Wednesday, June 26, 2013

Japan (Babymoon) Trip Day 1: Jakarta-Denpasar-Osaka, Osaka Castle, Dotonburi

Rabu, 10 April 2013
Keberangkatan kami diawali dengan sedikit drama di CGK. Dengan tiket konsesi Mono, seharusnya kami bisa upgrade ke eksekutip kles jika ada kursi kosong, layaknya waktu jalan-jalan di Singapore. 

Nah, karena lagi  bunting, maka saya berharap banget dong ya bisa dapet rejeki ini lagi. Mono sih yakin kita bakal bisa apgret, lha wong pesawatnya airbus kok, lebih gede dan dia yakin keberangkatan ke Osaka pasti nggak terlalu rame.

Tapi, pegawai counter check-in Garuda ini sepertinya orang baru dan nggak paham dengan sistem ini. Jadilah ia men-checkin kami dengan kelas ekonomi, dari CGK-DPS-KIX. Haduh mamaaa! Aku langsung prustrasi. Gimana punggung ini punggung? *menjelma menjadi kanjeng ratu bunting*

Akhirnya dijabaninlah penerbangan ke Ngurah Rai dengan tiket ekonomi dengan perasaan deg-degan. Untung cuma sejam ya. Ketika sampai Ngurah Rai, kami memutuskan untuk check-in lagi. ALHAMDULILLAH, kali ini request accepted. Leganyaaa :)

Kamis, 11 April 2013

Kansai International Airport

Setelah transit selama 3 jam, we are ready to fly to Osaka at 1 AM.

What I love the most about night and long-haul flight is, bisa tidur sepanjang perjalanan. Beda dengan perjalanan ke Singapore, kali ini kami naik Airbus A-330, di mana seatnya bisa full-reclining layaknya tempat tidur.  Dan dapet bulkhead seats, alias paling depan. Jadinya nggak terganggu dengan reclining seat di depan saya. This is what bumil needs the most!

Muke baru bangun..

Saya pun bisa tertidur lumayan enak sepanjang perjalanan. Beda banget sama waktu ke Hong Kong. Mari kita ucapkan kembali:  Alhamduuuuu.. lillaaaaahhh… rejeki Ncung nih!

Tujuh jam kemudian, kami pun sampai di Kansai International Airport pukul 8 pagi. Ohayogozaimasuuu!




Ada kejadian aneh bin ajaib waktu baru sampe banget dan lepas imigrasi. Kami tiba-tiba kita dicegat sama orang berjas yang ngakunya pulisi. Emang polisi sih kayanya, karena dia nunjukkin identitasnya di dalam jas. Ceyem.. Dia nanya Mono dan saya, “Di sini sampe kapan? Liburan atau kerja? Dari mana?” sambil minta paspor.

Karena kami punya dokumen yang lengkap, dia pun mempersilakan kami pergi. Langsung berasa tampang kita mirip teroris!

Sama seperti yang dilakukan Fry,  nggak afdol ya kalo sampe Jepang adalah nggak nyoba toiletnya yang mutakhir. Kemutakhiran Jepang memang kayaknya sengaja ditunjukkin di bandara-bandaranya, terutama di toiletnya.


Nggak cuma tombol flush dan c*b*k, Ada Flushing Sound buat meredam bunyi-bunyian kurang endes didengar , dan “deodorizer”untuk menetralisir aroma-aroma tak diinginkan. No air freshener needed, no pura-pura batuk pas ngeden needed. Simpler simpler life!

Setelah puas nyoba toilet, cuci muka, ganti baju, pupi pagi, dan mencoba berbagai milk tea dari vending machine, mari menuju post office untuk menjemput pocket Wi Fi.


For the sake of social media these days when traveling, pocket WiFi jawabannya. Terutama di Jepang. Kenapa? Karena di Jepang yang kota-kotanya terkenal mahal, WiFi gratis itu susah ditemuinnya kayak orang ngutang. You can’t just enter a coffee shop, order an ice tea, and then abuse the internet for the whole day like here in Jakarta. Di hotel, WiFi hanya tersedia di lobby. Di Starbucks pun, kita sudah harus terdaftar sebagai user dan sudah punya password sendiri.

Package for us!

Isinya..
Karena itu, pocket WiFi sangatlah berguna. Ada berbagai pilihan pocket WiFi di Jepang, tapi pilihan saya dan Mono jatuh ke Rentafone, karena paling murah. Proses pemesanan pun cukup gampang. Sebelum berangkat,  tinggal register di websitenya, bayar pake cc, jemput di post office di airport. Untuk mengembalikan,  tersedia perangko di dalamnya dan tinggal poskan lagi atau titip ke hotel.

