Monday, November 5, 2012

Hong Kong Macau Trip: Day 3


Today’s itinerary: Macau Grand Prix Museum, Fisherman’s Wharf, Senado Square, City of Dreams, dan naik gondola di The Venetian Dreams.

Bonus itinerary: Miskomunikasiong dengan supir taksi, dan nyangsang di terminal bis di Macau!

Mengunjungi Hong Kong biasanya “sepaket” dengan mengunjungi Macau dan Shenzen. Apalagi walaupun jaraknya berdekatan,  ketiga kota ini punya karakter yang beda satu sama lain. Hong Kong terkenal dengan city hustle and bustle dan berbagai theme parks-nya, Macau dengan kasino, hotel-hotel mewah dan suasananya yang “Vegas-y”, sedangkan Shenzen dengan  tempat belanjanya yang supermurah!

Namun sayangnya,  Shenzen nggak masuk dalam kunjungan saya dan Mono kali ini, karena kami mendengar kabar kalau VOA alias Visa on Arrival yang wajib di apply saat tiba di Shenzen beberapa waktu lalu sedang “ngadat”. Intinya, saat mengetahui ke Shenzhen perlu visa namun keadaannya nggak pasti, tujuan Shenzen dicoret dari itinerary. Apalagi kemungkinan untuk gagal masuk Shenzen kan bisa bikin acara berantakan.

Walaupun Shenzhen udah dicoret, tentunya Macau tetap on the list. Karena walaupun bagian dari China, daerah jajahan Portugis ini punya kekuasaan administratif yang nggak mengharuskan  pengunjungnya memiliki visa. Modal paspor tok, udah cukup.

Perjalanan pun dimulai dari pagi hari, seperti biasa.  Untuk menuju Macau, maka tujuan kami adalah menuju China Ferry Terminal yang terletak di Canton Road yang cukup dekat, masih di daerah Tsim Sha Tsui.

Namun, salahkan kaki kami yang sudah renta, taksi yang menunggu di depan hotel terlihat sungguh menggoda. Seonggok taksi bagaikan pemuas dahaga bagi kaki kami yang haus belaian tukang pijet!

Akhirnya kami pun memutuskan untuk naik taksi yang udah nangkring di depan hotel. Yaah bolehlah ngeluarin dari 40-50 dolaran dari dana darurat.. Kalo kaki pegel termasuk darurat!

Saya pun bilang sama supir taksi, “To Macau Ferry Terminal” instead of nama pelabuhannya yaitu “China Ferry Terminal” dengan harapan pak supir yang sedang bekerja ini ngartos kalo kami mau ke ferry terminal menuju Macau yang tedekat.

It was all my fault. Saya dan Mono bener-bener nggak tahu kalau ternyata Macau Ferry Terminal versi kami berbeda dengan pengertian pak Supir. Terheran-heranlah diri ini ketika ini supir taksi bergegas naik jembatan, keluar dari Tsim Sha Tsui. Waduh, mau dibawa kemana kita? Mana hari itu Hong Kong lagi kebagian bau-bau Jakarta alias macet,  argo taksi pun naik terus ke angka 70, 75, 80, 85..

Ternyata oh ternyata, Macau Ferry Terminal terletak di Central. Beda pulau, nek!

Kesotoyan tersebut pun membuahkan hasil manis, yakni harus keluar doku 120 HKD untuk taksi. Yah, apa mau dikata. Kejadian itu pun bikin saya tobat untuk sok-sokan pake bahasa seadanya di negeri orang.  Tapi memang yang begini-begini ini deh letak serunya, suka duka, lika liku, twist and turns-nya dari traveling tanpa tour atau travel agent, can I get amen?

Masih sukur dianterin ke ferry terminal menuju Macau, kalo dianterin ke bandara begimana? Intinya sih, itinerary masih aman laaah.. Legalah si trip whore ini. Walaupun kena macet, kami sampai di Macau Ferry Terminal jam 10 pagi. Langsung cus beli tiket Turbojet menuju Macau kelas ekonomi (HKD 133) yang alhamdulillah, berangkat setengah jam lagi alias jam 10.30. Semangat kaka!

