Sunday, December 16, 2012

Things I’ve Done In My 27

Kata orang, umur 27 itu berkah. Soalnya 2+7 sama dengan 9, angka tertinggi. Katanya yaaa..

Mau bener atau nggak, sekarang sudah bulan Desember. Jadi, kalo ditang ting tung saya sudah menjalani umur 27 selama 11 bulan dan 26 hari. In 4 days, I have to say good bye to 27 *telen krim malem*

Nah, sebelum umur (yang katanya) keramat ini bertambah, napak tilas perjalanan ah. Ngapain aja sih saya di umur 27 ini?



I've left my job
Setelah hampir lima tahun selama 5 hari seminggu ketemunya kubikeeeeellllll melulu, maceeeet melulu, hawa surga bernama kesempatan resign itu datang. 

Walaupun hawa surga, awalnya saya sempet nggak rela. Nggak tau deh, dulu sempet berpikir kalau cewek juga harus punya penghasilan jikalau si suami (amit-amit) “macem-macem”. Hadeh, berat yaa. Ini juga sebuah keputusan  lumayan besar buat saya yang tadinya career-minded (cieeee...). Saya selalu membayangkan kalau saya bakalan bekerja terus sampe tua dan nggak kebayang rasanya nggak punya karir. 

Tapi kalau kondisinya berkata lain? Macetnya Jakarta bikin waktu kerja saya bertambah, yang harusnya 8 jam menjadi 12 jam. Dengan suami yang nggak kerja kantoran, susahnya amit-amit mau ketemu doang. Akhirnya, saya mengalah. Lagipula, saya nyerah juga sama macet *menatap kaki kanan yang kapalan*

Hari pertama jadi ibu rumtang tentunya dimulai dengan ngetwit ngehe, “Selamat hari Senin semua! *tarik selimut lagi*. Minggu pertama dihabiskan dengan jalan-jalan ke emol siang-siang sambil berkata, “Aduuuuh, nikmat yaaa ke mol siang-siang hari kerja nggak sambil ditungguin bos!” dan tentunya nggak boleh lupa tour de salon di hari kerja di saat salon lagi kosong. Jannatul firdaus!

Namanya juga fase baru, ya wajar dong yaaa ber-honeymoon period. Setelah sebulan dua bulan, rasanya jadi sama aja kok. Bek tu realiti lah ya. Bohong banget kalau dibilang saya nggak pernah bosen. Saya juga kadang merasa “nothing” dan nggak punya aktualisasi diri. Makanya, saya ambil orderan freelance copywriting. They helped me through my boring times.

Walapun nggak lagi kerja kantoran, nggak tertutup kemungkinan saya akan bekerja lagi. Saya juga mendengar beberapa teman yang dulunya sempat nggak bekerja beberapa tahun, kemudian balik lagi bekerja. Jadi Insya Allah kesempatan  nggak tertutup. Ketakutan-ketakutan tentang menjadi “nggak berpenghasilan” juga sementara ini saya singkirkan jauh-jauh. Bismillah, I’ll figure something out. 


I’ve moved out from my parent’s house
Kalau para buleleng di Amiriki sana sudah harus melaksanakan “wajib keluar rumah” umur 18 tahun, lain dengan di sini ya. Kalau anaknya nggak kuliah di luar kota/negeri, atau mungkin kuliah di tempat yang jauh (rumahnya di Bekasi kuliah di Depok, misalnya), kayaknya nggak mungkin untuk lenggang kangkung seenaknya ninggalin rumah.

Apalagi kalau punya mama kayak mama saya. Rangganya Cinta will never say to my mom “Elo nggak prinsipil banget!” karena mama saya sangatlah prinsipil. Prinsipil dalam hal apa? Ngekep anak. “Selama anak gue belum dikawinin orang, jangan harap bisa keluar dari kelek gue!” Walhasil, saya dan adik nggak boleh kuliah di luar kota, apalagi ngekos. Bisa dikira sek bebas. Hiiiii!

Akhirnyaaa, setelah 27 tahun 1 bulan, I finally can sniff the smell of freedom. Beberapa bulan setelah menikah dan nabung, akhirnya bisa ngontrak rumah sendiri. Yeeeesss!!

Kegembiraan dan tarian joget pisang karena berhasil tinggal di rumah sendiri tentunya harus ditahan dulu karena... nyicil perabotan dulu, yuk! *sigh*  Rumah mungkin harganya predictable, tapi perabotan dan printilan itu yang berat.

Walhasil, di awal tahun sampai 6 bulan setelahnya saya dan Mono pelan-pelan nyicil furnitur. Yang dapet dari orangtua: sofa. Ada juga kado dari kakaknya Mono berbentuk meja makan. Tempat tidur minjem dulu dari rumah saya (yang akhirnya sekarang udah dikembaliin lagi), dan meja rias yang sampe sekarang belum punya, hahaha. Yang lain bongkar pasang dan beli pelan-pelan, kayak kulkas, mesin cuci, lemari dapur, kompor. Modar!

Walaupun modar dan bikin bokek, tentunya rasa senang dan bangganya nggak kebeli. Berasa dewasa gimanaaaa gitu. Hahahaaa.. 


I’ve got my “rejeki traveling”
Dulu inget banget di tahun 2010, pernah nulis status di Facebook (Ya maap deh, masih ikrib sama Facebook daripada Twider apalagi Path!) “Tahun 2010 harus jadi tahun jalan-jalan!” Alhasil? Tahun 2010 cuma kemana? Ke Pulau Tidung! Kasian ya?

