Friday, February 13, 2015

Australia Trip (Melbourne & Sydney) Departure & Day 1: Touch Down Melbourne!

Minggu, 21 September 2014



Setelah grasak-grusuk tak berujung dari dua minggu yang lalu, akhirnya kita berengkit jugaaa!



Pesawat ke Melbourne akan berangkat sekitar jam 11 malam. Biasanya sih, jam segitu Daru udah molor. Tapi jam segitu doi masih seger buger. Ya, mungkin karena overstimulated, karena jam-jam dia harusnya tidur kita masih ngider di terminal 2 bandara.

Boarding sekitar jam 22.30, alhamdulillah tak ada masalah melanda. Daru? Masih belum tidur juga. Dese malah terpana dengan para pramugari dan dadah-dadah.. Ganjen deh kamu nak! Selama menunggu yang lain boarding, Daru langsung ngerangkak dan ngider sepanjang aisle.




Yang bikin gue lega hari itu… Sukur alhamdulillah, hari itu penumpang di business class sedikit banget!  Cuma ada kami sekeluarga, dan 2 orang lagi. Means less people to be annoyed!

Saat takeoff, Daru juga anteng-anteng aja. Kan, ada mitosnya tuh kalo saat takeoff, kuping bayi sakit banget. Surprisingly, nggak kejadian. Memang gue sempat baca dari blog Laila kalo kuping si kecil yang sakit saat takeoff atau landing itu, lebih banyak mitosnya. Thank God!

Sekitar 30 menit kemudian, Daru terlihat mulai rewel. Yess! Akhirnya kamu ngantuk juga naaakkk.. Akika udah mulai ngga tahan juga nih soalnya pengen molor. Disusuin sebentar, akhirnya dia tidur.

Nah saatnya ikut ke haribaan bantal! Tapi ya amplop, kenapa mata gue nggak nutup-nutup juga? Kayanya gue anxious berat, dan tubuh gue jadi antisipatif karena Daru masih suka bangun beberapa jam sekali. Mana gue suka overexcited anaknya kalo lagi traveling. Matek deh!

Gue nengok Mono, yang gue pikir udah ngorok. Eh ternyata sama! Dese melek juga nggak bisa tidur. Entah apa yang bikin the King-Of-Tidur-Dimana-Aja ini nggak bisa merem-merem juga.

So no sleep for us the parents!

Sekitar jam 7 pagi, Daru bangun. Pas banget waktunya sarapan. Untuk Daru, dia dapet jatah sarapan Heinz baby food yang rasa banana custard itu loh. Hmmm, gue sendiri bukan penggemar produk Heinz karena rasanya terlalu manis (la pan elo pengen ngasi makan anak lo bubur instan seminggu ini? Sungguh munafik!), dan bener kan, Daru juga nggak doyan. Akhirnya dia mau makan sedikit omelet sama toast gue. Duh nak, jangan banyak-banyak ya.. #serakah #laper




Senin, 22 September 2014
9AM
Sekitar jam 09.00 waktu setempat, we landed safely at Melbourne Airport. Alhamdulillah. Hup! Gue langsung taro daru di carrier, untuk mempermudah pergerakan.

Aaaand... we stepped out menghirup udara yang dihirup oleh koala dan kanguru. Oh the week of traveling! I love this feeling, the feeling of stepping somewhere I’ve never been to. *sobs*

Sesampainya di imigrasi, kami dihadang sama antrian yang panjang. Duh, mak! Harus banget yaa  ngantrinya kayak gini di imigrasi? Bener-bener mengular dan keliatan nggak ada ujungnya. Mana ternyata antriannya kurang teratur dan berantakan. Kami sempat dipindah ke line lain yang kok jadi lebih panjang? Sungguh kezam!


Di saat kayak gitu, Universe conspires to make Daru cranky.  Hadeeeehhh… Mungkin dia lelah, soalnya dari jam 7 udah sadar. Sebenernya kalo dia lagi ngantuk gitu, paling enak dibawa jalan-jalan sambil digembol. Ya tapi gimanaaa? Akhirnya di tengah-tengah antrian, gue nyanyi-nyanyi lagu “Ada Kodok”-nya si Susan (lagu yang saat itu dia suka), sambil joget di tempat, dan setelah ketawa-ketawa sebentar, dia akhirnya ketiduran. Fiuh..

