Monday, February 23, 2015

Australia (Melbourne & Sydney) Trip Day 3: Brighton Beach & Australian Center Moving Image

Rabu, 24 September 2014

Do you know? Kami ke Australia dalam mengemban dua misi:
1.    Misi Prihatmono mencari iPhone 6, yang saat itu belum keluar di Indonesia
2.    Misi mencari kopi-kopian, yang dilakukan secara nggak sengaja.



Misi pertama, ya cincai lah ya. Tinggal ke Apple Store terdekat dan beli iPhone. Misi kedua nih, yang  dadakan. Ceritanya, saat keliling-keliling Melbourne, kok kami banyak menemukan beragam coffee stall. Rasanya pun enak semua (Just don’t compare it to Starbucks. Just… don’t). Browsing-browsing, eh ternyata Melbourne itu ya memang “sarangnya” kopi enak!

Melbourne is considered as one of the best cities in the world for their coffees. Budaya kopi udah menempel erat di Melbourne, bahkan ada coffee expo tahunan di sini. Aaaah, telat banget ya! Tau gitu kan nge-list coffee stall yang layak dijajal. Apalagi Mono lagi menemukan kedemenan baru, yaitu ngopi! Nggak cuma minumnya aja, doi sampe beli buku loh soal kopi dan rajin dibaca.

N I A T..

Di hari terakhir di Melbourne, akhirnya kesampaian juga untuk nyoba salah satu coffee stall yang populer di marih, yaitu Brother Baba Budan.

Brother Baba Budan letaknya nggak jauh kok, masih di daerah CBD. Sayangnya emang jam-jam buka tempat-tempat di Australia itu rada-rada tricky. Rata-rata, kios-kios di pinggir jalan tutup jam 5, mengikuti jam kantor. Jangankan kios di pinggir jalan, toko di mall juga tutup jam 5 loh! Kita yang biasa “dimanjakan’’ sama jam buka toko-toko di Jakarta, mungkin bakalan sedikit kaget. Nggak seperti di sini, karyawan di sana kayaknya sih harus punya “kehidupan” selain kerja kali yaaa…

Brother Baba Budan pun, bukanya jam 9 pagi, dan tutup jam 5 sore. Karena ini hari terakhir kita di Melbourne, akhirnya kita jabanin dulu deh, ke Little Bourke Street untuk coba ngopi di tempat ini.

Nggak seperti bayangan gue akan coffee shops yang lagi menjamur di Bandung, ternyata tempat ini kicik amat ya! Dekorasinya sih cukup hipster, dengan kursi-kursi menggantung di plafon. Selain itu, tempat ini cuma ada mesin espresso, satu buah meja kotak, dan satu buah meja panjang! That’s it. Luasnya gue perkirakan pun cuma sekitar 20 meter persegi. Mini amat kan? Jadi nggak ada cerita deh, bawa stroller ke sana. Takeaway cussss…

Image from here (mokal sama hipster kalo ambil gambar di sini, hahahahaha...)

Image from here


Untuk rasa kopinya, Brother Baba Budan ternyata acidity-nya lumayan tinggi. Cieeee, bahasanya susah amat! Intinya, kopinya terasa sedikit asam. Mono sih suka banget, tapi akik nggaaaa…

Biar aman nama gua jadi Lily aja XD

 Hari itu tujuan kami memang cuma ke Brighton Beach tok. Rute yang ditempuh pun cukup jauh, mungkin ibarat Jakarta-Bogor.  Kami harus ke Flinders Station dulu, naik kereta menuju Sandringham, dan turun di stasiun Brighton.


Cieee... naik kereta pertama kali ni yeee...

 


Begitu sampai di Brighton Station, perjalanan kami cukup jauh (lagi) untuk sampai di bath houses. Kalo pantainya sih, udah ada langsung di depan mata. Tapi apalah Brighton Beach tanpa bath houses, shaeeee…

 
Hello Brighton Station!


Sepanjang perjalanan menuju bath houses, rumahnya kayak begini-begini nih.. Di mana-mana pinggir pantai itu tempatnya #horangkayah ya..

Bagus banget yaaa.. Kayak kastil mini



12 PM
Yeay akhirnya sampe! Bath houses berwarna-warni pun sudah terlihat. And finally, kita ketemu panteeeiii!




Buat gue, pertemuan dengan pantai ini cukup mengharukan, karena terakhir ngeliat laut adalah tahun 2012 di Bali. Kasian ya, ceu. Eeeeeh, ada yang lebih mengharukan lagi nih, anak guah si Handaru, baru pertama kali ngeliat pantai seumur hidupnya!

Reaksi Daru priceless banget deh. matanya langsung konsentrasi ngeliatin pasir, dan ketika didudukin, tangannya langsung meraup pasir dan dilepas, meraup pasir, dilepas, gitu terus sambil bibirnya monyong saking konsennya. Huahahahahha..


