Sunday, February 16, 2014

Japan (Babymoon) Trip Day 5: Tokyo Skytree, Sensoji Temple, Fujiko F. Fujio Museum, Uniqlo Ginza

Senin, 15 April 2013

Hari ini mungkin jadi hari terpadat selama kunjungan kami di Tokyo. 4 checkpoints in a day! *luluran Counterpain*


Tokyo Sky Tree
This  is our first checkpoint. Letaknya di Asakusa, nggak jauh dari hotel kami. 
image from here

So what’s special in Tokyo Sky Tree? It is a city landmark, seperti halnya Tokyo Tower. Tapi apa bedanya? I honestly don’t know karena nggak pernah ke Tokyo Tower :)) Tapi yang jelas, Tokyo Sky Tree lebih gres karena baru diresmikan di tahun 2012, dan lebih mantap mencakar langitnya karena lebih tinggi, bahkan Tokyo Sky Tree tercatat sebagai tower tertinggi di dunia saat ini karena mencapai 634 meter. We o we…


Tokyo Sky Tree sebenarnya adalah salah satu bagian dari Tokyo Sky Tree Town. Jadi selain tower, Tokyo Sky Tree Town punya train station tersendiri, Sumida Aquarium, Tenku Planetarium, beberapa kantor, dan  ada Tokyo Solamachi, shopping complex. 


Tokyo Sky Tree Town
Di Tokyo Solamachi saya menemukan Tokyo Banana, setelah hampir putus asa dan bundir karena nggak nemu-nemu selama 4 hari di Jepang. Ya iyalaaaah, namanya juga TOKYO Banana, cemana ada di Osaka sama Kyoto, kalo ada namanya OSAKA BANANA dong. *mati karena garing*

Lanjut.

Tokyo Sky Tree memiliki beberapa observation deck. Yang terendah adalah Tembo Deck, lantai 350. Nah dari situ, kalau ngana suka dan mau lanjut, bisa beli tiket lagi untuk mencapai lantai 450 yaitu Tembo Galleria.
Harga tiket untuk mencapai Tembo Deck adalah 1200 yen. Mahal ya? Emberan.. Apalagi ketika sampai di ticket booth, antriannya bener-bener bikin kaget.  

KOK GINI AMAT?



Mungkin karena terbilang baru, Tokyo Sky Tree masih mengundang banyak pengunjung, walaupun hari Senin. Apalagi di saat spring seperti kemarin, di mana cuaca cerah sehingga gunung Fuji konon bakal terlihat. 

Yang begini-begini nih yang suka bikin cebel. Selain nggak nyaman, males kan kalo wasting time hanya untuk ngantri di satu tempat. Tapi karena tergiur oleh janji pemandangan yang spekta, akhirnya dijabanin deh walaupun harus umpel-umpelan. 

Setelah membeli tiket, kegiatan selanjutnya adalah ngantri untuk menuju lift yang akan membawa kami ke lantai 350. Lift ini bukan lift sembarangan lho.. Didesain sedemikian rupa agar memuat sekitar 60 orang, dan membawa penumpang ke lantai 350 hanya dalam 1 menit! Jadi kalo dihitung-hitung kecepatan si lift ini mencapai 600 meter per menit. Saking cepetnya, di lift kita akan merasakan kuping berdengung layaknya kalau pesawat lagi takeoff. 

Akhirnya sampai di Tembo Deck!






Di sini pun kami langsung disambut oleh lautan manusia.  Hiks! Sebel aku sebel. Jadinya kurang syahdu deh ngeliat view-nya. Padahal dengan harga tiket semehong tadi, harusnya pengalaman dari atas diharapkan bisa sedikit nyetrum. Tapi apa mau dikata, tiap senti dari jendela untuk menghayati view kota Tokyo, dipenuhi oleh ketek manusia. 

Selain itu karena cuaca yang sangat berawan, patah sudah cita-citaku untuk melihat gunung Fuji dari kejauhan. 

Unimpressed


Yuk pulang aja yuuuukkkk…


Senso-Ji Temple

Ini tujuan kami selanjutnya. 

Di tengah sibuknya kota Tokyo, masih ada satu temple yang banyak dikunjungi dan ramai. Namanya Senso-Ji Temple. Letaknya masih di daerah Asakusa, nggak jauh dari Tokyo Sky Tree.