Pukul 10.30, kami sudah duduk manis di Turbojet, salah satu kapal cepat yang mengantar dari Hong Kong ke Macau.  Kelas ekonomi Turbojet sendiri cukup nyaman, layaknya kereta eksekutif. Selain Turbojet, ada beberapa pilihan kapal seperti Taipa Ferry yang mengantar ke pulau Taipa, atau CotaiJet yang berlabuh di pulau Cotai. Tergantung itinerary anda sekalian.


Tiba di Macau!
Dalam waktu 1 jam 15 menit, kami pun sudah sampai di Macau. Sebenernya waktu tiba kami nggak begitu telat, sebelum jam makan siang. Tapi, kutukan ngantri lagi-lagi menghampiri. Mau keluar bagian imigrasi Macau ngantrinya panjang bener! Akhirnya saya dan Mono harus menghabiskan waktu sekitar 45 menit untuk lolos dari imigrasi. Alfaaaa.. tihah.

Akhirnya, pukul 12.00 tepat, kami pun sudah bisa menjelajah Macau kota nan cantik namun haruslah ditempuh dengan perjuangan. Kok pake acara perjuangan?

 Pertama, karena berbeda wilayah, tentunya paket data smartphone yang dibeli di HK nggak berlaku lagi. Good bye Google Maps! Kedua, jalan-jalan di Macau hanya bisa mengandalkan transportasi bus dan papan penunjuk jalan dalam bahasa China atau Portujuis.  Agak sulit, terutama bagi kami yang kadung terbiasa sama mudahnya transportasi di Hong Kong.

Untungnya, walau mata uangnya berbeda (Macau menggunakan MOP), tapi dollar Hong Kong acceptable di sana. Jadinya nggak perlu repot ke money changer.

Berdasarkan peta, tujuan pertama kami Grand Prix and Wine Museum berada di dekat Ferry Terminal.  Hanya jalan kaki atau naik bus nomer 32A, harusnya sih udah nyampe. Celingak celinguk, nggak kelihatan nih penampakan museumnya. Akhirnya kami pun menunggu bus di halte. Tarif bus di Macau flat MOP 3,2 jauh deket ya neng.. Oiya, mengingat moda transportasi yang tersedia di Macau hanyalah bus, punya coin dan uang receh is a must!

Selama lima menit perjalanan naik bus, Grand Prix Museum masih belum kelihatan. Eh, yang ada malah kami ngelewatin Fisherman’s Wharf, tujuan kedua. Yaudah deh turun di halte selanjutnya, dan move on dari pencarian Grand Prix and Wine Museum.


Fisherman’s Wharf iki opo? Theme park. Tapi jangan ngebayangin theme park yang penuh wahana dan permainan ya,  theme park yang satu ini isinya berbagai replika tempat-tempat terkenal di dunia. Masuknya pun gratis. Tapi kok, sepiiiiii banget. Krik krik krik.. Apa karena saat itu panasnya auzubilahminzalik, bikin tempat ini serasa sauna  ukuran sehektar?

Jadi, apa aja attraction dari Fisherman’s Wharf? Ada mini Colosseum seperti di Roma, replika gunung volkanik setinggi 40 meter Volcania, sama Aladdin’s Fort, benteng ala Timur Tengah. Facebook photo background-ish banget pokoknya, hihihi. 







Selesai dari Fisherman’s Wharf, tujuan selanjutnya adalah Margaret’s Cafe e Nata yang katanya punya egg tart paling enak satu semesta alam. Cemilan Portoguese egg tart memang khas kota Macau, dan menurut mbak traveler Claudia Kaunang di bukunya, paling mantep itu keliling Senado Square sambil ngemil egg tart Margaret’s Cafe e Nata dan nyedot bubble tea *switching off diet mode*

Tapi ternyata, untuk mencapai Margaret’s Cafe e Nata dan Senado Square, kami harus mengalami kelucuan lagi. Bus yang kami naiki udah bener rutenya, tapi keterusan sampe terminal! Ahak ahak ahak.. Hal ini juga dikarenakan para supir bus, penjual tiket, dan rata-rata orang di Macau pada gak faseh Enggresnya. Kalo nanya mulu, dijamin banyakan kekinya dibanding bertambah pengetahuannya!

