Friday, February 13, 2015

Australia Trip (Melbourne & Sydney ): Introduction

Horeee, akhirnya post Australia trip ini keluar juga! Entah berapa lama gue akan menyelesaikan postingan ini. Auk ah... Yang jelas, pasti bakalan selesai kok. Hihihi... So here it goes!





Saya gak menyangka tahun 2014 ini akan pergi-pergi lagi lho sebenernya. Biasa, sindrom new mom yang ngeliat semuanya jadi imposibel atau hil yang mustahal.

But then, hidupku kemudian terasa kosong dan tak bergelora. What am I without my once-a-year trip? Cieeee… 

Destinasi Australia sebenernya udah dipikirin jaman Daru masih di perut sih (emak macam apaaa, lagi hamil mikirin pelesir). Pengennya ke suatu tempat yang slow, nggak ambisius, dan yang pasti.. English-spoken country supaya nggak ribet dunia persilatan.

Then Australia it is! Alasan pertama tentunya adalah jarak. The flight won’t take too long jadi anak gue yang akan segera diketahui karakternya saat naik pesawat ini tak akan punya waktu lama untuk bikin orang tuanya #huftbanged sambil elus-elus dada istigfar. 

Kedua, menurut gue Australia adalah tempat yang sempurna untuk liburan bareng bocah. Liburan yang nggak ambisius, gitu. Banyak taman buat duduk-duduk, nggak ada theme park populer, banyak binatang unik yang nggak ada di sini seperti kangguru dan koala yang bikin bocah terpana,  dan suhu yang bersahabat di sekitar bulan September!

Eh terus, ngomong-ngomong, situ pede banget bawa bocah setahun ke luar negeri tanpa nanny untuk pertama kali? Emangnya kalo cranky gimana? Kalo sakit gimana? Kalo nggak mau makan gimana? Pertanyaan-pertanyaan yang cukup mengerikan, bukan?

 Jawabannya adalah: nggak usah dipikirin! Sebenernya sih, gue masih tenang karena daru masih ASI. And I believe in the miracle of that thing. Yakin aja deh Daru nggak bakalan sakit selama di sana, selama ia masih napsu ngokop ASI. 

Masalah kedua, di umurnya yang 13 bulan (saat perjalanan ke Australia), ni bocah lagi doyaaaan banget makan... NOT! Yak, gue akhirnya jadi korban anak GTM. Ya Gerakan Tutup Mulut, ya GENDUT TANPA MAKAN. ALHAMDULILLAH ya nak, walaupun kamu ngunyahnya seiprit seiprit, tapi dari segi tubuh kamu tetap terlihat gempal.

Soal susah makan ini, kadang gue suka bersikap nggak mau ambil pusing. Toh dia bakalan laper ini eventually! Tapi, kadang gue juga suka frustrasi juga. Ini anak gimana, masa kurang gizi! Mau ga mau di trip ini, gue memilih sikap pertama. Toh cuma seminggu. Yang penting mulutnya gue akan tetep empanin roti, biskuit, atau apapun itu.

Terus nih, kenapa gue berani bawa anak ke sana, ya tak lain tak bukan adalah jaminan business class saat perjalanan nanti. Yah, jadi sombong deh... Asli deh, gak niat sombong kak! 

Mungkin tanpa jaminan business class, gue akan urung trip selama beberapa tahun ke depan, nunggu Daru masuk SD. Seriously, I’m that coward. Semua karena karakter Daru yang luar biasak lasaknya walaupun saat itu belum bisa jalan. Daru anaknya gampang bosenan dan hobi ngider kesana kemari. Untungnya, ia nggak suka teriak. Sejujurnya gue udah takut karma, karena sebelum punya anak, gue benci setengah mati sama anak kecil yang suka memekik :(
 
Tapi kan, dengan hobi ngidernya itu, doi berpotensi buat mengganggu jalannya pramugari? Apalagi lorong kelas ekonomi kan buat satu orang doang. Bukan capeknya yag gue khawatirkan, tapi lebih  ke nggak kuat menghadapi tatapan sinis penumpang lain yang merasa terganggu. HOROR! 

Nah, Di business class, apalagi penerbangan malam, Daru akan punya seat sendiri untuk tidur. Plusnya juga kita bisa boarding duluan. Pramugari business class juga menurut akik nih ya, lebih kooperatif dan sabar. Jadi bila anak gue terlalu lincah, mereka nggak ragu untuk bantu. Space antara seat-nya juga luas, lorongnya pun, memungkinkan Daru bisa bolak-balik di sekitar lorong tanpa mengganggu penumpang lain. 

Walaupun, pada akhirnya gue memberanikan diri untuk naik LCC dari Melbourne ke Sydney. Taruhannya 1 jam, mak! Stories later.

Perlu dibahas nggak sih bawaan akik sekeluarga untuk Australia Trip ini? Yang jelas, departemen sandang harus memperbanyak jaket dan sweater. Meskipun spring tergolong musim yang bersahabat, suhunya di sana sekitar 12-20 C. Slightly lebih hangat dibanding saat ke Jepang tahun lalu. Tapi, yang nggak enak itu anginnya yang gue takutkan menusuk kayak di Osaka, apalagi buat anak kecil yang ke Puncak aja belum pernah.

Baby gear seperti stroller, carrier Boba 4G, dan cooler bag Gabag itu esensial. Botol susu juga, tapi cuma 2 aja buat minum air putih, karena saat itu Daru belum kenalan sama UHT, dan belum bisa pake sedotan. Food utensils? No for me! Bawaan udah cukup berat dan gue nggak mau ribet hanya untuk seminggu. So hello bubur instan! Hello MSG! Ibu-ibu jangan judge aku pleeeeaseee..

So, shall we?

Let’s gooooo!



No comments:

Post a Comment