Monday, December 24, 2012

Hong Kong and Macau Trip: Day 4


Buset deh, nulis trip di blognya kok sebulan sekali gini. Emangnya masih inget, bu? Tolong itu Bradley Cooper, minta pil NZT nya dong buat lanjutin cerita trip Hong Kong dan Macau di hari keempat!   *ngayal*

Sebenernya saya agak malas bin segan untuk menulis perjalanan saya dan Mono di Hong Kong hari keempat ini. Apa sebab?


Jadi begini. Karena itinerary 3 hari terakhir sudah cukup padat, maka di hari keempat ini kami ingin sedikit take it slow layaknya ordinary people. Terlebih lagi, tujuan Shenzhen yang seharusnya ada di hari ini pun udah dicoret. Yang artinya? Bisa dibilang hari ini hari bebas, terseraaah deh yaa mau kemana, mau belanja dimana, mau pake kartu kredit suami sampe berapa! Pokoknya hari ini mau memuaskan hasrat udik!

Namun, tampaknya hari itu kami terlalu santai sehingga melakukan beberapa dosa traveler:
1. Pengurangan kuantitas kamera.   Suamiku yang mendadak males bawa kamera DSLR. Lah, mau ngandelin gue, fotografer instagram? Dia bilang, gue males bawa kamera soalnya hari ini bakal belanja doang. Grrr... Jadilah kamera poket ijo miniku dan ipon4 buluk beraksi berduaan.
2. Balik ke hotel dan tidur siang. Ini manula banget sih! In my defense, setelah makan siang, saya belanja kebangetan di H&M dan memutuskan taro barang dulu di kamar hotel. Permission accepted lah yaaa.
3. Kelewatan mampir ke IKEA di Hong Kong *brbnangisdarah*

Akibat dari dosa-dosa tersebut adalah:
1. Gambar-gambar dan foto-foto yang akan ditampilkan kemudian akan kurang memadai dan representatif untuk sebuah travel story
2. Penasaran sama IKEA mungkin akan dibawa metong (update: akhirnya ke IKEA waktu ke Singapore kemarin.. yeay!)

Namun, menurut mamah dedeh, setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Apa hikmatullah yang saya dapat hari itu?
1. Perasaan puas lahir batin karena akhirnya menginjakkan kaki di H&M, belanja sampe modar namun berat dompet hanya berkurang sedikit.
2. Say goodbye to nempelin Salonpas di kaki, karena? Tentu saja tidur siang di hotel!

Yang terakhir tentu saja rasa bahagia! Kalau kata Bertrand Russel, “Time you enjoy wasting is not a wasted time”. Hal tersebut sungguh benar adanya. So despite the stupidities above, wandering around Hong Kong is very enjoyable and fun. Thus  there was no regret at all!

Jadi, mari kita mulai cerita trip sersan alias serius tapi santai di Hong Kong hari keempat ini..

Langham Place Mall – Sasa – H&M
Hello again, Mong Kok! Setelah menjadi destinasi di hari kedua, saatnya bertemu kembali dengan daerah yang terkenal dengan berbagai shopping destinationnya ini.

Si Ngantuk 1
Si Ngantuk (namun tetap ceria) 2

 Nah, target pertama hari itu adalah Langham Place, mall yang relatif baru dibuka. Kenapa ke sini? Karena, mall ini superbesar, mencapai 15 lantai (!!!) dan memiliki penawaran tourist card, yaitu kartu diskon khusus turis. Tinggal tunjukin paspor and the discount card is all yours.Yeaay, udah kebayang asiknya belenjeus-belenjeus pake kartu diskon ini.   


Sayangnyaaa, terjadi lagi blah moment di Langham Place, yang dipersembahkan oleh... dateng kepagian. Terekdungjes!

 Padahal saya dan Mono udah jalan dari hotel jam 10 pagi loh. Sampai setengah jam kemudian, kok masih gelap dan belum buka? 