Hal ini dikarenakan status saya yang saat itu masih kontrak di kantor terakhir, yang nggak boleh ambil cuti samsek. Yaoliiii, mau gila rasanya. Hasrat jalan-jalan pun kudu ditunda, dan status Facebook biarlah menjadi status belaka. Malu-maluin!

Emang semua ada masa dan waktunya ya.  Di tahun 2011, kesempatan traveling saya datang juga. Walaupun cuma ke Bali pas honeymoon dan ke Bangkok, rasanya lumajan banget. Di tahun ini, alhamdulillah kesempatan traveling saya nambah lagi. Apalagi di awal umur 27 tahun ini ditandai dengan resign, dan cara paling tepat untuk “bales dendam”after resign? TRAVELING!

Awal tahun 2012, saya pelesir ke Malang. Walaupun rame-rame sama keluarga suami, tapi puas banget karena bisa mengunjungi semua. Pulau Sempu, Toko Oen, Batu, rafting di Kaliwatu, sampe ke Bromo walaupun hujan. Bulan Mei, saya ngetrip suka-suka bareng teman-teman SMA ke Bali. Sebelum bulan puasa (bulan Juli), kami berdua pergi abroad untuk pertama kalinya ke Hongkong dan Macau (yang sampe sekarang postingannya kaga kelar-kelar.. seabad lagi kayanya). Dan yang terakhir, seminggu yang lalu, saya dan Mono pergi lagi ke Singapore sekaligus ke Legoland Johor (kalau yang ini dua abad lagi baru diposting).

Walaupun belum banyak untuk ukuran traveler, si anak yang haus jalan-jalan ini bersyukur banget. Apalagi ternyata suami juga punya hobi yang sama. Setelah ngerasain asiknya jalan-jalan, kamipun mantap merencanakan buat jalan-jalan selanjutnya di tahun depan. Kemana? Adadeeeeh! Ntar cuma jadi wacana kayak status Facebook yang tadi, hahahahaa...


I've made peace with my mother.
I’ve remembered my post one year ago, I had this wish to fix my relationship with someone. Alhamdulillah, doanya bener-bener kejadian. Siapakah orang tersebut?

It was my mother.

My relationship with my mom has always been so complicated. I have this thought in my mind, that she’s always trying to make me sad. Saya selalu marah karena dia selalu ngekep saya in her own way. Mau nginep di rumah temen aja harus nangis dulu, gimana dulu mau jalan-jalan begajulan sampe nginep di Bandung sama temen? Mungkin kudu nangis bekelir!

Mama pun orangnya sensitif, ada aja sedikit perilaku saya yang kurang menyenangkan di hati membuatnya tersinggung, dan dikit-dikit saya dan ia harus bertengkar soal itu.

Mungkin benar apa yang dikatakan peribahasa kasar ini, “deket bau t**, jauh bau wangi”. Karena setelah saya pindah rumah, hubungan saya dan Mama benar-benar membaik. Like, 90%. 

Ada beberapa hal yang masih membuat kami berdua bertengkar, namun karena kami tinggal terpisah, jadinya kami punya waktu dan ruang sendiri untuk saling berpikir. Dan nggak berapa lama sebelum adik saya menikah (November lalu), saya dan mama berbicara berdua dan pembicaraan itu bener-bener melunturkan semua rasa kesal saya sama Mama.

She never hates me. She never intends to make me sad. She’s just an ordinary mother, a woman with her own flaw.

Kadang saya berpikir, kenapa butuh waktu lama sekali untuk sampai pada tahap ini? Mungkin ini memang waktu yang tepat. Saya cuma bisa bersyukur, I can make peace with my own mother before things get worse, or (amit-amit ya Allah), someone dies first. Dan tahap ini pun menjadi penutup yang manis untuk umur 27 saya :)


We’ve tried to get pregnant
Saya dan Mono termasuk pasangan yang santai, nggak pernah kepikiran harus rus rus punya anak sekarang. Paling keinginan itu muncul kalo kita lagi digelendotin sama Keina, anak kakaknya Mono. Kalau nggak lagi ketemu Keina? Nggak pernah kepikiran untuk punya anak. Hehehe..

Tapi ketika setelah setahun dan sudah mulai ditanya-tanya (tau yaaa rasanya pemirsah), akhirnya kita berdua memutuskan untuk check check bebichek. Akhirnya tahun ini kami melakukan pemeriksaan pertama kami sebagai pasangan yang ingin punya anak.

Sejauh ini sih baru dilakukan USG dalem. Selain itu, kita dikasih obat (4 macem!) yang harus diminum tiap malem. Tapi, tahap-tahap nyeremin lain seperti HSG, dan tahap lain seperti cek darah dan sperm belum dilakuin. Mungkin, mungkin nih yaaa.. Deep down inside, kita masih menikmati waktu berdua dan nggak mau ngoyo.

Saya sih percaya semuanya ada waktunya masing-masing. Mungkin sekarang memang jatahnya saya lagi harus berdua. Maybe God knows we’re not ready. Who knows?


Buat saya, umur 27 ini cepet banget (akan) berlalu. Kata orang sih, time flies when you have fun. Semoga umur 28 nanti, saya bisa tetap merasakan how time flies so fast dengan jalan-jalan lebih banyak atau dengan kehadiran.. seorang bayi! AMIIIIIINNNNNNN....


No comments:

Post a Comment