Friday, June 6, 2014

13 Random Things I Found In Japan


Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Kok pembukanya kayak mau ngirim tugas ke guru bahasa Indonesia?

Selama seminggu di Jepang, mau nggak mau saya jadi memperhatikan hal-hal sekitar dan perilaku para Japanese. Here 12 things I spotted in Japan on my trip last year.




1. Japanese people are sent from a planet named “Kindness”
Hahaha.. ngarang aja sik saya. Abisan, memang Japanese itu super nice. Minta petunjuk arah? Mereka rela untuk berjalan jauh untuk menjelaskan arah dengan bahasa seadanya  sampai kita ngerti. Sewaktu di convenience store pun, pegawainya siap membacakan label di makanan buat saya yang lagi bertanya-tanya itu babi atau bukan. Dan yang terakhir, mereka sangat-sangat disiplin antri. Antrian kamar mandi berdasarkan siapa yang datang duluan, bukan seenaknya siapa yang ngantri di pintu mana. Tinggal di sini pasti aku awet muda deh!



Dibantuin pesen tiket Fujiko F. Fujio Museum di Lawson. Peluk mbaknyaa!



2. Japanese are also very dedicated to their job, even when no one sees them. Perhatiin deh para petugas kereta yang berseragam. Walaupun keretanya kosong melompong (hanya kami berdua), setiap membuka pintu gerbang, mereka  menunduk MEMBERI SALAM dengan membungkuk sedikit. Kami pun ternganga saking herannya.

3. There’s no such thing as free wifi in Japan.
Di tahun 2013, Osaka dan Tokyo tercatat sebagai kota-kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Makanya nggak heran kalau di sana free wifi adalah barang langka.  Di Starbucks pun, yang biasanya di sini wifi langsung bisa di-abuse setelah kita beli segelas kopi item, nggak bisa didapatkan segampang itu. Kita harus sudah terdaftar di website starbucks yang prosesnya lumayan ribet. Jadi, untuk kamu si internet freak, sediakanlah budget untuk menyewa pocket wifi.

4. Beda kota, beda space eskalator
Sewaktu di Hong Kong, saya baru tahu kebiasaan para penduduknya yang selalu menyediakan space di eskalator di sisi kiri untuk orang lain yang buru-buru. Nah, di Jepang etika itu juga berlaku. Di Osaka dan Kyoto, sisi yang harus dikosongkan adalah sisi kiri. Eh ketika sampai Tokyo, ternyata hal ini berlaku sebaliknya. Kenapa ya begitu? Ternyata ada sejarahnya lho.. Mystery solved here!

5. Students are everywhere!
Di theme park, taman, atau di tempat-tempat keramaian manapun, adaaa aja anak-anak sekolah berseragam.



6. Drink Evian like a boss
Kalau haus, nggak susah untuk mencari minum di Jepang karena tersedianya vending machine di mana-mana. Berbagai merek pun tersedia, dari lokal sampai impor. Nah yang saya lihat, ternyata Evian harganya termasuk murah dibanding produk lainnya! Walhasil berasa orang kaya, beli minum Evian melulu. Hahahha..

7. The garbage bins are hiding..
Dari tiga kota yang saya kunjungi, Osaka, Kyoto, dan Tokyo, ternyata semuanya sama: susah cari tempat sampah! Padahal nggak perlu diragukan lagi kan bersihnya kota-kota di Jepang. Tips: bawalah kantong plastik  di tas untuk menyimpan sampah yang nantinya akan dibuang di hotel.

