Friday, November 29, 2013

Japan (Babymoon) Trip Day 4: Osaka-Tokyo, Shibuya

Minggu, 14 April 2013

Ibukota kami dataaaanggg! 

It’s been our fourth day in Japan, and it’s time to meet Tokyo!


Perjalanan dari Osaka ke Tokyo, memang bisa dibilang cukup jauh. Kira-kira 9 jam perjalanan darat. Yah kira-kira setara Jakarta-Jogja naik kereta eksekutif. Lumayan yaaa..

Tapi bukan Jepang namanya kalo nggak punya teknologi transportasi yang nggak dimiliki negara lain. Pertama ada Willer Bus yang walaupun menempuh perjalanan darat, fasilitasnya lengkap dan super nyaman. Sembilan jam perjalanan pun nggak akan berasa.

Yang kedua, tentunya Shinkansen. Kereta peluru ini sekarang jadi opsi utama kalau punya keterbatasan kondisi (hamil, misalnya… uhuk!), dan nggak punya banyak waktu untuk dihabiskan di perjalanan. Osaka-Kyoto hanya 2 jam perjalanan darat, setara pesawat.

Karena memilih si roket, kami harus siap dengan ples mines yang ada. Pertama,  harga tiketnya bikin kantong megap-megap. Berapa sih harga tiket Shinkansen? Yah, kira-kira seharga 1 seat tiket Jakarta-Hongkong sekali jalan lah. *pukpuk dompet yang menangis*

Dengan harga semahal itu juga, kami harus puas dengan jatah unreserved seat. Jadi, kami harus siap kalo ternyata Shinkansen penuh dan kami telat sehingga nggak dapet duduk. Tapi karena tiket Shinkansen berlaku seharian, nggak masalah kalau mau turun lagi dan menunggu kereta selanjutnya.

Pagi-pagi jam 8, kami menuju stasiun Shinosaka. Karena belum sarapan, maka kami mampir dulu ke Doutor Coffee. I love this coffee stall! Harganya nggak semahal Starbucks, tapi kopi dan pastry-nya enaaaak… Doutor Coffe lumayan gampang ditemukan di sekitar stasiun.

 Setelah itu, kami menunggu kedatangan si Nozomi train. Setelah peristiwa nggak dapet duduk di hari sebelumnya, hari ini kami jadi lebih waspada, jangan sampai salah masuk gerbong lagi!

 Trik untuk membedakan antara gerbong reserved seat sama unreserved seat: di gerbong unreserved seat, pasti udah ada antrian walaupun keretanya belum datang. Kalau udah reserve tentunya nggak perlu antri.

Yeaaaayyy, pelurunya dataaaang!

Tanpa grasak grusuk, kamipun mendapatkan tempat duduk dengan mudah. Hore! Fasilitas di dalam kereta? Standar sih, ada colokan. Buat kami yang punya pocket wifi yang metong mulu pun gembira. Hore lagi!


Tokyoo aing kamiing!
Dalam waktu satu setengah jam, kami pun sudah sampai di Tokyo Station. OHAYO!! Suasana yang supersibuk pun langsung terasa. Eksaitet deh rasanyaaaa…

Tujuan kami selanjutnya, menuju hotel Villa Fontaine Ueno untuk meletakkan koper dan pantat sesaat.

Berbeda dengan lokasi hotel di Osaka yang super strategis, bisa dibilang kami salah pilih hotel di Tokyo.

Lho, kenapa? Awalnya pilih hotel ini karena ratenya yang cukup murah, dapet sarapan lagi! Biasa lah, kami kan nggak tahan sama yang gratis-gratis, apalagi makanan.

Ternyata setelah sampai di Ueno, kami baru menyadari susahnya mencari hotel ini. Turun di stasiun Shin-Okachimachi, katanya dua menit langsung sampe. Ini udah muter-muter, kok nggak ketemu juga hotelnya? Dua menit mbahmu!

Akhirnya, hotelnya ketemu juga! Entah kami yang siwer ato gimana, ini hotelnya cukup gede loh. Kok bisa sampe ga keliatan? Mesti operasi katarak nih kalo pulang..

Kesalahan selanjutnya, ternyata hotel ini cukup jauh dari pusat kota dan keramaian. Jangankan keramaian, ke Lawson aja mesti jalan kaki mayan jauh. Awalnya memilih lokasi ini karena dekat dengan Akihabara di mana Mono bisa ngider sendiri cari mainan incerannya, sementara bumil pengen leyeh-leyeh selonjoran. Eh ternyata masih jauh juga dari Akihabara, jalan kaki mah modar.