Lepas dari imigrasi, kami nunggu bagasi datang dan ngambil stroller di Oversize Baggage. Setelah itu, langsung nyari taksi. Tadinya, sempet mau nyari SIM card dulu yang available di sana. Tapi pas dilihat gerai Optus, Vodafone, kok pada rame ya? Berhubung kami lagi gembol bocah dan bawaan segambreng, maka dilupakanlah dulu ya urusan SIM card yang tujuannya eksistensi digital semata ini. Yeuk…

Taksi sebenarnya mahal untuk hitungan transportasi di Australia, tapi kami sudah prepare for the worst buat urusan transportasi ini. Apalagi ketika baru sampe tujuan di mana semua barang masih nempel sama kita. Karena itu, pilihan satu-satunya ketika baru menginjakkan kaki di bandara ya teksong.

Tapi jangan khawatir, bisa dibudget sebelumnya kok. Untungnya ada lho website yang bisa membuat kita ngira-ngira ongkos perjalanan naik taksi. Buka aja www.taxifare.com.au.  Cang cing!

Cara ngantri taksi di Melbourne, sedikit berbeda sama di sini. Jadi begitu sampai di lobi bandara, ada beberapa pilihan taksi. Ada sedan, wagon, atau van. Petugas yang berada di sana, yang bakal milihin taksi tergantung jumlah penumpangnya. Dilihat dari formasi kami yang gembol bocah, makan kami disuruh antri di line khusus keluarga.  

Kami pernah denger kalo di Australia, baby seat alias car seat itu wajib hukumnya. Pokoknya, jangan harap si bayi bakalan naik mobil kalo nggak ada car seat. Eh tapi ternyata, waktu kami akan naik taksi dan nanya soal baby seat, supirnya bilang nggak usah. Entah ini supirnya yang metal, atau aturan di Melbourne nggak terlalu strict. Intinya, kalu ada apa-apa aku nggak tanggung jawab ya mas…. (Supirnya ganteng banget orang Spanish, ketauan pas lagi di jalan doi sepik pake bahasa bau-bau Yurop)


10 AM

Perjalanan dari bandara ke city makan waktu sekitar setengah jam. Nggak lama, kami pun sudah sampai di hotel Oaks on William.

Sampai di hotel, kebayang sebenernya bakalan asem banget selama 3 jam ke depan, karena kan, aturan hotel dimana-mana check-in itu jam 1 siang. Saya dan Mono udah mengalami hal itu di Hong Kong dan Osaka. That is my pet peeve of traveling (other than no guling in hotel).  Kami harus keliling kota dengan terpaksa dalam keadaan super ngantuk, bau asem, dekil dan lelah warbiyasak. It would be nice kalo kita boleh check-in duluan untuk istirahat atau mandi. Manja amat yaaa…

Tapi di sini ternyata lain ceritanya. Have you heard the sweetest sound in your life? Buat gue, salah satunya adalah ketika resepsionis di hotel Oaks On William bilang, “Ok, the room is ready. You can check in right now.”

YA ALLAAAHH… Nggak bisa dibayangin betapa leganya gue dan Mono saat itu.  Kami lelah nggak ketulungan karena nggak tidur, ditambah bayangan harus ngangon bocah, untuk beberapa jam ke depan, sirna sudah. Oaks on William, manis sekali!

Beside of the kindness for the check-in policy, hotel ini emang topppp banget. Nggak salah pilih deh eik. Lokasi? Oke banget. Letaknya di CBD, pusat kesibukannya kota Melbourne. Persis di depan Flagstaff Garden dan Flagstaff Station. Rate? Dengan rate kurang dari 100 AUSD permalam tentunya juga cucok! Mengingat kamarnya luas, berbalkon, dilengkapi dengan kitchenette dan utensil yang komplit. Mangkok, sendok, microwave, sampe sutil ada. Now I am happyyy!







Biasanya sih, kalau udah sampe hotel, kami molor dulu sebentar. Tapiiii, karena anaknya terlihat sangat giras, ya udah deh jalan aja lagi abis mandi. Cussss…



12 PM

Now where to? Sebenarnya tujuan kami hari itu adalah National Gallery of Victoria. Tapi sebelumnya, ada misi perut lapar dan pengen ganti SIM Card yang harus dipecahkan. Resepsionis pun menyarankan untuk ke Melbourne Central, karena ada gerai Optus dan Vodafone di sana.