Sayangnya, pocket WiFi kami ini memiliki beberapa kekurangan. Saya nggak tahu ini hanya Rentafone yang mengalaminya tapi ternyata pocket WiFi kami hanya bertahan 4 jam sehari dan cepet panas. Duh! Jadinya nggak bisa dinyalain setiap saat dan kami selalu jadi anak panik cari colokan. Males ya..

Setelah menjemput pocket WiFi, akhirnya kami keluar bandara juga sekitar pukul 10. Reaksi pertama kami? KEDINGINAN! Dari tadi kami nggak sadar, kalau berkeliling di dalam airport yang memakai penghangat. Maklum ya, kami kan belum pernah bertandang ke negara empat musim. Ndeso deh! 
Sebenernya suhu di Jepang saat spring kali ini nggak dingin-dingin amat, sekitar 10-11 C. Kayak di Puncak lah.. Tapi anginnya menusuk. Saya yang cuma pakai dalaman, kaus, dan cardigan pun menyesal, kenapa nggak pake long john? (Itu mah lebay ya…)

Sebelum memulai perjalanan, ada baiknya kita beli Icoca dulu. Sama seperti Octopus Card di HK, atau Ez Link di Singapore, Icoca adalah top up card untuk transportasi kereta di Jepang bagian barat. Bedanya, Icoca seharga Y 2000 ini hanya untuk kereta dan nggak bisa untuk naik bus. Selain beli Icoca, kami juga membeli tiket Shinkansen untuk perjalanan ke Tokyo 3 hari kemudian.


So let’s go! Kami turun dan mulai perjalanan dengan kereta untuk tujuan Namba Station.  Karena letak Kansai International Airport berada di sebuah man-made island di luar area Osaka dan lumayan jauh, maka perjalanan akan memakan waktu sekitar 1 jam.

Aaaandd.. another stupidity we made: kami naik kereta local!

Kereta-kereta di Jepang memang bikin pusiang. Ada yang milik pemerintah, ada juga yang swasta. Selain line-nya yang banyak, ternyata ada juga klasifikasi kereta berdasarkan transitnya, seperti Local (berhenti di tiap stasiun), Express (nggak turun di beberapa stasiun), dan Rapid (lebih sedikit lagi yang ditransit). Puyeng? Makanya, nurut sama Hyperdia!



Sunny, sunny day in Osaka

Karena kami asal lompat masup kereta yang bertuliskan Namba, maka kamipun tertahan lama banget di satu stasiun antah berantah. Udah goler-goler, ngupil-ngupil, kok ini lama banget nggak jalan-jalan?

Akhirnya nanya ama seorang ibu yang lagi nunggu di dalam kereta juga. Ibu ini ternyata nggak paham bahasa Inggris, tapi berusaha banget menjelaskan. Aduh kasiman! Diana capek, kitanya ora mudheng. Akhirnya kami pun ber-‘’OK, OK, thank you, arigato gozaimas” sambil tersenyum, dan dia pun pergi meninggalkan kereta. LAH????

We get it that Japanese is very nice and helpful, but leaving because of embarrassment of not helping? Jadi merasa bersalah :))))

Turun kereta aja deh..


Akhirnya nanya sama noni-noni ini..

Yaweslah, akhirnya kami turun kereta, dan memutuskan nanya aja sama yang berseragam. Kamipun berganti kereta dan nyampe Namba Station 20 menit kemudian.


Floral Inn Namba Hotel
Namba Station, ternyata juga jelmaan mall dari Namba Walk. Sepanjang jalan, banyak toko-toko dan restoran. Hotel kami, Floral Inn Namba, terletak di exit 26.

Namba Walk







Floral Inn Namba, letaknya sangat strategis dan di tengah-tengah keramaian. Malahan, di belakangnya ada Dotonburi, pusat keramaian di Osaka saat malam hari.  Pas di sebelah gedung hotel, ada Sunkus (convenience store milik Circle K) buat beli-beli sarapan atau onigiri. Ratenya sekitar Y 880/ malam tanpa sarapan.


 


Kamarnya? Lupis mau dipoto. Hahahaha… *salahkan otak hamil* Foto-foto di Agoda sudah cukup menjelaskan sih. Yang jelas mini, sempit, tapi cukup nyaman. Yang aku suka, tap water alias air keran di hotel-hotel Jepang aman buat diminum. Buat bumil yang cepat haus, ini bagai surga di telapak kaki wastafel.


images from Google
Selesai titip koper-koper, kamipun melanjutkan perjalanan ke Osaka Castle.


