Thursday, June 20, 2013

Babymoon To Japan: The Preggo Preparation

Cieeeh babymoon niyeeee… Padahal mah awalnya nggak ada niat bebimun-bebimun segala. Kan ceritanya tiap tahun Mono dapet hak tiket konsesi khratis. Ya cuslah di akhir tahun 2012 kita udah menentukan mau ke Jepang bulan April 2013.

Eh, akik buntiang! Jadinya bingung deh, apakah rencana jalan-jalan ini akan tetap dipertahankan? Terus, apakah tetap nekat jalan-jalan ke destinasi 3 kota? Alhamdulillah, ternyata, keadaan hamil saya cukup sehat a.k.a non mirasantika alias tidak memabukkan. Maka, mulai yakin deh dengan  trip ini. Apalagi, umur kandungan 14-27 week katanya is the perfect time to fly. Tapiii.. Tetep aja yang disiapkan sedikit beda, baik secara fisik maupun mental. Preggo preparation begins!



-          Kursi lipet on the go!
Bumil ga boleh terlalu cape, benar adanya. Lalu apa kabar traveling ke Jepang, yang mengandalkan kekuatan kaki dan transportasi umum? It’s not like going to Bali dimana kita bisa sewa mobil dan duduk-duduk di pantai.  Transportasi umum di Jepang artinya bukan naik taksi ya, karena MUAHAL BUANGET! Jadi, kereta adalah opsi utama dan satu-satunya sarana wandering around Japan.

Karena itu ketika seorang teman menyarankan saya untuk bawa kursi lipet di sana, saya langsung *tring* boleh juga ini idenya! Alhamdulillah Mono nggak keberatan nenteng selama di sana, agar saya bisa duduk tiap merasa capek. Jompo banget yaaa? :D


Meskipun pada prakteknya, ternyata kursi lipetnya nggak terlalu terpakai. Karena, ternyata Jepang sangatlah pedestrian-friendly, di mana-mana tersedia tempat duduk dan jumlahnya banyak.  Apalagi di dalam kereta ada seat khusus senior citizen dan ibu hamil.  Cintak deh!


-          Siapin alamat RS terdekat
Kalo sebelumnya jalan-jalan siapin alamat tempat makan atau toko-toko tersembunyi, ada lagi satu hal yang mesti disiapin: alamat rumah sakit terdekat. In case (nauzubilahminzalik)  something undesired happen, misalnya flek (amit-amit), kita udah nggak panik lagi mesti kemana.


-          Nggak boleh ngoyo!
Kalo yang ini urusan mental dan ikhlas-mengikhlaskan nih. Namanya juga lagi di negeri orang dengan waktu terbatas, pastinya semuanya pengen dijabanin. Kalo bisa 10 destinasi dalam satu hari. Lebheeey… Capek jadi bukan masalah, ya nggak sih?

Lain halnya dengan ibu hamil. Ngoyo is a huge no-no! Dari 3-4 destinasi dalam sehari di itinerary, setengahnya kurelakan. Prinsip yang harus dikekep erat-erat “Yang penting udah jalan-jalan’’! Toh, nyesel nggak mendatangi satu destinasi nggak sebanding dengan nyeselnya kalo terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ya nggak bundaaaaa….


-          Eat right
Eat local itu kan salah satu yang jadi tujuan traveling. Apalah artinya ke Malang tanpa makan Bakso President. Apalah Bangkok tanpa ayam bakar atau manisan buah pinggir jalan yang bercampur keringet abangnya. Dan apalah artinya ke Jepang tanpa nyobain.. authentic sushi! Tapi kalo lagi hamil begini, saya nyerah aje deh yeeee…  Sekali lagi, prinsip ‘yang penting udah jalan-jalan’harus diteguhkan dalam hati.

Perjalanan ke Jepang kemarin buat saya walaupun nggak budget-traveling amat, we had certain budgets for meals. Dan kuliner bukanlah destinasi utama di Jepang buat kami. Apalagi kemungkinan untuk makan makanan yang mengandung babi amatlah besar, karena street food yang bertuliskan bahasa Jepang, dan local people yang mostly nggak bisa menginggris. Authentic sushi in the restaurant (yang udah pasti mahal dan mentah. No fusion!) is not our destination then. Jadi? Bento from Lawson and 7eleven FTW!
Chicken katsu aja deh...

Walaupun bumil masih boleh mengonsumsi kafein, menurut BabyCenter kurang-kuranginlah minum teh dan kopi dan perbanyak minum air putih. Kafein membuat bladder bumil yang udah meronta-ronta bikin semakin merana.

Snacking juga penting, karena bumil cepet laper. Di Jepang, untungnya Family Mart tersebar di seluruh penjuru. Saya sering banget mampir untuk beli roti atau onigiri isi ikan. Ikannya matang, dan yang pasti rasanya enak!




-          Basic rules of packing: obeyed!
Bawa sepatu nyaman, dan pack light sih aturan dasar traveling banget ya. Tapi saya sering banget sih melanggar aturan itu, hahahaha.. Lebih karena pengen bawa baju cadangan aja dan lebih terlihat “ganti-ganti”di foto. Yes I’m that shallow :D Tapi buat bumil, jangan deh. Yang ada nyesel sendiri ntar karena bawaan terlalu berat, apalagi yang pindah-pindah kota seperti saya. Kalo bisa, buat list mau pakai baju apa tiap hari, and don’t think twice untuk meninggalkan “baju cadangan.” In my case, suhu Jepang yang lumayan dingin, mengakibatkan saya nggak keringatan samsek sehingga nggak perlu ganti sweater tiap hari, paling hanya ganti tanktop/ singlet untuk daleman.

For shoes, I use Wakai for the sake of comfort and some comfortable boots I ordered from online store for the sake of “gaya di foto!”. Huahahahaha…


Si Wakai
Si boots

Persiapan-persiapan ini tentunya nggak sama tiap bumil, yang mungkin mengalami beberapa perasaan unik seperti mual atau sakit punggung, pasti punya obat penawar yang nggak boleh lupa buat dibawa.

For me, it’s done. JAPAN HERE WE COMEEEE!!!

4 comments:

  1. Wah, thank you for writing this mba Riri.... Aku sama istri memang hobby traveling, dan sebelum baby lahir (dan itu tandanya kami akan "gantung paspor") kami mau babymoon dulu... Hehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe sama2 ya Saesarez, semoga kehamilan istrinya sehat dan babymoonnya seru :)

      Delete
  2. ntu umur kandungan brp mbak waktu pegi??? saya parno nih. tiket telanjur beli. 3 hari kemudian bini tekdung. galau neh antara batal dan pergi. kandungan my wife sekitar 6.5 bulan waktu pergi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu itu saya 5 bulan. Alhamdulillah selama hamil sehat2 aja kondisinya. Kalau menurut pengalaman banyak ibu2 lain, usia kandungan 6 bulan masih aman untuk pergi naik pesawat, tapi agar lebih yakin konsultasi sama dokternya saja mas. Semoga bisa jalan2 :)

      Delete