Monday, April 23, 2012

The Thing About Denial


“People who undergo bitterness tend to deny beautiful things that come to them.”

Ini bukanlah quote dari pujangga, selebtwit, atau damnitstrue, tapi dari saya sendiri. Jreng! Kenapa saya bisa tiba-tiba sok tau bikin quote, karena dua film yang saya tonton minggu ini: Love and Other Drugs dan One Day.

Dua film yang dibintangi oleh Anne Hathaway ini kurang lebih sama, tentang perempuan yang sudah melalui berbagai fase pahit dalam hidup dan akhirnya “menolak” cinta yang datang kepada mereka, simply because they always assume that love is bad, and if something good comes to them then it’s too good to be true.

Emma Morley dan Dexter Mayhew, bertemu di tahun 1988 pada saat kelulusan kampus. Emma ngaku dia udah lama naksir Dexter, but somehow that night they didn’t have sex. Ternyata sampe tahun-tahun berikutnya, malam itulah yang menjaga mereka untuk tetap “berteman” saja, murni dalam artian no sex at all. Terutama karena mereka tumbuh berpisah dan jarang bertemu, tapi bagaimanapun tetap sharing life timeline yang sama. Karakter Emma mengingatkan saya kepada perempuan masa kini yang suka bermimpi, a bit mellow, and secretly weeping at night after work. Her life wasn’t easy, harus melupakan mimpinya jadi penulis dan bekerja jadi waitress dan guru sekolah supaya bisa melanjutkan hidup. Dia juga harus sharing kamar dan menjalani hubungan dengan seorang comedian wannabe yang momen lucu pria itu cuma terjadi ketika dia jatoh dari tangga. Buatnya, Dexter is the other side of the world to her, yang tinggal di universal paralel, namun sesekali berkunjung ke kehidupannya.  Emma membangun sendiri dinding denial-nya, selama 16 tahun dan sampai Dexter sudah menikah dan punya anak. Emma menganggap bahwa Dexter cuma bakal menambah kepedihan dan kegetiran yang sudah dia koleksi. I don’t want to be an annoying spoiler, tapi gampang ditebak selama 16 tahun akhirnya dinding denial itu runtuh juga.


Film kedua, Love and Other Drugs, hampir sama. Maggie Murdock yang menderita Parkinson, nggak percaya kalau bakal ada laki-laki yang bakal betah lama-lama sama dia. Apalagi Jamie Randall nggak lebih dari seorang bed adventurer yang nggak pernah serius sama satu perempuan. Long story short, in a cliche way, Jamie jatuh cinta beneran sama Maggie. Tapi Maggie nggak mengizinkan hal itu terjadi, karena dia merasa akan selalu jadi beban buat Jamie seumur-umur. Tapi untuk sesaat, Maggie pun merasakan juga betapa manisnya being as the center of the universe of someone, meskipun setelah itu dimentahin lagi. Enough for that addictive sugar.



Speaking of sugar, dialog termanis adalah ketika Jamie mengejar Maggie ketika ia harus beli obat secara rutin di sebuah kota yang harus ditempuh berjam-jam dalam bus penuh lansia. Kegigihan Jamie pun kemudian membuat Maggie pun mengakui hal ini, kelemahannya, hal yang paling ditutupinya:

Maggie Murdock: I'm gonna need you more than you need me. 
Jamie Randall: That's okay. 
Maggie Murdock: [crying] No it's not! It isn't *fair*! I have places to go! 
Jamie Randall: You'll go there. I just may have to carry you. 
Maggie Murdock: ...I can't ask you to do that. 
Jamie Randall: You didn't. 


Oh so much for being a strong woman.

Ditilik dari pengalaman yang tersisa di otak saya, biasanya makhluk bernama denial ini muncul setelah fase ekspekstasi yang udah mati duluan. Ekspektasi yang meninggal itu pun kemudian bereinkarnasi jadi mati rasa dan kemudian bereproduksi lagi sebuah makhluk bernama denial yang berbahaya. Kenapa saya sebut berbahaya, karena roda kehidupan tiap hari berputar, my dear. Nggak semuanya yang datang ke kehidupan itu bawa racun yang harus ditolak. Namun namanya juga resepsi otak, akan bereaksi sesuai dengan gumpalan pengalaman yang ada di dalamnya.

Kedua film ini pun pada akhirnya menyajikan akhir dari proses itu. The day when you tired of refusing, and just simply receive what has come to you without questioning.

And after that, everything has never been clearer.