8. You don’t have to have exact fare!
Salah satu hal yang menyebalkan menurut saya ketika sedang belanja di minimarket, supermarket atau tukang siomay, adalah pertanyaan, “nggak ada uang pas bu?” atau “ada dua ribu/lima ribu/ seribu nggak?” WHY? Kalo ada uang pas atau uang segitu akan gue beriii, ya nggak? *pegang kapak* Nah, di Jepang kita nggak bakal menemui hal tersebut. Kecanggihan teknologinya membuat mereka punya sejenis kasir otomatis yang mengeluarkan kembalian langsung berapapun jumlah uang kita. Begitu sampai di Jepang, saya sedikit takut untuk berbelanja karena uang saya masih lembaran 10.000 yen semua. Ternyata, mereka menerima uang dari saya dengan muka datar, tanpa pertanyaan, dan kembalian langsung diterima dengan manis. GOLD!

9. Tokyo lebih hangat dibanding Osaka-Kyoto
Waktu di Osaka, saya merasa kedinginan terus, karena anginnya yang menusuk tulang. Dengan suhu sekitar 14-17 derajat Celcius, harusnya nggak sedingin itu lho. Cuma karena anginnya yang kencang. Bedanya di Tokyo, ternyata udaranya lebih bersahabat. Karena anginnya nggak sekencang di Osaka dan Kyoto, jalan-jalan di Tokyo pun terasa lebih menyenangkan. Good bye kutang berlapis!


10. Different cities, different Kit-Kats
Primadona oleh-oleh turis Indonesia yang ke Jepang selain Tokyo Banana pastinya adalah Kit-Kat, terutama Kit-Kat green tea. Herman nggak sih, kenapa Kit-Kat populer banget di Jepang? Ternyata pronunciation Kit Kat di sana adalah “kitto katto” yang mirip dengan “kitto katsu” yang artinya “surely win.”  Jadinya Kit-Kat sering dijadikan hadiah untuk teman yang mau menempuh ujian atau untuk keluarga dan kerabat sebagai hadiah “good luck”. 
Baidewei, tiap kota di Jepang punya Kit-Kat yang berbeda. Di Kyoto saya sempat nyobain rasa Cinnamon yang cukup enak. Di bandara Tokyo, saya ketemu Kit-Kat blueberry cheesecake (the bomb!), wasabi (aneh tapi nagih) dan strawberry (standar). Selain Kit-Kat, Jepang juga terkenal dengan Pocky. Yang paling ajib sih Giant Pocky warna-warni yang saya temukan di Odaiba. Yum yum!

11. Bike vs People
Pemandangan orang bersepeda di Jepang mungkin sebanyak orang bermotor di Jakarta. Bedanya, mereka boleh lewat trotoar karena nggak bermesin, dan bebas polusi tentunya. Another difference: di Tokyo, jumlah pejalan kaki mengalahkan pesepeda. Di Osaka, you’d better move your ass to the side because bikes are everywhere! Jalan ke tengah dikit, pasti udah di-kringkring. 

 



12. Coin Money
Uang koin di Jepang ternyata cukup banyak, bahkan untuk 500Y atau sekitar 50ribu Rupiah pun, mereka memiliki koinnya. Kadang nggak sadar kalau kita memiliki uang koin tersebut, dan akhirnya terbawa pulang deh. Sayang kan, karena uang asing koin nilainya turun sekali jika ditukar ke rupiah. Tips: perhatikan uang koin yang kita punya dan kalau bisa sih, bayar apapun pake koinan!

13. Starbucks Discoveries.. Made from heaven!
Selain minuman Starbucks yang dijual di gerainya, ada beberapa minuman kemasan yang bisa ditemui di minimarket bernama Starbucks Discoveries. You have to try this one I bought in Family Mart, Starbucks Discoveries Matcha Latte. Langsung ngebayangin beli sekardus dan nyetok di rumah saking enaknya!





Baiklah. Jika ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Jika ada umur panjang, boleh kita ke Jepang lagi. Yang nggak bakalan saya lewatkan adalah: mandi di Onsen, nginep di ryokan alias traditional guest house, nyobain authentic sushi di Tsukiji Fish Market, makan bareng kucing-kucing lucu di cat café, dan terakhir.. menyelami kepiktoran Japanese dengan berkunjung ke sex shop! Wajib itu mah!


No comments:

Post a Comment