Kalau terminal di Jakarta kayak begini, nongkrong seharian di sini juga hajar blehhhh

Perjalanan nyasar membawa kami ke terminal Barra yang untungnya nggak jauh-jauh amet. Setelah ngendon selama 15 menitan, diusir-usir sama supir dan orang-orang di terminal gara-gara nanya mulu, “Is this bus going to Senado Square?”, akhirnya kami brengkit juga naik bus nomer 32 B.

Mengejar kembali Senado Square...
Hari Sabtu membuat Macau ramai luar biasa. Apalagi di daerah Senado Square dan sekitarnya. Maklum ya, Senado Square itu layaknya pusat wisata dari kota Macau. Di sini terdapat   komplek peninggalan sejarah pemerintahan kota Macau, dan gereja-gereja peninggalan Portugis yang menawan hati. Arsitektur Senado Square super cantik, apalagi di malam hari.





Di sekitar Senado Square juga banyak Pastelaria Koi Kei yang pun tenar egg tartnya, walaupun tetap (katanya) nggak seendes Margaret’s Cafe e Nata. Yah, karena cafenya nggak ketemu, beli egg tart di Pastelaria Koi Kei juga enak kok. Apalagi di sini nggak cuma ada satu, dua, atau tiga toko Koi Kei, tapi sepuluh kali ye! Abis tiap jalan semeter, pasti ada toko Koi Kei. Ramenya naujubilah pula..

Sampe ngebekel egg tart Koi Kei for breakfast, hihi...

St. Dominic’s Church yang berwarna kuning jadi perhentian pertama kami. Gereja ini masih berfungsi jadi tempat ibadah sampe sekarang lho. Tapi untungnya saya dan Mono kesana hari Sabtu, bukan Minggu saat ibadah berlangsung. Jadi bisa masup dan putu-putu.






Setelah dari St. Dominic’s Church, the next pit stop is ruins of St. Paul’s Church.  Kenapa sih bentuknya ruins alias reruntuhan? Ceritanya, gereja ini dibangun tahun 1580 namun terjadi insiden kebakaran dua kali, tahun 1596 dan 1601. Lalu, tahun 1602 dibangun kembali dan selesai 35 tahun kemudian. Sayangnya, tahun 1835 gereja ini dirusak kembali oleh typhoon. Kemudian reruntuhan gereja terbesar di Asia Timur tetap dibiarkan agar menjadi sejarah.


Sekian sekilas info.

Sebelum perjalanan berlanjut ke Cotai,  saya dan Mono tergiur buat beli es krim Turki yang harganya 20HKD. Mahal ya! Keistimewaan dari harga mehong tersebut adalah es krim yang super solid sampe dibalik pun nggak bakalan tumpah, lengkap dengan si abang penjual yang ternyata doyan ngebanyol. Ceritanya, ketika Mono mau ngambil es krim yang udah disendokin ke cone, doi berkelit-kelit dari tangan Mono dan akhirnya eskrimnya diserahkan ke saya. Hahahay! Lumayan jadi tontonan *blowkiss to penonton*



Pukul dua siang, saatnya pergi ke pulau Cotai. Walaupun berbeda pulau, perjalanan akan ditempuh secara gratis tis! Lho, kok bisa? Karena setiap weekend, hotel-hotel besar di daerah Cotai seperti City of Dreams, The Venetian, atau Wynn Hotel menyediakan free shuttle bus di dekat Senado Square. Only in weekend yaa..

Dadah Macau Tower.. Next time kita kesitu yaaa..
Setengah jam kemudian, kami pun sudah menginjak lantai marmernya City of Dreams di Cotai Strip. City of Dreams hanyalah satu dari deretan hotel-hotel supermewah dengan arsitektur supermegah di Macau. Malah City of Dreams punya 3 hotel di dalam satu gedung: Grand Hyatt, Hard Rock, dan Crown Towers. Dilengkapi dengan mall, casino, dan hall untuk menonton berbagai show seperti Cirque du Soleil, menjadikan City of Dreams salah satu destinasi tepat untuk.. ngayal babu kapan yaaa bisa nginep di sini? Huahahaha..

