Sunday, October 13, 2013

Japan (Babymoon) Trip Day 3: Exploring Kyoto

Sabtu, 13 April 2013

Started the third day in Osaka with…..

EARTHQUAKE!!

Jam 6 pagi waktu Jepang (kira-kira jam 3 pagi waktu Jakarta), di saat saya dan Mono lagi ngorok-ngoroknya, tiba-tiba semua bergetar kencang.

GEMPAAAAA!

Nggak ada yang bisa mendeskripsikan perasaan saya saat itu deh. Nggak ada urhensi juga untuk update status saat itu juga. Secara gempanya JAUUUUH lebih kenceng dibandingin sama gempa di Jakarta. Nyeremin banget kakaaaa… Mana dua tahun sebelumnya kan kejadian gempa di Jepang yang menyebabkan tsunami. Alhasil, hanya bisa pelukan sama Mono sambil megangin perut dan mau nangis. Huhuhu..

Alhamdulillah, dalam waktu 1 menit gempanya berhenti.

Setelahnya, langsung cek twitter dan dapet info gempa barusan mencapai 7 skala richter lho. And as if like nothing happened, ketika lihat pemandangan ke bawah, orang-orang nggak ada yang berkumpul atau gimana tuh. Biasa aja. Gempa bumi memang hal biasa di Jepang. Bahkan konon katanya tiap gedung juga udah di-desain sedemikian rupa agar nggak mudah runtuh. Apalagi kalau liat reaksi Japanese tiap gempa, wajah datar sambil pegangan di tempat udah jadi hal yang lumrah.

Nggak jadi takut deh. Kapan lagi ngerasain gempa saat traveling, di negara khasnya sendiri? :)) Langsung berasa ditahbiskan jadi traveler sezati! *digiles Trinity*

Ok, balik ke cerita jalan-jalan.

Rencana awalnya, kami pengennya nginep semalam di Kyoto. Tapi karena keterbatasan waktu dan engingat perut buncit ini mengundang kontraksi jika geret-geret koper lagi, maka rencana menginap di Kyoto dibatalkan dan diganti dengan bolak-balik Osaka-Kyoto-Osaka dalam sehari.

Maka pagi itu meluncurlah kami ke stasiun Shin-Osaka, untuk menuju Kyoto. Sesampainya di sana, ternyata drama gempa masih berlanjut. Kereta JR yang akan mengangkut kami ke Kyoto hari itu, tidak beroperasi sampai waktu yang tidak ditentukan gara-gara gempa.

WUAAATTTTT??

Padahal, satu-satunya cara untuk menuju Kyoto dari Osaka adalah dengan kereta JR. Ada option kedua sih yaitu Shinkansen, tapi tentunya jauh lebih mahal. BEN CA NA!

Tunggu punya tunggu, nggak ada kepastian sampai jam 11 siang. Gajah makan pesawat kan. Nggak cuma budget, jadwal perjalanan ini nasibnya bisa amsiong kalau begini caranya.

Nungguin kereta JR.. Akhirnya tu kursi lipet kepake juga!


 Yacuslah, Shinkansen pun jadi!

Walaupun sambil pasang muka asem, kamipun akhirnya menuju loket tiket Shinkansen untuk membeli tiket. Ya apa boleh buat, nggak ada lagi pilihan untuk mencapai Kyoto. Switch itinerary udah nggak mungkin mengingat ini hari terakhir kami di Osaka. Besok sudah harus menuju Tokyo.

Hampir tengah hari, Shinkansen yang akan mengangkut kami pun datang. Melompatlah kami ke dalam tanpa melihat gerbong lagi. Udah naik Shinkansen, berharap dong dapet duduk? Walaupun kami belinya tiket unreserved seat. Sayangnya, kami harus bersabar lagi, karena perjalanan Osaka-Kyoto yang ditempuh selama 30 menit harus dijalani dengan berdiri! Musababnya, kami dengan oonnya masuk ke gerbong yang reserved seat. Ya manalah orang mau kasih seatnya, orang mereka bayar! Mau kasih liat perut buncit juga nggak ngaruh ya. Suwe.