Sekilas info, temple ini ternyata dibangun tahun 645, dan menjadikannya kuil paling tua di kota Tokyo. Di depannya ada Kaminarimon, yang merupakan symbol kota Asakusa sekaligus Tokyo.





Si endut di kuil


Sebenarnya yang menarik dari Sensoji Temple adalah Nakamise Street, jalan panjang menuju kuil. Di sana kita bisa… BELENJOOOONG!

Nggak dipungkiri ya kalau kita mau traveling, pasti ada aja titipan-titipan dan tagihan oleh-oleh dari para karib dan kerabat. Apalagi kalau mereka tahu destinasi mau ke Jepang, ada aja yang seenaknya bilang, “Mau payung ala-ala geisha dong!”  Atau, “Mau kimono dong!” 

Para karib dan kerabat sekalian, ternyata nggak mudah lho mencari barang-barang seperti itu di Jepang.
Nah, di Nakamise Street, barang-barang khas Jepang bertebaran di sana.  Seperti payung bermotif atau oil-paper umbrella layaknya yang dipake para geiko, lampion-lampion, folding fan atau kipas lipat juga adiin… Yuk yang mau nikah beli souvenirnya kakaaakkk…










Selain souvenir, banyak juga makanan unik-unik yang dijual di Nakamise Street. Seperti rice crackers, Kibidango (skewered rice flower dumpling covered with soybean powder), dan Agemanju (battered and deep fried soft cake filled with red bean paste) dan Ningoyaki (cake with red bean paste filling). YUMMMNESSS! 




Setelah bela beli dan jajan-jajan, kami menuju kuil untuk menyaksikan aktivitas ibadah.









Sayangnya menurut saya memang aktivitas sembahyang di sana kurang khusyuk (jika dibandingkan dengan kuil-kuil di Kyoto) karena selain fungsinya sebagai kuil, Senso-Ji  juga merangkap sebagai tempat wisata.




Akhirnya, nongkrong-nongkrong aja deh sambil menikmati sample green tea yang dibagiin stall ini. Huahahaha mak iriiiiit!



Fujiko F. Fujio Museum
This is the highlight of today! Kami sudah lama menantikan hari ini untuk mengunjungi museum yang baru dibuka tahun 2011 ini. Lho, kalau sudah dinanti-nanti, kenapa nggak ditaro di awal trip aja? Ceritanya panjaaaaangggg….

Mungkin sudah banyak yang tau ya kalau mengunjungi Fujiko F. Fujio Museum nggak mudah dah harus melibatkan proses yang sedikit tricky. Saya juga baru tahu setelah browsing panjang lebar. Karena tanpa perbekalan pengetahuan yang cukup, dijamin cuma bisa gigit jari pas sampe museum ini.

Pertama yang harus diperhatikan adalah proses pembelian tiket dan jam buka. Nggak seperti museum lainnya yang buka sekian jam dalam sehari, Fujiko F. Fujio Museum hanya buka 4 kali dalam sehari yaitu jam 10.00, 12.00, 14.00 dan 16.00. Hari Selasa tutup. 

Kedua, proses pembelian tiket. Unlike conventional museum, pembelian tiket hanya bisa dilakukan di Loppi machine (sejenis mesin ATM) yang terdapat di seluruh Lawson di Jepang.  

Masalah selesai? Tentu tidak! Loppi machine yang ada di Lawson ya pastinya menggunakan bahasa kanji yang kebetulan “mudah” dimengerti oleh kita pengguna huruf latin ya..

Nah, agar proses pembelian tiket nggak bikin pucing, untuk itu saya  meminta tolong kepada resepsionis hotel tempat kami menginap untuk menuliskan detail pemesanan tiket dalam bahasa kanji. Jadi kami sebutkan hari, tanggal  dan jam serta jumlah pesertanya sekian dan minta tolong dituliskan dalam bahasa kanji. Nanti di Lawson, kita tinggal minta tolong store boy or girl dalam bahasa tarzan untuk mengoperasikan Loppi machine sambil kasih tulisan tersebut.