Kami sempat main-main ke dalem untuk numpang pipis (penyakit deh.. gak bisa liat kakus bagus dikit!) dan sneaking ke casino. Hihihi, kapan lagi main-main ke casino seumur-umur ya kan.. Gratis pula masuknya. Sayangnya di sini kamera tak direstui oleh sekuriti, akhirnya saya ngumpet ke balik mesin tersepi kemudian jepret. Cis, mudah!



Puas keliling-keliling City of Dreams, perjalanan dilanjutkan ke The Venetian Dreams untuk naik gondola ala di Venice. The Venetian Dreams ini lebih dahsyat lagi. Kalau City of Dreams punya 3 hotel, diana punya tujuh! Belum lagi dengan arsitektur indoor-nya yang dibuat seolah-olah kita sedang berada di miniatur Venice. Kiri kanan dikelilingi sama bangunan-bangunan klasik khas Eropa. Langit-langit di atas dilukis dengan awan-awan berarak. Di tengah-tengah  deretan toko, ada “sungai” kecil, gondola, dan suara merdu gondolier (pengemudi gondola) membahana ke seluruh ruangan. Manis!




Tujuan utama kami ke sini tentunya naik gondola. Sneak peek kalo suatu saat bisa ke Venice! Amiiiinnn....:D  Untuk menaiki gondola ini, biayanya 108 HKD satu orang. Nanti kita dibawa di sebuah perahu cantik mengarungi sepanjang “sungai” dengan gondolier yang pandai menyanyi. Sounds lovely dan romantis bangeeettt...

Target utama Venetian Dreams: Gondola!

Hingga kami mengetahui bahwa kami akan naik gondola bersama-sama satu pasangan lain. Krik krik krik..

Emang ini arung jeram, seperahu rame-rame hah???  Yastralah, setelah dipikir-pikir, lumayan nambah manusia buat dikaryakan sebagai fotografer deh ya..

Selama berada di perahu, kami ngobrol sama gondolier-nya yang bernama Nello. Nello berpenampilan necis, pakai kaos stripey hitam putih super ketat, scarf merah, dan topi lebar percis gondolier di Venice sana.  Doi cerita kalau dia campuran Filipino, Italiano dengan sedikit Chinese. Tadinya ia bekerja di Italia untuk sebuah soap opera, namun karena jam kerjanya nggak menentu, walhasil doi mabur untuk bekerja sebagai gondolier di Macau. Karena syarat utama menjadi gondolier ternyata harus bisa nyanyi sopran dulu lho. Mendayung bisa dipelajari kemudian.



Nggak lama setelah bercerita, Nello pun kemudian mulai beraksi. Ini dia atraksi utamanya! Nello  menyanyi dengan suara dahsyat super menggelegar layaknya Pavarotti,  berdendang “It’s Now or Never-nya” Elvis Presley. Dan hal ini dia lakukan sambil mendayung lho! Sungguh hebat dan mempesona *prok prok prok*


Add caption

With Nello (blur dikarenakan gambar diambil dari foto yang udah dicetak :p)
Keluar dari The Venetian Dreams, ternyata di luar sudah gelap. Wow, time flies when you’re having fun! Kami pun langsung ingin cabcus menuju ferry terminal. Asiknya, The Venetian Dreams menyediakan shuttle bus gratis juga dengan berbagai rute. Bisa ke Macau Ferry Terminal, Taipa Ferry Terminal, atau ke City of Dreams juga bisa.

Sebelum naik kapal kembali ke Hong Kong, kami menyempatkan foto-foto Macau pada saat malam. Lights, neons, and colors are everywhere, makes this city even way livelier at night.

]\\


Terima kasih kota cantik! Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi yaaaa...

2 comments:

  1. hai mba, mau tanya, "hotel-hotel besar di daerah Cotai seperti City of Dreams, The Venetian, atau Wynn Hotel menyediakan free shuttle bus di dekat Senado Square. Only in weekend yaa.." kalau bukan weekend, untuk ke wisata2 tsb naik apa ya mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dibaca di sini yaa :) http://www.tripadvisor.com/ShowTopic-g664891-i12409-k6885322-How_to_go_venetian_from_senado_square-Macau.html

      Delete