di seberang Circular Quay, lokasi di mana Sydney Opera House berada. Dari sana, kita bakalan naik ferry. Karena itu, kami ke Central Station dulu untuk naik bis menuju ke sana. 

Bedanya Melbourne dengan Sydney, di Sydney transportasi bus lebih banyak daripada tram. Kalo di Melbourne ada tram gratis untuk mengelilingi Melbourne City, maka di Sydney ada juga bus gratis menuju Circular Quay dari Central Station.

Kami keliatan banget turisnya ketika naik bus dari Central Station. Maklumin aja yah, kita kan ribet bawa stroller, dan belum tau aturan naik bus di sini. Ternyata di Sydney, kalo naik bus membawa stroller, kita harus melipat kursi di depan (disable chair) supaya ngasih ruang buat si stroller. Jadi stroller nggak boleh nangkring di tengah. Gue sama Mono gak paham pas supir busnya bilang, “Fold the chair! Fold the chair!” LAH EMANGNYA TU KURSI BISA DILIPET YA? YANG MANA PAK YANG MANAAA? *panik*

Kayanya sang supir udah kesel, sampe dia bangun dari tempat duduk dan ngelipetin kursinya buat kita. Kekekekeekkk.. Ya maap pak….

Setelah perjalanan bus selama 20 menit, we touched down Circular Quay!
oma ini sadar kamera sekali..

Sydney Opera House dari kejauhan

selfie 1

selfie 2

selfie 3



Tiket masuk Taronga Zoo biayanya AUSD 44 (mahal ya mak), dan tentunya ada biaya ferry lagi untuk bolak-balik Circular Quay-Taronga Zoo.  Untungnya, ada paket tiket masuk zoo termasuk tiket PP naik ferry seharga AUSD 52 (!!!) per orang.
Kurang mahal aposeh saudara - saudari? Untuuuung ya nak, umur kamu belum 2 tahun, jadi lumejeeeen banget bisa ngirit!


bersiap naik ferry ini

pemandangan dari atas ferry

Yang namanya high expectation itu emang kurang sehat ya, dan seringnya berakibat kuciwa. Dengan harga mahal, kami tentunya berharap lebih dong dari Taronga Zoo. Tapi setelah berkeliling 10 menit, kami berkesimpulan bahwa Taronga Zoo ini:
1.       Melelahkan. Jangan bayangin Taronga Zoo kayak Ragunan yang tanahnya rata semua. Ternyata kebun binatang ini merupakan perbukitan yang landai. Which means: perjalanannya nanjak terooos sampe atas. Lah, perasaan pengen jalan-jalan kenapa jadi Crossfit?
2.       Untuk bertemu dan berfoto dengan koala, dikenakan biaya ekstra lagi. Whatttt? Udah gitu, cuma boleh foto tok, ga boleh pegang atau kasih makan. Walaupun zoologist-nya ramah dan ga pelit kasih penjelasan, tapi tetep aja kita ga bisa sepuasnya melihat si koala karena tempatnya tertutup dan waktunya dibatasi.


3.       Despite of their unique Australian animals, Taronga Zoo itu sangatlaaaahhh.. BIASA! Cuma pemandangan gajah, burung, monyet, dsb.  Kanggurunya terlihat lema. Asli, lucuan yang gue lihat di Taman Safari!

Do you know it's tasmanian devil?

The lazy version of it.
4.       Lemur yang harusnya jadi tontonan, kawasannya tertutup dan ada jadwal show-nya. Tapi dengan kondisi area kebun binatang yang landai tadi, kan males ya bolak-balik. Jadinya kita kelewatan show lemur deh.. *ini mah salah lo sendiri maliiih*

5.       Makanan mahal. Café-nya Cuma satu, cukup besar sih, tapi harga makanannya agak bikin KZL.

Ya sudahlah, kita simak saja beberapa foto-foto hewan dari Taronga Zoo.









Satu-satunya hiburan gue hari itu.. Indahnya sayap burung merak!

So I’d say, mengutip kata Mr. Rami di sini , it was a rip-off buat tiket masuk seharga hampir 450rb per orang. Pegelnya kaki dan pengalaman yang didapet nggak se-extraordinary yang diharapkan. Pulang yuuk pulaaaang…

Jam 2 siang, kami pun udah naik ferry lagi dan sampe di Circular Quay. First thing first, tentunya mandatory family photo di depan Sydney Opera House!





Setelahnya? Krik krik nggak mau ngapain. Mo makan di salah satu café di sana, mihil. Mo pulang, males. Akhirnya kita duduk-duduk, dan gue KETIDURAN aja di bahu Mono. Ada deh sekitar 20 menitan *seka jigong*

setelah ngambil foto nggak jelas ini, gue ketiduran blas :))

Setelah tenaga terkumpul,  kemudian kami balik ke hotel untuk siap-siap makan malam. Incaran kami kali ini adalah Ramen Kan, Japanese food di daerah Chinatown yang terkenal enak (dapet rating lumayan tinggi di Foursquare, and yes. I do believe in that app :D)



At first,  gue dan Mono nggak percaya ketika sampe di lokasinya Ramen Kan. Bronx banget, broooo… Walaupun ada plangnya, tetep aja gedungnya terlihat nggak terawat. Ternyata, untuk mencapai Ramen Kan, harus naik lift ke lantai 3. Liftnya pun! Kotor, banyak bekas tempelan poster, dan sempit. Jangan-jangan ini lift menuju dimensi lain?

Alhamdulillah, bukan. Begitu pintu lift terbuka, kami disambut sama ambience restoran yang menyenangkan. Karena itu Jumat malam, nggak heran kalau Ramen Kan cukup packed, tapi untungnya kami langsung dapet seat.
Bagus ya.. ga percaya deh lokasi luarnya kayak gitu :D Picture taken from here

Menu yang gue pesen: Kaisen Don, yang lagi-lagi gue pesen karena terlalu percaya 4sq. Isinya adalah sebuah don (nasi) yang atasnya dihiasi sama raw salmon dan tuna, ditemani semangkok miso soup. Menurut gue, rasanya lumayan enak di suapan-suapan pertama, lalu kemudian menjadi boring. Mungkin karena mentah kali ya. Sensasi salmon sashimi kan, enaknya dinikmati sedikit demi sedikit.
Kaisen Don


Since the restaurant named itself Ramen, tentunya yang jadi andalannya ya ramen dong ya. Apalllagi Juminten? Makanya nggak heran kalau Shoyu Ramen yang dipesan Mono rasanya cukup enak, walaupun menurut gue masih enakan Hakata Ikkousha sih. Hehehe.. Makanan yang dibuat di Indonesia emang belum ada yang ngalahin. Tapi, buat yang pengen ngerasain ramen dan makanan Jepang lain yang cukup autentik, si Ramen Kan ini sepertinya layak coba dan paling juara di Sydney. Buuuttt, agaaaainnn,  no baby chair so it’s not kids-friendly! *ujung-ujungnya review keibuan*

Ok, until tomorrow, our last day in Australia!

No comments:

Post a Comment