This is one of the thing that surprised me. Di Jakarta, kayanya jam 9 pagi toko-toko di Mangga Dua udah siap ber-“silakan kakaaaak” ya? Ternyata falsafah “the early bird gets the worm” nggak berlaku di sini. Mallnya masih sepi, masih pada tutup, dan gerah pula karena AC belum dinyalain. 

Untungnya, Langham Place seberang-seberangan sama Sasa. 

image from here
Solid perfume ini buy 7 get 1. Cocok buat genggong.
Sasa itu.. Ibaratnya sepen-lepennya dunia kecantikan dan perlenongan di Hong Kong.  Gimana nggak, setiap semeter ada. Baik yang tokonya kecil atau besar. Nggak heran ya, orang-orang Hong Kong keliatan kece semua, dempul abis tinggal melipir..

Di Sasa kita bisa menjumpai berbagai toiletries, makeup, beauty knick-knacks branded dengan harga miring. Udah gitu banyak merek-merek yang nggak dijual di Indonesia, seperti Majolica Majorca, NARS, Paul Frank, atau Helena Rubinstein. Bikin nepsong! Mana di sini juga selalu ada penawaran menarik, kayak buy 3 get 1. Jikalau di agenda tertulis list oleh-oleh untuk ibu-ibu arisan, di Sasalah tempat belanja paling cociks.

Setelah belanja di Sasa, lampu-lampu di Langham Place udah terlihat dinyalain. AKHIRNYA! Cus menuju ke H&M yang terlihat udah buka duluan.

image from here

Mau pengakuan dulu aaaah. Ini pertama kalinya saya  ke H&M. Pas masuk, ekspesktasi sih nggak begitu tinggi. Yakin barang-barangnya pasti menggairahkan, tapi range harganya mana tahan. Samalah dengan tingkat kemampuan diri ini saat memasuki ZARA. Nengoknya tengtop yang 100ribuan aja, neng?

image from here

Ter, ter, ter, ternyata.. H&M itu murah-murah banget yaaaaa! *histeris udik* Now I know kenapa siiih cewek-cewek demen banget ke H&M, bahkan ada kumpulan emak-emak di forum  yang nggak rela H&M masup ke Indonesia. Mungkin yaa, karena saking murahnya, probabilitas untuk ketemu sama orang dengan baju kembaran itu akan mencapai 105%.




Bahkaan nih yaa, entah karena lagi sale atau emang weekend, kemarin itu mostly isi H&M Langham Place Mong Kok didominasi oleeeh... Te Ka We.

Yak becul, Ti Key Dabelyu. They DO shop at H&M yu naaawww.. Nggak heran kalau liat kanan kiri banyak penampakan rambut blow mateng warna pirang, sunglasses pink berlalu lalang, pegang blekberi sambil teriak-teriak, “IYAAA!! KETEMU DI KOSWEBE YAAA KOSWEBBEEEE!” dengan penekanan huruf B. 

Meriah deh pokoknya.

Despite all of the crowd, I and Mono had a good shopping time.. Mono juga ikut belenjeus lho! Menurut dia, celana H&M enak banget dipakenya, dan sepatunya pun ucul-ucul. Tapi dasar lelaki,  dalam waktu 30 menit pun ia sudah selesai belanja.

Saya? Don’t ask. Susah deh kalo bawaan perempewi kalo lagi panik begini. Bawaannya pengen nyobain satu-satu kan.. Mana H&M saat itu rame banget, ruang ganti seempril aja ngantri. Untunglah saya hari itu lagi pinteran dikit, nyelinap ke ruang ganti cowok yang ternyata sepi! Minal aidin yaaa ibu-ibu yang masih pada ngantri.. *mindik-mindik sambil nenteng 10 hanger*

Dibeli karena lucu dan wanginya gak nahan.. Rata-rata 10HKD satunya!

Some accessories I bought from H&M.. One for HKD 20!