Melbourne Central adalah semacam shopping mall tapi dilengkap sama stasiun kereta subway. Sayangnya stasiun ini bukanlah jurusan untuk keliling-keliling kota, melainkan tujuan pindah kota. Untuk keliling kota, transportasi utama tetaplah tram.

Melbourne Central

Jadi, urusan perut apa eksistensi sosmed dulu nih shae? Karena kita nemu gerai Optus duluan, maka marilah kita penuhi jati diri di sosial media kita yuk ah. Pembelian SIM card di Australia lumayan gampang. Bermodalkan paspor, kita sudah bisa langsung membeli paket SIM card Optus dengan harga 15 AUSD untuk internetan selama 7 hari, plus free call dan SMS daerah lokal. Bahkan store guy nya berbaik hati mau motongin SIM card jadi nanosim. Jadi kita tinggal terima beres.

Selanjutnya, memecahkan kemelut kelaparan. Dari sekian banyak pilihan,  akhirnya kami makan di Nando’s. Dulu pernah ada kan ya Nandos ini di Jakarta. Tapi gue belom pernah jajal, jadinya penasaran dong sama Peri-Peri Chicken! Tapi, tapi… kok rasanya biasa aja ya? Mungkin karena gue bukan penggemar ayam segambreng (sukanya bagian paha/sayap yang banyak lemaknya) jadi rada enek harus makan half chicken berdua. Tapi barbeque sauce-nya enak kok.

The famous Peri-Peri Chicken


2 PM

Tujuan selanjutnya, National Gallery of Victoria di St. Kilda Street. Naik apa? Tentu saja naik tram! Horeee…

Melbourne memang terkenal dengan vintage tram-nya. Tram oldies yang bernama City Circle Tram ini gratis dan mengelilingi kota Melbourne. Sayangnya ketika membaca peta, si tram gratis lewat Flinders sih, tapi muter-muter. Akhirnya kami memutuskan untuk naik regular tram . Oiya, kalau mau liat jalur-jalur tram dan kereta di Melbourne, bisa download aplikasi Public Transport Victoria di Appstore ya, qaqa...

City Circle Tram
 The thing about tram in Melbourne, is.. Ternyata kurang bersahabat ya untuk disable/ stroller. Apa karena guenya yang kurang browsing? Padahal ada kok, yang namanya low-floor tram. Jadinya, gue sama Mono ngangkut-ngangkut stroller deh supaya bisa naik karena nggak ada akses tanjakan untuk masuk dan keluar tram.

Oiya, sebelum kemana-mana emang sebaiknya beli dulu Myki Card, yang ada di Circle K atau 7-Eleven. Dengan harga kartu sebesar 6 AUSD, dengan ngisi 20AUSD udah cukup kok untuk keliling seharian.

Setelah naik tram sekali, kami turun di depan Flinders Station. Uwooooh, cantik sekali ya stasiun ini! Bangunannya Victorian-styled banget.. Jatuh cintrong!

Flinders Street Station


Nah, pas di depan Flinders, si Daru bangun. Berenti dulu deh, sambil nyuapin. Untuuuung aja Daru doyan mac and cheese instan yang tadi beli di circle K. Yaa walaupun doyan juga itungannya  paling banter 7 suap siiih..  Naak, nak. Kalo napsu makan Mama kayak kamu, mungkin nih bodi udah kayak Karlie Kloss! 






3 PM

Hello, National Gallery of Victoria! Cieee ke museum ni yeee. Padahal di Jakarta, jempol kakiku tuh nggak pernah ngerasain lantai Mseum Gajah. Terakhir mungkin SD kali yaaaa.. *mokal*



 So, why NGV? NGV ini adalah sebuah art museum yang paling termasyhuur di Melbourne. Di Tripadvisor, museum ini rankingnya nomor 4 di antara 174 attractions lainnya di Melbourne. Jadi sangatlah worth to visit.



Isinya apa aja? Isinya berbagai contemporary art dan berbagai jenis art dari seluruh dunia. Sebenarnya ada satu lagi NGV di Melbourne yaitu di Federation Square, namun isinya khusus karya seni dari Australia aja.