Kenapa dipilih resepsionis? Karena diharapkan resepsionis menguasai bahasa Inggris paling lumayan. Eh saya yang lagi apes, dapet resepsionis di hotel Osaka yang sering madol les bahasa enggresnya! Intinya kita menemui kebuntuan dan tanpa harapan, namun akhirnya tertolong juga oleh karyawan cantik di Lawson Universal Studio Osaka. Alhamdulillah :D

Jadilah tiket untuk 2 orang ke Fujiko F. Fujio Museum bertengger manis di tangan! *kecup mbaknya*

Di balik semua prosesnya yang ribet, tentunya kunjungan ke Fujiko F. Fujio Museum tentunya akan sangat memorable, tanpa dipenuhi antrian dan lautan manusia. Karena itu,  ada baiknya untuk segera membeli tiket as soon as kita sampai Jepang. 

Fujiko F. Fujio Museum terletak di Kawasaki, di luar kota Tokyo. Ya kira-kira kayak jarak dari Jakarta ke Bogor lah.. Nanti berhenti di stasiun Noborito, kemudian naik shuttle bus yang tersedia di stasiun Noborito.

Noborito adalah stasiun kecil, yang hanya dilewati oleh kereta bertuliskan local. Nah karena saya sama Mono saat itu lagi ngantuk, naiklah kereta bertuliskan Express. Kami pikir, ‘’Ah, nggak bakal kelewatan kok kan bukan naek yang Rapid Express!”

Ternyata, salah besar saudara-saudara! Karena ketiduran, kami kelewatan hingga SEMBILAN stasiun! 

Mungkin kalau saya dan Mono berangkatnya mepet dan telat, mungkin udah nggak ada harapan lagi. Tapi karena kami berangkat  3 jam sebelumnya, masih keburu untuk lompat ke kereta local dan balik lagi ke Noborito. Haleluyah!

Akhirnyaaa, sampai juga di stasiun Noborito! *sujud syukur*


Disambut anak-anak sekolah berseragam.... LUCUNYAAAAA



Dari Noborito, shuttle bus yang lucu ini sudah menanti kami. Perjalanan dari stasiun Noborito menuju museum kira-kira hanya 5 menit.







Setelah bus sampai, selanjutnya kami digiring ke dalam museum untuk di-brief dengan tayangan video tata tertib selama berkunjung. Inside the museum, camera is not allowed! Jadi gambar-gambar selanjutnya tak ambil dari FBnya Fujiko F. Fujio museum ya.. Tapi di outside museum dan playing room, boleh kok foto-foto. 

Selain itu, kita dibagikan audio guide. Audio guide ini berperan penting lho selama bertandang ke Fujiko F. Fujio Museum, karena berisi penjelasan lengkap tiap benda-benda bersejarah yang akan kita temui nanti.


Di lantai pertama, terdapat karya-karya asli Mr. Fujio. Nggak cuma Doraemon dan kawan-kawan, tapi juga karya-karyanya saat baru merintis karir jaman dahulu.





Yang paling epik dari lantai ini adalah meja kerja asli Mr. Fujio di mana ia menelurkan semua karyanya. 






Ternyata meja kerjanya Fujiko-san bagaikan ruangan bermain. Langit-langitnya sengaja dibikin tinggi untuk menyimpan semua koleksi mainannya dan hobinya tentang aneka dinosaurus.


Lanjut ke atas, di sini kita bisa menemukan all about personal life tentang Mr. Fujio. Mulai dari keluarganya ( baru tau ternyata ia punya tiga anak perempuan lho), hobi-hobinya soal dinosaurus dan fotografi, paspor dari Fujiko-san,  sampe sarapan favoritnya yaitu peanut butter toast. Yang mengharukan dari bagian ini adalah wawancara ketiga putrinya yang bilang kalo ayah mereka selalu ada buat mereka, nggak peduli sesibuk apapun. Pasti Fujiko-san menyempatkan diri untuk bermain bersama putri-putrinya. *terharu*





Okeh, saatnya mengeksplor halaman samping dan area rooftop. 

Yang pertama kali ditemui dari  halaman samping adalah sebuah kolam kecil di tengah dengan sebuah katrol yang bila ditarik akan keluar si Gian versi ganteng. Sebenernya membingungkan juga ini sebenarnya Gian atau Dekisugi. Tapi setelah membaca blog post Fry tentang cerita di baliknya yaitu “Penebang yang Jujur” baru inget deh :D





Lanjut. Kami akhirnya sampai ke area rooftop, area paling seru! Di sini terdapat pintu kemana saja, Pisuke, P-Man, gorong-gorong tempat Nobita dkk berkumpul sepulang sekolah dan biasanya jadi tempat konser Gian.. Area paling menyenangkan lah pokoknya!










