Tuesday, March 12, 2013

On this 15th Week..


Oke, setelah update pertama tentang kehamilan minggu ke-5, inilah update ke minggu…. 15! Trus, ngapain aja selama 10 minggu ini?


EXPERIENCING HAMIL KEBO
Setelah pasang kuda-kuda untuk menyambut morning sick, endless muntah, dan lemes berkepanjangan,  yang ditunggu TAK KUNJUNG DATANG. LHO? Ternyata, memang saya mengalami yang namanya hamil kebo. Hamil kebo yang filosofinya nggak jelas dateng dari mana; mungkin walaupun hamil tetap rajin membajak sawah (beraktivitas)?

Meskipun di minggu-minggu pertama kalau ditanya, “Gimana, mual-mual nggak? Ngidam apa?” Cuma bisa jawab, “Belum nih,” instead of “Nggak nih, enak banget hamilnya”.  Takut kualat! Kalo besok dikutuk muntah 30 detik sekali sekali gimana?

Intinya, Alhamdulillah wa syukurilah, saya nggak direpotin sama hal-hal mual dan sebagainya. Belum kali yaaa beluuuummmmm…. *another takut kualat moment*


UNLEASHING THE INSIDE DRAMA QUEEN
Mungkin karena nggak mengalami mual, muntah, dan ngidam, efek kehamilan ini lari ke hormonal kali ya (Deeuuu… alasan). Saya jadi doyan nangis dan mikir yang macem-macem. No, it’s not like I’m not happy with the baby. Aslinya saya ini memang orangnya overthinking, dan keadaan tersebut makin parah semenjak kehamilan. Jadinya? Mevek lah mevek mevek mevek…  Di kasur mewek, sampe adegan mewek di bawah shower pun terjadi.  *and cuuuutttt!*

Saat nangis, rasanya pengen tampar diri sendiri deh. I really want to stop crying but I can’t. Ujung-ujungnya takut berpengaruh juga ke janin, yang katanya bisa ngerasain kalo ibunya sedih melulu.  Makin banyak yang dipikirin dyeeeeh..

Untungnya, fase unleashing the drama queen in me ini cuma bertahan hingga minggu ke-8 atau 9. Setelah fase ini?


FASE MAKAN ALA OINK
Kalo hal ini pasti banyak ibu-ibu yang mengalami ya.  Lingkaran setan kelaparan tiada ujung. Excusenya sih eating for two”, yang saya percaya cuma pembenaran aja. Lho kok, pembenaran? Yabes, makhluk kedua cuma seberat 50 gram, mau nelen apaan ibu-ibu??

Kalo di kasus saya, sebelum kehamilan ini, saya dan Mono lagi sibuk diet. Yes, setelah keduanya mencapai kemakmuran bersama setelah 1,5 tahun menikah, akhirnya insyaf dan sadar dengan mencoba berdiet. Ngga main-main lho, saya sempet turun 3kg setelah sebulan nenggak Herbalife dan potongan buah doang buat makan pagi dan malam, rajin jalan kaki dan berenang, sementara Mono turun 4 kg. Lumejen kan? Tapi ya, efek sampingnya, garuk-garuk tanah. Cuma bisa tersedu sedan tiap ada orang yang posting lagi makanan enak di Path. Sengsaraaaaaa…

Nah, momen kehamilan ini pun akhirnya dimanfaatkan dengan “MARI KITORANG BAPESTOOOOO!” Disikatlah semua makanan-makanan yang selama ini tak teraih, seperti Holycow, Pepes Ikan Majalaya, Fettucini Carbonara untuk makan malam, dan karbo-karbo setan lainnya. Suami sebagai pamil yang selama ini menderita karena titah diet dari sang bini pun ikut senang luar biasa…

.. Bisa ditebak, berat badan sukses manjat ke atas lagi.



NAGGING BLADDER
Yang paling saya rasakan selama buntiang ini sih, bladder yang lebih demanding. Hal itu dibarengi dengan rasa haus berlebihan kayak lagi puasa. Kompaklah mulut ini minta air, sedangkan yang di bawah minta dibuang. Jadilah pos pengeluaran tiap bulan boros galon aqua,  yang sayangnya harus berakhir di WC belasan kali sehari. Even so, every single pee feels like a victory. Really.


KEADAAN BAPAKE
Bapake, alias suamiku tercinta, adalah orang yang pertama kali tahu kalau saya hamil (ya iya dong…) Bahkan dia sampe nengokin ke kamar mandi, saat saya testpack di suatu pagi buta, nggak sabaran setelah sang bini telat sekitar dua minggu. Reaksi pertamanya, ”Ternyata bisa juga kita bikin anak ya sayang…” Hah?  
Nggak  heran sih, karena setelah menunggu selama 1,5 tahun, si jabang ini datang juga J Dan terbukti, walaupun suami saya adalah tipe pria lurus gak bisa romantis, ternyata jauuuuuh lebih romantis sama anaknya dibanding sama sang bini :/ Standar sih, nempelin kuping di perut kemudian ngomong sama si janin. Malahan sempet kepikiran mau bikin scrapbook isi foto USG segala (yang disambut dengan keluhan panjang saya yang orangnya emang nggak ada crafty-crafty-nya acan). Lah emaknya? Kayaknya malah jadi super tambeng, belom dapet tuh perasaan romantis-romantisan ingin ngobrol sama si janin..


WE’RE CALLING THE BABY..
…Ncung. Why? Karena ketika pemeriksaan terakhir di dokter seminggu yang lalu, yang kelihatannya duluan adalah… tulang hidungnya!  Jadilah kami panggil dia Ncung kependekan dari Mancung, padahal hati kebat-kebit juga kalau panggilan ini menjadi jinx. Pas lahir, ternyata pesek kayak emaknya. Tetot, anda salah!


CURRENTLY..
-          Perut saya semakin membesar.. Walaupun belum terlalu besar, dan badan yang bongsor ini membuat perut hanya terlihat buncit aja. Kalau orang yang ngeliat mungkin mikirnya, “Dih tuh cewek kebanyakan ngebir kali ya?” Nasib..
-          Memasuki week 16, kami berdua lagi ngurang-ngurangin ngomong “nggak bener”. Masalahnya, saya dan Mono kalau lagi ngobrol berdua mulutnya suka ga diayak :)) Makanya,  produksi kata-kata yang berbau air besar, kebun binatang, yang terkadang suka terucap kalau lagi ngobrol berdua haruslah dikurangi, karena dia memasuki bulan ke 4. Bulan di mana ruhnya ditiupkan. Nggak mau banget deh dia tumbuh mendengar perbendaharaan kata yang nggak enak di perutnya L
-          We’re planning our babymoon.. Yang semoga jadi dan lancar.  Walaupun awalnya nggak rela, I canceled 2 two of 3 trips I planned this year. Yang satu ini, semoga jadi before-parenting trip yang mengesankan yaaa J

No comments:

Post a Comment