Osaka Castle

Dengan perjalanan yang cuma 10 menit, kamipun sampai di Osaka Castle. Komplek kastil bersejarah dan megah yang super cantik dan indah, bahkan kalau lagi spring sering dipakai untuk hanami (sakura viewing, duduk-duduk piknik sambil menikmati sakura ala warga Jepang).

Halo sakura, walaupun lagi merontok!

                                 





Ketika kami memasuki komplek Osaka Castle, kami langsung disambut oleh dua orang guide yang sudah berusia manula. Kamipun awalnya menolak untuk memakai jasa guide. Maklum ya, mental Indonesie, kalo disamperin ditawarin jasa gini kan bawaannya curigation. Bayar berapa nih?

Ternyata, KHRATIS! Guide kami bernama Katsuo Kuma, seorang kakek yang katanya lumayan bahasa Inggrisnya. Setelah kenalan sama Katsuo, dia ngenalin kami sama rombongan cewek-cewek Indonesia yang udah seminggu di Jepang. Mereka mulai perjalanan dari Tokyo dulu, baru lanjut ke Osaka.

Mr. Katsuo Kuma

Perjalanan pun dimulai. Rame-rame (sekitar 7 orang), kami diantar Katsuo menuju tiap sudut di Osaka Castle.








Eh ada penganten lagi priwet!



Sayang, walaupun bahasa Inggris Mr. Katsuo lumayan, tapi ngomongnya memang kurang jelas. Jadinya nggak paham. Mau suruh ngulang, kasian. Ntar dosa sama orang tua!


Selain menjelaskan sejarah Osaka Castle, Katsuo juga menunjukkan spot foto yang katanya paling indah dan nggak semua orang tau. Baiknyaaaa orang tua ini. Aku jadi terharu :’’)




Setelah sampai di gerbang Osaka-jo alias kastilnya itu sendiri, tugas Katsuo pun selesai dan kita berpisah. Katsuo nggak minta bayaran sedikitpun lho. Mereka tulus menjalankan pekerjaan mereka tanpa mencari keuntungan. Emang deh, dedikasi tinggi para Japanese begini yang menurut kita langka, tapi buat mereka itu biasa aja. SALUT sampe mau nangis!

Mono terkagum-kagum sama Katsuo, sampe minta foto bareng :))

Kalau jalan-jalan di komplek Osaka Castle gratis, maka memasuki Osaka Castle kami harus bayar Y60. Museum ini terdiri dari 5 lantai, dan menjelaskan tentang perjalanan dan kekuasaan Hideyoshi Toyotomi. Untuk lantai 1 dan 2, kita nggak boleh mengambil foto. Sedangkan lantai 3-4-5 boleh.

Tampak depan Osaka-jo
Uniknya selain benda-benda bersejarah, di dalam Osaka Castle ada juga hologram mini movies. Sayang dalam bahasa Yapon (langsung niat les bahasa Jepang abis ini). Niat dan bagus banget. 

Hologram mini movies

Yang mau foto-foto bisa sewa topi-topi ini.

Paling atas, Osaka Observation Deck, bisa viewing kota Osaka dari ketinggian.

Begitu turun, kami disambut hujan. Ngemil takoyaki sama minum minuman anget dari vending machine dulu deh ah…

Add caption

Dotonburi
Dari Osaka Castle, kami pun balik ke hotel untuk mandi dan istirahat. Sebenernya si kanjeng bumil ini udah pegel luar biaso, tapi belom makan. Yasudahlah, akhirnya kami putuskan untuk cari makanan di Dotonburi.

Hello, Dotonburi!


Malam itu Dotonburi rame banget, walaupun bukan weekend. Sebagai pusat entertainment di kota Osaka, Dotonburi penuh sama lampu neon, toko-toko, dan restoran. 









Ini anak sekolah kok kelayapan sampe malem sih? Ta'bilangin sama mama lho..


Walaupun penah sama restoran, kami kok bingung mau makan apa. Ya itu, karena biasanya menu restoran ditulis dalam aksara Jepang, dan orang restoran nggak menginggris. Nyerah!
Liat-liat aje neng.. Ga mampir?


Akhirnya, masuk Family Mart, pilih bento, dan duduk di tengah-tengah Dotonburi sambil makan. Where in the world chairs in the convenience stores like in Jakarta when we need them the most? :)))


Hosh hosh.. Petualangan di Jepang hari pertama yang udah panjang ajee… Tapi hari esoknya saya jamin akan lebih pendek karena kami akan ke Universal Studios, tempat dimana bumil kebanyakan duduknya hahahaha…

Alhamdulillah for our first day in Japan!

No comments:

Post a Comment