Dari situ niatnya udah mau pulang, eh nggak sengaja menemukan café di sekitar area rooftop.  Beneran nggak sengaja lho ini… Bener-bener traveler wasaitir kami ini.. Gara-gara kurang teliti baca review, maka kami berdua nggak tau kalo ada café ucul ini.

Memang hari itu kita lagi beruntung, bisa langsung masuk café tanpa ngantri. Padahal setelah baca berbagai review, di hari lain orang-orang harus berstrategi dengan cara masuk ke café dengan cara reserve dulu sebelum keliling  museum, jika tidak niscaya akan masuk ke dalam antrian hingga 3 jam!


Yuk kita ber nom nom nom!
Bikin gemes: Suneo's hair-shaped chocolate

Doraemon pancake with red bean filling and matcha ice cream

Lattes
Selain itu ada juga roti penghapal yang dijamin bakal pinter ujiannya kalo makan ini. Sayangnya hari itu lagi kehabisan. Hiks!

image from here

Selesai urusan perngemilan, saatnya menuju playroom dan manga corner.






Suasana sekitar museum dari rooftop.. Terlihat seperti neighborhood di rumahnya Nobita ya? Tadaimaaaaa!

Cute details on the wall


Perjalanan pun diakhiri di toko souvenir. Wah kalo nggak inget kemaslahatan koper dan duit sih, udah diborong semuanya ya di sini.. Liat-liat berujung kepada pembelian kaos Gian (yang jarang dipake Mono karena cuma laper mata), dan  bando baling-baling bambu (yang juga berakhir menjadi properti foto).

nggak bisa terbang apa nih? *halusinasi*

Keluar dari museum ini, kami dijemput kembali oleh shuttle menuju stasiun Noborito.


Perasaan ketika menginjakkan kaki keluar dari museum ini? Nggak lain dan nggak bukan adalah BAHAGIA. Memang nostalgia jaman kecil gini nggak ada duanya ya.. Maka yang berniat untuk berlibur ke Jepang, museum Fujiko F. Fujio sangatlah wajib untuk masuk ke dalam itinerary.

Kini saatnya pulang. Tadaimaaaa...


Uniqlo Megastore at Ginza

Jika kakiku bisa mogok kerja, dan dede bayi di perut  sudah bisa protes kecapean (aduh semoga nggak ya nak..), kami nggak akan jabanin untuk menyambangi Uniqlo di Ginza.






Kenapa sih harus ke sana?

Ya namanya juga norak penasaran. Soalnya kan waktu itu di Jakarta belum buka. Yang mana akika juga nggak masup toko ini ketika di Singapore dan Hong Kong. Apalagi kan toko ini terbesar di Tokyo, mencapai 12 lantai, wah udah kebayang-bayang bakalan belanja sampai kartu kredit suamiku lecet!

Sesampainya di sana, ternyata ada beberapa hal yang bikin kuciwa karena nggak sesuai ekspektasi. Pertama, emang sih 12 lantai, tapi kok, nggg... agak, sempit ya? Apa karena saya terbiasa dengan mol-mol Jakarta yang cuma 5 lantai, tapi satu lantainya lebar? When I say narrow, it’s really narrow. Kurang lebih hanya butuh 5 menit untuk muterin satu lantai. So it’s not that big.

Kedua, barang-barangnya yang ternyata plain boring (menurut saya yaaa...). If you like unpatterned blouse or granny knit cardigan, then Uniqlo is your thing.

But what I love about it is their stretchable jeans! Sumpeh, pas lagi hamil 5 bulan begitu, di mana jins semua udah nggak muat, hanya di Uniqlo kutemukan celana jins karet paling nyaman. Selama di Jakarta cuma nemu legging (di mana gue nggak terlalu suka pake legging), dan celana karet tanpa kantong depan (cemana gue mau naro recehan?).

Jadiii, walaupun kuciwa, tetap hati senang kok karena nenteng belanjaan! Kikikikik…

Fiuh.. Selesai sudah tulisan hari ke-5 di Jepang ini. Nggak mau janjiin kapan lagi update ah, scara Daru udah mau MPASI loh. HAHAHAAHA apa hubungannya? 

Hope I can blog the updated story soon!





No comments:

Post a Comment