Walaupun begitu, harus tetap bersyukur dapet sarapan (yang sebenarnya diragukan kehalalannya), pelayanan yang cepet dan bahasa Inggris stafnya yang oke  nggak kayak di Osaka, kamarnya yang mini tapi bersih untuk sarang selama empat hari ke depan, dan pemandangan Tokyo Skytree ketika buka jendela! Sayang lupa difoto. Tapi nggak bohong lho..

Yang saya sukai juga dari hotel ini adalah no lobby dan café. Begitu masuk, kita bakalan langsung disambut sama meja panjang dan kursi-kursi. Dan asiknya kita bebas mau ngapain aja di situ lho.. Mau makan siang bento yang dibeli dari Lawson seberang juga nggak papa. Kurang WiFi aja! *fakir* 

Suasana sarapan di Hotel Villa Fontaine Ueno

Setelah taro koper, sebenarnya rencana selanjutnya adalah ke Tokyo Skytree.

Tapi karena hari sudah siang menuju sore, maka kami membatalkan rencana ke sana dan langsung ke Shibuya. Karena feeling mengatakan, people watching di Shibuya lebih yahud dilakukan saat masih terang.

So Shibuya here we come!

Welcome to Shibuya!

Tempatnya muda-mudi berkumpul *berasa toku*

Since it was Saturday, Shibuya was really packed. Yah ngga herman ya, nggak pake weekend aja Shibuya udah rame be’eng..

Terus udah sampe sini, mau ngapain nih? *garuk-garuk kepala*

Pertama, salim dulu sama Hachiko.



Mo foto aja pake ngantri loh.. Berasa di wahana!


Kedua, beli tiket DisneySea di DisneyStore, supaya nggak perlu ngantri-ngantri lagi hari Kamis nanti.

Ketiga? Yaapalagi kalau buka meresapi dan menyelami perapatan ini! Shibuya is one of the busiest intersection in the world, dan ikutan nyebrang di sini langsung berasa keren. Saya ikutan nyebrang sekitar 10 kali bolak-balik. Sibuk ni yeee...
Satu...

Dua... (ditabrak yapanese)

Tigaaa! One of my bucket list checked! :)









Setelah capek dan dirasa malu-maluin, kami pun memasuki Starbucks Tsutaya Bookstore.



It’s no ordinary Starbucks. Selain karena Starbucks di Jepang punya pilihan menu minuman soy latte (bahagialah saya si pecinta susu kedelai), spot Starbucks ini adalah konon paling okerio untuk menonton manusia-manusia yang menyemut di Shibuya intersection. Sayang, karena keunggulannya tersebut, harga tiap makanan dan minumannya sedikit lebih mahal dibanding gerai Starbucks lainnya.

Sayangnya lagi, Starbucks di toko buku Tsutaya ini bukanlah Starbucks yang besar. Jangan bayangin kayak di Jakarta, yang luasnya mampu memuat berbagai macam sofa, tempat duduk kecil, sampe dibedain antara smoking dan non-smoking area.

Starbucks Tsutaya Bookstore ini terletak di lantai dua gedung, dan luasnya cuma seiprit! Dengan reputasi tempat nangkring di Shibuya dan weekend pulak, sepertinya  akan sulit mendapatkan spot di depan kaca persis. Huhu!



Apalagi waktu itu saya disambut pemandangan asem: muda-mudi jepun yang lagi pacaran. Aduh bilang deh gue nenek-nenek bawel, tapi pemandangan orang pacaran mana ada yang enak diliat, apalagi orang Jepang yang bergaya hidup bebas gitudehkaka. Ciuman di tempat umum udah jadi hal yang biasa. Mengganggu? Nggak, kalo kita nggak nungguin spotnya dese! Hih, pengen jewer trus seret balikin ke emaknya deh rasanyaaaaa….

Setelah menunggu lama (ada setengah jam kali ya. Udah hampir ngeluarin jurus elus-perut-ngasi-tau-gue-hamil-lho-kasih-duduk-kek-kalo-punya-hati), akhirnya orang yang di sebelah abege pacaran itu (bukan yang pacaran lho) minggat juga. Alhamdulillah.

Karena perjuangan mendapatkan tempat duduknya sedikit membuat lengan tersingsing, maka kami nggak mau rugi. Duduk aja lah sampe gelap di sini! Toh nggak ada rencana untuk kemana-mana lagi.

Setelah hari gelap, kami sebenarnya masih ingin melanjutkan ke Tokyu Hands. Tapi karena pocket WiFi kami udah menemui ajalnya kembali (pites juga nih pocket WiFi), maka kamipun jadi malas untuk berkeliling mencari lokasi.

Yastralah, saatnya kembali lagi ke hotel dan memejamkan mata. Karena hari ini satu rencana itinerary telah dicoret dan disempilin di hari esok,  maka esok pasti akan menjadi hari yang padat, sepadat onigiri.

Until next day!

Good night, Shibuya..

No comments:

Post a Comment