Monday, February 27, 2012

One Evening with Feist

Before Leslie Feist’s music became “darker” (forgive my amateur term) before the “Metals” album, I’ve been a fan of her.  Feist ini lagunya yang nemenin saya awal-awal kuliah dulu (tahun 2004an). Beli CD “Let it Die” pun bajakan di barel UI. Maklumilah kantong mahasiswa.

Lagu favorit saya waktu itu: Inside and Out, One Evening, Mushaboom, Gatekeeper, Tout Doucement, When I Was a Young Girl, hampir semuanya. Tanpa perlu usaha, waktu itu udah afal mati deh sama lagu-lagu Feist. The autumn-y feeling yang ada di lagu-lagu Feist bikin saya jatuh cinta. Tapi pas album kedua, The Reminder, menurut saya Feist mulai “menggelap”. Walaupun begitu suka juga sih sama lagu “So Sorry”, “Brandy Alexander”, sama “1234”.

Album ketiga, “Metals”, lebih dark lagi. Ouch. Actually I’m not a big fan of dark music,  but Feist is unforgettable for her voice. Her vocal character: Not too powerful, creaky-voiced, misty, like whispering but in strong tone.  Sexy in a weird way lah pokoknya.


Jadi, berbekal membangkitkan romansa masa kuliah, harga tiket konsernya yang lumayan murah, plus usaha ngafalin lagu-lagu Feist di album Metals dua minggu sebelumnya (because I hate being un-singalong person in a concert),  Selasa 15 Februari lalu akhirnya ketemu juga sama Feist.

Dibuka sama Erlend Oye  (yeay!), suasana dibangun dulu lagu Cayman Islands, Close To You, sama satu lagu bahasa Norway dan dari band Big Star.  Sekitar 30 menit kemudian baru Feist muncul bersama pasukannya. She looked great with a mini dress, a medium bangs, and a guitar. Perfect picture!

Photo by: Yahoo! Indonesia
Lagu “Undiscovered First” dari album Metals langsung dimainin. Bener dugaan saya, pasti 70% konser ini bakalan berisi lagu-lagu dari album barunya. “Graveyard”, “How come You Never Go There”, sama “The Bad in Each Other” juga dibawain.  “Mushaboom” hadir dengan  aransemen yang berbeda. Lagu dari The Reminder juga eksis, kayak “So Sorry”, sama “I Feel It All” dan “Honey Honey”.  As expected, lagu-lagu favorit saya dari album Let it Die nggak dibawain :( Tapi di Encore dia kasih kejutan dengan nyanyiin lagu album titlenya “Let it Die”. Hore!

Lagu-lagu kayak “Commotion” sama “Caught a Long Wind”, “Anti Pioneer” were not really my cup of tea, jadi nggak singalong deh. But just by her voice, I was captivated and mesmerized. Bikin saya menikmati sepanjang konser. Nggak kepengen ngobrol apalagi foto-foto. Kamera pun  nganggur adanya.

Overall, Feist was very talkative. She said being in Jakarta was surreal, was feeling like in another dimension. Like very far-faraway.  Another scene: penonton  nyanyiin lagu “Selamat Ulang Tahun” buat stage managernya karena diminta sama dia untuk nyanyi Happy Birthday versi Indonesia. One chatty concert, for sure!

Sebagai encore, selain let it die, Sealion juga akhirnya berputar di Fairgrounds.  Encore kedua (yes, she did TWO ENCORES!) dia nyanyi bareng Erlend di lagu “The Build Up” (aaaakkk....), Intuition dengan Erlend as a dancer, plus “When I Was A Young Girl”. Such a closing.

Puas banget! That was one hell of a concert.

Thanks, Leslie! Even “One Evening” was not in your setlist, I’m glad to have a lovely evening with you.