Saturday, May 31, 2014

Japan (Babymoon) Trip Day 7: Shinjuku Gyoen National Garden, Asakusa, Ueno, Odaiba

Hosh hosh.. Inilah babak terakhir dari episode yang nggak kelar-kelar perjapanan. Padahal bisa dibilang, ini hari yang paling super nggak jelas karena itinerary semua berantakan.

Jadi rencananya hari ini mau ke Shinjuku Gyoen National Garden, dilanjutkan dengan seharian main di Odaiba. Akhirnya, kami malah muter-muter di Tokyo karena mau beli oleh-oleh (!!!!) dan tiket kereta  mmenuju Narita.

Saya kira tadinya mencari Tokyo Banana itu mudah sekali dan gampil didapatkan. Ternyata satu-satunya tempat di mana Tokyo Banana nangkring dengan manis itu hanya di stasiun Tokyo Sky Tree (sepenglihatan ogut sih).  Walhasil di hari terakhir saya ketar-ketir gara-gara belum beli Tokyo Banana yang akan dijadikan oleh-oleh. Iiih orang Indonesia, sentil ya! Mo sampe kapan kita move on dari budaya oleh-oleh siiih? *maap, ngomel dikit*

Selain mengejar oleh-oleh, hal lain yang kami kejar adalah tiket untuk menuju Narita Airport keesokan harinya. Like I’ve written before, naik taksi di Jepang bukanlah pilihan yang sehat untuk keadaan keuangan. Pilihannya hanyalah Airport Limousine Bus atau kereta Keisei Skyliner dari beberapa station yang ada.

Sampai hari keenam, kami belum memutuskan akan naik apa. Pertimbangannya, naik Airport Limousine Bus  lebih murah, namun dengan resiko terhadang macet dan pitstop-nya lumayan jauh dari hotel kami. Sedangkan Keisei Skyliner cepat dan nyaman, tapi pastinya lebih mahal. Selain itu, station Ueno juga masih lumayan jauh dari hotel. Ngebayangin geret-geret kopernya itu loooohhh…

Di hari terakhir, akhirnya kami memutuskan oke naik Keisei aja. Sayangnya tiket Keisei hanya bisa dibeli di station tempat Keisei berangkat. Yastralah, perjalanan ke Ueno Station akhirnya terpaksa masup dalam itinerary hari ini.

Masih ada lagi yang dikejar. Suami tercintaku tersayangku maksa mau ke Akihabara untuk berburu gadget dan mainan karena setelah dari DisneySea kemarin, kami ngebut ke sana eh yang ada udah pada tutup. OKEDEH!

In summary, itinerary di hari ketujuh ini: Shinjuku Gyoen National Garden à Stasiun Tokyo Sky Tree, Asakusa à Ueno Station à Akihabara à Odaiba. Udah feeling ini mah sampe Odaiba-nya pasti sore..  No regret lah haaai.. Namanya juga yalan-yalan yaaa..

Shinjuku Gyoen National Garden
Target saya kalau traveling, salah satunya adalah taman kota. Yapalagi kalau bukan ingin merasakan suasana taman yang sesungguhnya: asri, sejuk, dan sepi, pemandangannya orang sedang lari pagi atau kakek-kakek baca koran, atau keluarga yang sedang piknik. Bukan pemandangan orang pacaran di motor. Geleuh pisan…

Nah, di kota sesibuk Tokyo dan dekat dengan stasiun Shinjuku yang juga padat, ada sebuah oase indah di tengah kumpulan pencakar langit, yakni Shinjuku Gyoen National Garden (SGNG). Selain SGNG, taman yang juga terkenal di Tokyo adalahYoyogi Park. Namun katanya sih, Yoyogi Park suasanaya lebih rame, lebih muda dalam artian yang nongkrong adalah pemuda-pemudi, dan banyak street performernya. Kalo SGNG, luas, yang  damai, tenterem, adeeem kayak era pak Harto (ampun yaaa, niatnya becanda aja kok :D) Selain itu, yang nongkrong kebanyakan aki-aki dan nini-nini.

Nah karena SGNG masuk ke dalam Top 10 Things To Do in Tokyo dengan peringkat di atas Yoyogi Park, mari bergabung dengan aki-aki dan nini-nini!













Untuk masuk, kita harus Tiket masuk SGNG cukup murah, yaitu 200Y atau sekitar 20ribuan.


Waktu di Osaka, kami bertemu dengan sekumpulan cewek-cewek Indonesia yang baru dari Tokyo. Mereka bilang, pohon sakura di SGNG sudah merontok. Hiks, telat banget dong ya! Soalnya itu kan hari pertama saya dan Mono di Jepang. Seminggu lagi baru ketemu SGNG, yang adalah spot terbaik untuk nonton sakura yang lagi blooming dan hanami (duduk-duduk di bawah pohon sakura). Yastralah jadinya tak mau berharap..