30 menit kemudian. akhirnya kami sampai ke Kyoto Station. Welcome to Kyotooo! Lesgoagogo!


Fushimi Inari Shrine

Kyoto ibaratnya kota sejuta kuil. Nggak afdol kalau mampir ke kota ini nggak mampir ke salah satu kuilnya. Nah, salah satu kuil incaran saya adalah Fushimi Inari Shrine. Kenapa? Nggak papa, naksir aja sama warna orange-nya gara-gara nonton Memoirs of a Geisha. Hihihi..

Dari stasiun Kyoto, kami harus naik JR Nara Line Local, dan sampai di stasiun Inari yang mini. Di depannya, langsung disambut gapura Fushimi Inari Shrine yang warnanya ngejreng.







Dari sekian banyak dewa yang disembah oleh penduduk Jepang, Fushimi Inari adalah salah satu kuil yang menyembah rubah. Makanya nggak heran kalau ada patung rubah di mana-mana.



Sebelum masuk untuk lihat-lihat, kita diharuskan untuk mencuci tangan dan mulut dulu di tempat yang disediakan. Mungkin sejenis berwudhu untuk umat muslim kali ya..







Baru beberapa meter melangkah, kami tergoda untuk membeli sejenis gantungan berbentuk gapura Fushimi Inari Shrine seharga 80 yen. Di sini kami bisa menuliskan keinginan dan cita-cita untuk digantung di kuil.

Nggak muluk-muluk deh wishesnya...



Lalu, dimulailah penelusuran di kuil Fushimi Inari.




Noni-noni mau kemana siiih?


Jalan panjang yang dihiasi oleh palang-palang berwarna oranye ini ta’kira pendek lho, ternyata puanjaaaaanggg…  Nggak ada ujungnya. Jalanan ini menuju bukit, jadi sungguh tak recommended untuk bumil yaaa..

FYI, berbagai gaya di foto-foto berikut ini, walau terlihat candid, sebenarnya sangat direncanakan.







Model berfoto bersama sang fotografer

Oiya, palang-palang besar berwarna oranye yang jadi ciri khas Fushimi Inari Shrine nggak lain dan nggak bukan bertuliskan nama para donatur. Semakin besar uang yang disumbangkan ke kuil ini, semakin besarlah palang yang didapatkan bertuliskan nama sang donatur.

Setelah kaki dirasa mulai ngilu, akhirnya kami turun dan lihat-lihat jajanan yang tersedia. Kebiasaan nggak boleh laper dikit!



OKONOMIYAKIII!!


Arashiyama Bamboo Grove & Tenryu-Ji Temple

Dari Fushimi Inari Shrine, perjalanan berlanjut ke Arashiyama. Di sana, kami bakalan menyambangi Arashiyama Bamboo Forest.

Suasana Kyoto memang bedaaaa banget sama Osaka yang lumayan padat. Rumah-rumahnya terlihat lebih rapi dan suasananya lebih zen. Cintaaa! Kalo saya udah tua, jadi cita-cita ngungsi ke sini (pake duit mbahmu).









Dari stasiun Sagaarashiyama, kita langsung menuju Arashiyama Bamboo Forest. Lho, kusangka tempat ini sepi lho.. Ternyata lumayan rame, karena hari Sabtu. Sepanjang Bamboo Forest pun dipenuhi muda-mudi yang lagi pelesir, dan mostly sih… pacaran! Nggak di Jepang nggak di Kebun Raya Bogor, kalo pacaran emang enaknya cari semak-semak ya..





Di sepanjang bamboo forest, banyak banget nih nemu rickshaw begini. Subhanallah! Pada kuat-kuat amat tuh ya mas-mas! Pengen naik tapi lagi hamil, nanti dibilang nggak tau diri.