This orange long dress is my favorite purchase (HKD 100)

Watami Restaurant

Keluar-keluar, laki gue lagi ngerokok dengan tatapan kosong dan kelaparan. Kasimaaan.. Namun tenang, lunch hari ini sudah direncanakan dengan matang. Yakni kami akan makan siang di Modern Toilet Resto! 
Lho, itu resto apa kakus sih, kok ada nama Toiletnya? Jadi ada sebuah restoran dari Taiwan yang terkenal karena konsepnya yang mengusung tema “ke belakang” alias toilet. Yang saya baca dari berbagai review, resto ini unik banget karena alat-alat makan, interior sampe makanannya pun bernuansa alat-alat maupun hasil pembuangan!  Mangkoknya menyerupai pispot, kursinya menyerupai WC, sampai ada makanannya pun yang berbentuk seperti poop (walaupun aslinya es krim coklat yaaa, tapi you know lah dibentuknya gimana).

Alamatnya pun sudah di tangan, yaitu masih di Mong Kok area. Kami pun melangkah dengan pasti ke gedung Capitol Center lantai 4, yang terletak persis di seberang Langham Place. Tapi, ketika sampai ke alamat yang dituju, kok restorannya gak tampak? Tempat yang dituju masih berbentuk resto sih... namun namanya aja yang beda. Nama resto tersebut adalah WATAMI, a Japanese food stall.

Karena mental kami manula-ish, kompromi adalah nomor kesekian. Sikat!

Saya sempat kuatir resto ini mahal, eh ternyata nggak lho. Makanannya enak, dan harganya sekitar HKD 50-70an untuk lunch set (termasuk nasi, hot udon, dan minuman). Worth the price banget. Malahan si waitress kami yang berbadan tinggi, langsung berlutut lho buat melayani dan mencatat semua pesanan. Me like!

 Beef Rice With Hot Spring Egg in Tokyo Style
Chicken Cutlet with Scramble egg sauce set


Setelah makan, saya kemudian browsing karena penasaran pindah kemana nih Modern Toiletnya. Yak mari tepok tangan untuk blah moment selanjutnya, yaitu ternyata resto Modern Toilet di Hong Kong yang udah nggak ada alias bubar! Darrrr.. Begini deh kalo ngandelin satu buku doang (emang ga modal), kurdet alias kurang apdet!

Times Square
Setelah makan siang, destinasi selanjutnya adalah.. hotel! Call us lame and old and see if we care, HAHAHA! (bener-bener udah pupus harapan jadi the next duaransel)

Karena sempet tidur siang di hotel dulu, lumayan, perjalanan selanjutnya jadi nggak terlalu ribet karena nenteng-nenteng belanjaan. Kali ini, tujuan kami adalah Times Square. 

Times Square New York? I wish!

Di Causeway Bay, Times Square adalah (lagi-lagi)mall. Namun, di area Causeway Bay, ini mall yang paling besar. Apa isinya? Tentunya berbagai merek kapitalis yang beberapa belum akan Anda jumpai di Indonesia.  Seperti Uniqlo, Tory Burch, Victoria’s Secret dan kawan-kawan. Saya sendiri tujuannya adalah mencari grand bazaar yang katanya sering diselenggarakan di Times Square saat weekend. Bazar tersebut adanya di lantai teratas dari Times Square.

Eh ternyata pas nyampe, lagi ada pameran. Ternyata selain fungsinya sebagai pusat perbelanjaan, Times Square Causeway Bay juga suka dijadikan venue untuk pameran. Kali ini, saya beruntung karena pameran yang diadakan yaitu pameran art, karya Mike Stilkey. 

Mike Stilkey, seniman dari Los Angeles ini terkenal dengan kepiawaiannya melukis di atas objek. Seperti yang dipajang di lobi Times Square, ia melukis di atas tumpukan buku yang ukurannya mencapai sekitar 10 meter. Super amazing! 

A giant installation
  

Puas foto-foto di pameran Mike Stilkey, kami pun lanjut melanglang ke setiap lantai. Sejauh mata memandang sih nggak menemukan hal menarik. Ya iyalah, anak Jakarta kok disuguhin mall? Udah kebal!