Eh, ternyata… emang udah ngerontok deng :)) Tapi sakura oh sakura.. lagi merontok pun kamu indah sekali. Bikin warna kehijauan rumput jadi kontras banget sama warna bunga pink sakura yang berjatuhan.






Di luasnya yang sekitar 50 hektar, SGNG terbagi menjadi 3 bagian: English Landscape, French Formal dan Japanese. The truth is we don’t know the difference saking menikmati tamannya, hahahaha…  yang jelas, kami sempat menemui Japanese House Traditional Tea, dan ragu-ragu untuk masuk karena mihil :))

Di sini kita bisa menikmati sesi minum teh tradisional ala Jepang. Kalo gak salah harganya sekitar 1500Y. Lupa :D


Selanjutnya? Let me present: foto-foto the happy boy yang nggak pernah ketemu taman sespekta ini! :))))



Suami siapa sih nih?


Besok kita udah ngirup polusi lagi deh...

Giliran bini!







Dari posisi kakinya, keliatan ini hasil kerjaan timer. Maap saat itu belom ada tongsis..


Asakusa-Ueno-Akihabara-Hotel

Aduh ini part paling nggak seru dyeh. Dipersingkat aja ya.. Pertama, kami ke stasiun Tokyo Sky Tree untuk membeli oleh-oleh Tokyo Banana. Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke stasiun Ueno untuk membeli tiket Keisei Skyliner. Terakhir, karena nggak boleh capek, saya pun duduk menunggu Mono yang lagi keliling Akihabara di Starbucks.

Sampe hotel untuk taro barang udah jam 5 sore.

Bhay!



Odaiba

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, akhirnya kami sampai juga di Odaiba.

Sekilas info tentang Odaiba dulu kali ya.

Odaiba adalah sebuah man-made island yang berisi kumpulan shopping dan entertainment di Tokyo Bay. Tadinya, Odaiba ini diperuntukkan untuk benteng yang melindungi dari serangan laut pada Edo Period (sekitar tahun 1603-1868). “Daiba” sendiri dalam bahasa Jepang berarti “fort” atau benteng. 
Satu abad kemudian, dimulailah pembangunan di Odaiba, namun sempat terhenti di tahun 80an karena kondisi ekonomi. Pertengahan 90an barulah train line Yurikamome dibuka dan pembangunan Odaiba dilanjutkan kembali.

Ngemeng aja sih?

Ya abisan di sini bentar doaaaangg… Kzl! *nangis*

Hai Odaiba!

Nyampenya menjelang azan maghrib...
Padahal banyak hal seru lho yang bisa dilakukan di sini. Seperti ke National Museum of Emerging Science and Innovation alias Miraikan. Di sini kita bisa melihat aneka kecanggihan teknologi Jepang seperti robot dan benda-benda futuristik.   Ada juga onsen alias pemandian air panas. Toyota Mega Web, pameran kecanggihan teknologi mobil dan Palette Town yang terkenal dengan ferris wheel-nya yang kece.

Karena hari sudah gelap, kami menclok aja ke tempat terdekat yaitu Decks Tokyo Beach. Ternyata ini adalah seonggok mall. Yaah, anak Jakarta amat ya kita jodohnya emol lagi emol lagi!

Inside Decks Tokyo Beach

Jalan-jalan, eh kami menemukan booth Trick Art Museum. Lumayan deh, soalnya pas kemarin lagi hip di Jakarta aku kan males dateng karena antri.



Berikut kupersembahkan foto-foto dengan mimik ala sinetron kami yang dilakukan untuk mendukung gambar.















Selesai Trick Art Museum, kami menemukan Sega Joypolis, sebuah amusement park indoor berisi ride dan arcade games. Seru sepertinya. Sayang tiket masuknya cukup mahal, dan karena sudah malam, kami pun urung untuk bermain di sini.

Yang terjadi selanjutnya.. sepasang pasutri yang kecapean. Duduk-duduk ngaso sambil makan takoyaki dan memandang Rainbow Bridge yang indah. Sambil ngalor-ngidul sedih karena besok pulang. Hihihi.. Khas banget ya, hari terakhir traveling emang paling mellow. Apalagi ini bakalan jadi trip terakhir kami berduaan :')

Rainbow Bridge

Setelah itu, kami pulang, packing, dan bersiap pulang untuk esok hari.

Japan, you’ve been so awesome. Arigato gozaimasu, sayonaraaa!

See you on the next trip, di mana slow cooker, hand blender, dan baby cubes bakalan ikut serta :))))))

2 comments:

  1. Hi mbak, mau tanya perihal tiket keisei skyliner.. Untuk beli tiketnya itu perlu menyebutkan tanggal dan jam keberangkatan atau tidak ya? Terima Kasih ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Muchamad, seingat saya perlu menyebutkan tanggal keberangkatannya, tapi jamnya tidak perlu. Karena Keisei beroperasi 1 jam sekali. Semoga membantu ya :)

      Delete