Salah satu sudut Arashiyama.. Surreal.
Menelusuri bamboo forest, kita ketemu sama Tenryu-Ji temple. Awalnya kami nggak tahu ini temple apa sih? Mana masuknya bayar pula! Dih. Tapi ya demi menuntaskan rasa penasaran sambil coret persediaan dana darurat sedikit demi sedikit, akhirnya kami memutuskan masuk ke dalam Tenryu-Ji Temple.




Yasalaaaam, Subhanallah, Allahu Akbar! Nggak nyesel deh memutuskan masuk sini. Tenryu-Ji ternyata adalah salah satu dari lima zen temple yang ada di Kyoto. Dibangun oleh Muso Soseki, the Zen Buddhist himself. Jadiii, kurang zen apa temple ini? Pokoknya hati damai di sini. Surga tingkat paling bawah mungkin bau-baunya begini kali ya…






The garden of Tenryu-Ji, MAGIS!




Gion District

Setelah Arashiyama Bamboo Forest, tujuan kami tak lain dan tak bukan adalah Kawaramachi Station. Di sini kami akan menuju Gion dan Pontocho, daerah yang konon banyak dilewati geisha atau geiko. Selain itu kami ingin lihat juga Nishiki Market, pasar yang katanya makanannya seru-seru.

Sesampainya di Kawaramachi Station, ternyata hari sudah mulai gelap. Dan Kyoto saat itu RAMEEEEEEEnya mak.. Kami pun jadi bingung mengarah kemana. Kyoto memang minim penunjuk jalan dan saat itu pocket wifi kami sudah metong semetong-metongnya. Daripada maksa, mari kita menghangatkan diri sejenak dan selonjorin kaki di pinggir sungai (yang entah namanya apa).


Pose begini maksudnya peregangan bibir yang udah kering akibat udara dingin di Kyoto

Mulai mati gaya (dan kedinginan), kamipun berdiri mengikuti kaki melangkah. Haduh, ke arah mana ini ya? Kami masuk pos polisi untuk bertanya tapi kurang terbantu. Yastralah, jalan aja. Lalu, kami berdua menemukan lorong sempit yang penuh dengan ochaya (teahouses) dan restoran. Inikah Pontocho? Ya, PASTI INI! (dengan nada penuh keyakinan)




Sayangnya, walau hari sudah mulai gelap, penampakan geiko nggak juga terlihat. Mungkin karena masih sekitar jam 7 malam ya.. Geiko pasti berseliweran di antara jam 11 hingga malam hari. Kami pun akhirnya juga menemukan Gion District yang.. masih sepi. Krik krik krik.

Tunggu punya tunggu, akhirnya Geiko yang dinanti muncul juga! OH GEIKOOO! Saya pun langsung menghampiri dengan semangat.

Sayangnya dese terlihat sangat buru-buru dan bete karena mendadak dihampiri oleh para turis yang ngebet pengen motret (termasuk saya, hehehe…)

Ibu Geiko jangan bete dong buuu.. Jelek kan jadinya foto akik!


Kamipun beranjak ke Gion dengan harapan, akan lebih banyak geiko. Sayang seribu sayang, karena masih sore, geiko pun enggan keluar. Akhirnya, foto-foto di sepanjang Gion aja lah ya.. Hiks.









Dari sana, kami berniat untuk ke Nishiki Market yang katanya “dapur”nya Kyoto, karena punya berbagai makanan enak khas Kyoto yang terkenal banget. Sayangnya karena sudah gelap, Nishiki Market udah tutup. HUAAAA! *robek2 itinerary*

Walaupun banyak yang nggak kesampean, perjalanan kami ke Kyoto cukup mengesankan (sambil mengingat-ingat prinsip jalan bareng bumil).

Kami pun kembali ke Osaka, dan bersiap-siap untuk packing karena besok kami akan ke Tokyoo! Horee!














No comments:

Post a Comment