Tapi ketika sampai ke lantai 3, saya akhirnya menemukan sesuatu yang lumayan menggugah, yakni toko Marks and Spencer. Di Hong Kong, Marks and Spencer ternyata menjual berbagai sweet tooth snacks.  Bentuk dan kemasannya pun lucu-lucu pula. Namun sayangnya harganya agak mahal. Pilah pilih.. akhirnya beli Scottish Shortbread berkemasan telepon umum Inggris ini! Walaupun sekarang isinya udah abis, kemasannya masih terpajang manis di rumahku :D



Setelah nongkrong lumayan lama di toko Marks and Spencer, tour de mall dilanjutkan kembali. Sayangnya ketika sampai di lantai 9 ternyata nggak ada bazaar apa-apa tuh. Huhuhu.. Kuziwa! Yaudah deh, mari kita keluar menghirup udara segar.

Begitu keluar, suamiku langsung sibuk mencari alamat toko mainan yang bakal dia sambangi. Yasalam!  Di setiap perhentian MRT kayaknya dia punya incaran toko mainan deh. Nggak lupa bilang senjata defensifnya, “Soalnya di sini murah banget, yang. Gila ini mainan bisa 1.5juta lho kalo pesen di kaskus. Di sini cuma 300rb!” IYA DEH IYAAA. Zzzzz...

Akhirnya saya pasrah, menemani Mono kembali ke jajahannya di toko Metro Comics. Karena ga paham, foto-foto mukanya Mono yang lagi kalap aja. HAHAHA!

 


Warung Chandra

Kelar semua urusan, kami pun berjalan-jalan menikmati Causeway Bay. Daerah yang katanya tersibuk se-Hong Kong. Apalagi saat itu lagi weekend, maka daerah Causeway Bay pun berubah menjadi “Indonesia banget”. Karena biasanya para TKI yang bekerja di Hong Kong menjadikan Causeway Bay sebagai meeting point kalau lagi day-off di hari Sabtu Minggu.


Di sini, nggak usah heran kalau banyak bertemu orang berkulit sawo matang (eufemisme ya ini), cas-cis-cus ra uwis uwis, dan toko-toko yang menjual barang-barang khusus Indonesia. Sayang nggak sempet mampir ke Victoria Park, basecamp para TKI di Hong Kong di kala weekened. Kalo sampe sana, dipastikan suamiku yang asli Malang bisa ngobrol sama para pengunjung taman, sementara aku ra mudheng!


Terutama di daerah Sugar Street, banyak restoran khas Indonesia. Karena udah jam makan malam, dan saya dari kemarin udah blenek sama makanan Hong Kong yang super tasteless, menclok lah kami di Warung Chandra. 

Warung Chandra ini katanya favorit dari para TKI. Nggak cuma menjual makanan Indonesia aja lho, tapi di depan Warung Chandra ini juga menjual gorengan sampe nasi kuning plastikan yang biasa buat sarapan orang kantoran di Jakarta. Tapi jangan bayangin bakalan seenak jidat ngeluarin 5ribu perak dapet tahu, bakwan, ubi, risol sama singkong yaaa.. Karena untuk menikmati renyahnya rasa otentik Jakarta pinggiran semi-beracun ini, haruslah merogoh kocek 4 HKD alias sekitar 5ribu perak perbiji!

image from here

Saya sendiri pesen laksa yang harganya HKD 38 (sekitar 40 ribu). Mono pesan sate ayam, harganya HKD 35 (35-37ribu). Nggak ada foto, karena udah masuk ke perut secara barbar (kebiasaan udik). Rasanya? Wueeenaaaaakkk... Nggak tau penilaian ini objektif atau nggak karena keluar dari si lidah melayu yang 3 hari belakangan makannya di 711 atau nelen  chicken rice melulu.

Selain letaknya strategis, Warung Chandra menunya juga cukup banyak, seperti soto ayam, capcay goreng, gado-gado, atau sop buntut. Di sebelahnya pun dia buka toko yang menjual barang-barang Indonesia seperti PopMie, panadol, Tolak Angin, dan sebagainya. Serasa mudik..

Ah, akhirnya story trip Hong Kong hari keempat ini selesai. One down to go! Ganbatte!

No comments:

Post a Comment