Aku bahagiaaaa, hidup sejahtera di khatulistiwaaa..




Sementara orang tuanya? Makan siang (tadi  beli takeaway Subway) dengan tenang, dan selfie dulu boleh ya, qaqaaaa….




If you ever wondered why Melbourne has this bath houses, I do too.  Apa sih fungsinya bath houses alias bathing boxes ini? Menurut suami akik, rumah-rumah berwarna-warni ini disewakan pas summer. Fungsinya ya buat nyantai-nyantai, naro tas, ganti baju, pokoknya bisa ngapa-ngapain di ruang tertutup. Google says, sejarah bath houses dimulai dari era Victorian formality tahun 1862, di era-era pemerintahan Inggris deh. Mau tau berapa harga per rumah? AUSD 200ribu ajah atau sekitar 2 miliar, tanpa fasilitas apapun atau air nyala setetespun. Wow, “murah”nyaaa! Jemur bulu ketek yuk, kali aja bisa jadi duiiittt…

Cuaca di Brighton Beach saat itu cerah, tapi berangin banget. Pengennya sih, sampe sore di sini, apalagi Daru lagi kelihatan asik banget. Monyongnya ga kelar-kelar nak.. Tapi daripada masuk angin, ribet kan ya.. So long beautiful bath houses!


3 PM

Pukul 3 sore, kami sudah sampai di Melbourne CBD lagi. Kami sebenernya ada janji sama Nara, temen kuliah kami dulu. Doi sama suaminya tinggal di Melbourne udah beberapa tahun. Karena doik masih di kampus, kami nunggu di ACMI (Australian Center of Moving Image) yang juga ada di St. Kilda, dekat NGV.

Australian Center Moving Image adalah sejenis museum juga, tentang berbagai sejarah audio visual.


Instalasi si Toothless di lobi


Disambut Melman dan para Penguin of Madagascar


 The main exhibition is Screen Worlds, yang isinya mulai dari TV pertama, video game pertama, dan sejarah film-film atau iklan-iklan.





Serunya, museum ini interaktif sekali! Ada sebuah kubah yang di dalamnya berupa disco ball yang ternyata adalah TimeSlice. Masuk ke sana, nanti kita bisa merasakan jadi Neo di film The Matrix. Itu loh, sequence “Bullet Time” Neo yang fenomenal. Nah guenya yang katro, masup-masup bukannya pose, eh malah diem aja kaya orang dongo :)))) Hasilnya bisa dilihat di sini nih.


Selain TimeSlice, ada juga Make Your Own Flipbook. Jadi di depan kamera, kita bisa bergerak bebas suka-suka. Nanti hasilnya berupa flipbook alias buku yang halamannya bisa dibalik secara cepat, dan hasilnya.. animasi diri sendiri! Cihiy, seru yaaa…




Sebenarnya di sini lagi ada pameran Dreamworks Animation lhoo.. Terlihat ya dari penguins of Madagascar dan si Toothless dari How To Train Your Dragon. Tapi masuknypa mahal, booookkk.. Sekitar 40 AUSD per orang. Ga ada di budget,  jadi di skip ajuaah…

Di luar Dreamworks Exhibition, ACMI lumayan seru kok untuk dikunjungi. Terutama bagi para geek, sangat recommended!


6 PM
Akhirnya temen kami Nara, dan suaminya, Khrisna, udah dateng. Terus laper dong.. Doi nyaranin makan di Dae Jang Geum. Dar namanya aja udah ketebak yaa kalo ini resto Korea, tepatnya Korean grill, tapi ada bibimbap dkk juga sih. Maap ga ada foto, karena anaknya lagi rusuh dan laper bangat...

Akik suka sebel nih ya sebenernya sama resto Korean grill di Jakarta. Udah mahal bingit, porsinya kecil banget. Boro-boro all you can eat lah ya. But! Di sini, porsi dagingnya super banyak, bisa buat bertiga. Rasanya pun enak. Plus bibimbap buat Daru, kami bertiga cuma menghabiskan 29AUSD. Termasuk murah untuk hitungan makan di resto Australia! Jadi, Dae Jang Geum ini recommended!

Dari Dae Jang Geum, Nara kemudian ngajak ke Max Brenner Hot Chocolate. This café is famous for their hot chocolate, but they serve coffee too. 

Image from here
Cobain hot dark chocolate-nya deh.. To die for! Bisa pake topping marshmallow sama waffle juga. Selain dark chocolate, ada juga white chocolate yang dijadikan minuman. Sayangnya maniiisss bangeeet… Ga kuat minumnya… Saking cintanya sama Max Brenner ini, kita sampe mampir lagi di Sydney. Hehehe…

Melbourne hujan, perut kenyang, daru ketiduran. Saatnya  kembali ke pelukan hotel dan packing! Sydney tomorrowwwww!

No comments:

Post a Comment