But, don’t ask me about the map or anything deep about the art yaaa.. Kitorang kan ke sini buat cuci mata, bukan mau nganalisis art shay. Apalagi kite nggak ngerti-ngerti amat sama karya seni. Setiap masuk ruangan cuma bisa bilang.. ‘’Iih, baguuuusss…. Ih keren banget yaaa… Ih.. kok aneh? Kenapa gitu bentuknya?”

Untuk masuk NGV, nggak dikenakan biaya alias gratis. Enak amat ya Australians..  Museum kualitas tinggi begini bisa dikunjungi kapan aja tanpa bayar. Jam bukanya dari jam 10 pagi sampe 5 sore, Selasa tutup. 

NGV sendiri luas banget, gue nggak ngitung berapa lantai karena nggak berasa aja gitu naik-naiknya. Begitu masuk pintu NGV, kami disambut sama seorang kakek yang… Ya Gusti Allah mirip banget sama Kolonel Sanders!  Sumpah! Rambutnya putih semua, kumisnya juga, badannya gendut-gendut ceria, sampe belahan rambutnya pun sama (kayanya ya…). Duh, momen pengen foto tapi nggak enaaaak begini nih.. Akhirnya cuma senyum aja membalas si Opa sambil garuk-garuk idung pake hape… Teteeuuupp usahaa…



Sampai lobi, ternyata lagi ada sekumpulan beruang kutub nangkring. Ada yang warnanya pink, hijau, biru, dan ungu. Yang jelas semua berwarna neon. Posisinya pun macem-macem, ada yang lagi tengkurep, salaman, sampe kayak lagi balet. Beruang-beruang ini adalah karya Paola Pivi, seniman dari Italia. Filosofinya apaan ya? Karakteristik dan body language. Kok gue tau? Baca dari sini, hehehee…



















Setiap periode tertentu, NGV memang menampilkan sesuatu yang beda di lobinya. Kalau nggak salah, yang sekarang banget sedang berlangsung itu adalah  Golden Mirror Carousel, yang bisa dinaikin tapi muternya pelan kayak siput. Cantik banget ya?






Berikut hal-hal yang menarik perhatian gue selama di sana. 


Lanjut jalan, ketemu sama art dari Indonesia. Kalau nggak salah ini orang Dayak bukan sih?  Lupa!






Stained ceiling ini terbesar di dunia lhoo.. Didesain oleh seorang Australian artist bernama Leonard French


Kayak enak banget nggak sih, bengong-bengong di sini?


Setelah  keliling-keliling, Daru pun terlihat ingin nenen. Sedikit bingung dong, ya. Kan akika pikir mana ada gitu nursing room di museum? Eh, ternyata di sini ada. Tepatnya di deket lobi, nggak jauh dari kumpulan beruang neon. 

And more surprise surprise! Nursing room di NGV ternyata kecehnya maaakk..   





Ruangannya luas, sofanya empuk, lengkap dengan microwave untuk ngangetin susu. Nggak lupa ada juga sekalian playground-nya lengkap dengan fence, agar saat mamak sedang ribet anak bisa ditaro di situ. Cerminnya juga lucu banget lagi, bentuk awan-awanan. Ih sukaaa… Kalau gini, kan nggak ada ceritanya ya males ke museum. Cinta deh!

Walaupun masih banyak yang belum terjamah, karena sudah jam 5, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk say goodbye sana NGV. Vai vai NGV!

Kami pun berjalan ke luar dan ketemu taman Arts Center. Sebenernya tadi udah lewatin sih.. Tapi kayanya lucu nih disamperin. Mumpung masih sore, pengen bobok-bobok lucu di taman, ceritanyeee… 


Handaru terpana banget liat burung-burung beterbangan :D


Sumpaaah, udaranya enak banget buat bengong sama people watching!


Setelah hari mulai menggelap, kami beli takeaway sushi di Flinders Station buat makan malam di hotel. Kaki dan mata udah nggak kuaaaaat… Buat Daru, baby food di sebuah supermarket Korea.
Eeeh, baru sampe hotel, anaknya udah ketiduran. Kami pun juga makan sambil merem, zzzzz… See u tomorrow!





No comments:

Post a Comment