Sunday, September 30, 2012

Tokyo Zodiac Murders: Book Review


Here’s a little embarassing fact about me: I didn’t read a single book throughout the year! Memalukan memang, and I’m not proud of it.
Well, dua-tiga tahun belakangan ini saya mengalami yang namanya reader’s block.  Nggak cuma para penulis aja yang mengalami kondisi otak stuck nggak tau mau nulis apa. Para pembaca buku pasti juga banyak yang mengalami hal seperti saya beberapa tahun belakangan: nggak punya waktu untuk baca buku. The crazy traffic, the busy work, the demanding social life, and the so-called gadget can be the trigger.

Don’t think I didn’t try. Setiap ke mall, pasti ke Gramedia, dan pasti bawaannya beli buku melulu. Agak saru sih sebenernya beli buku karena pengen baca atau karena suka aja beli, dibaca sih kagak. Akhirnya buku-buku yang saya beli pun end up cuma menjadi pajangan pencitraan, tapi esensinya gak dapet sama sekali.

I feel so ashamed and dull, and it feels like my reading lethargy affects on how I write, too.

Nah, tahun ini dengan resminya saya keluar dari pekerjaan kantoran, dalam hati saya sudah tetapkan niat: lempar iPhone, ambil satu buku, lalu beli iPhone 5 mulai membaca!

I’ve started my reading then. Namun percobaan pertama tentunya nggak berhasil, dan gadget akan selalu menang. Karena nggak berhasil dengan buku-buku bernuansa “Tuesdays With Morrie” (yang mana di tahun 2008 dulu saya selesaikan dalam waktu 2 hari saja. Antara avid reader ama ga ada kerjaan beda tipis), akhirnya saya putuskan untuk membaca buku yang membuat saya “terpaksa” menghabiskannya: cerita detektif.

Jadi, ada 2 jenis buku yang bikin saya nggak bisa berhenti baca: semua novel yang ditulis oleh Dee, dan cerita detektif. Mungkin karena sejak umur 12, saya udah demen banget baca kasus-kasus pembunuhan berdarah ala Shinichi Kudo dan Detektif Kindaichi. Untung gedenya gak jadi masokis ya..

Beberapa waktu lalu mata saya menangkap satu buku dengan cover super minimalis di Gramedia. Berwarna putih dengan gambar orang yang bagian tubuhnya terpotong-potong. Judulnya “Tokyo Zodiac Murders”, karangan Soji Shimada. Walaupun baru sekali mendengar nama si Soji Shimada ini, kayaknya langsung punya feeling kalau buku ini bagus. Langsung deh beli. Berharap banget “dikagetin” dengan akhir ceritanya, seperti baca Conan atau Kindaichi berbelas-belas tahun yang lalu itu.




Cerita pembunuhannya berlatar belakang tahun 1936 dan berlokasi Tokyo, di mana seniman Heikichi Umezawa dibunuh di studio tempat dia melukis. Setelah pembunuhannya, keenam anak perempuannya pun ditemukan dalam keadaan tragis: anggota tubuhnya terpotong-potong. Di studio Heikichi ditemukan surat yang berisi yang seolah-olah ditulis olehnya. Isinya mengatakan bahwa ia berencana membuat Azoth, satu sosok wanita yang sempurna. Menurutnya, tubuh setiap wanita memiliki bagian yang sempurna menurut zodiak masing-masing. Karena itu, ia mengambil tiap bagian dari tubuh anak-anak perempuannya dan menyatukannya untuk menciptakan Azoth. Potongan-potongan tubuhnya pun ditemukan tersebar di seluruh Jepang.

Merinding nggak sih?

40 tahun kemudian, Detektif Kazumi Ishioka yang naif dan partnernya yang sedikit krezi, over laid-back, dan chilidish Kiyoshi Mitarai, mencoba menyelidiki kembali kasus yang gagal dipecahkan selama empat dekade tersebut. Kepribadian keduanya yang bertolak belakang membawa keduanya ke kota yang sama, Kyoto, namun pada akhirnya keduanya menemukan jalan yang berbeda dalam memecahkan kasusnya. Bisa ditebak, yang gila menang yang waras ngalah.  Otak Mitarai yang sedikit oleng akhirnya membawa kita ke akhir kasusnya yang super mencengangkan.

Personally, I really like this book so much.. Mungkin faktor karena udah nggak baca buku detektif kali ya. Sebenarnya pemecahannya sederhana dan simpel banget,tinggal menghubungkan satu benang merah aja. Di situ kan yaaa letak thrillingnya cerita detektif.

Walaupun menegangkan dan  bikin penasaran, The Zodiac Murders jujur aja sedikit jungkir balik ngebingungin. Yang bikin bingung adalah nama-nama anak-anak Umezawa yang jadi korban pembunuhan: Tomoko, Akiko, Tokiko, Yukiko, endebre endebre. Lokasi-lokasi penguburan mayat pun bikin mata juling, karena nama-nama kota dan prefektur yang berlokasi di Jepang bukan nama yang akrab di kuping. Namun, banyak petunjuk-petunjuk juga dalam bentuk gambar dan bagan yang memudahkan  kita dalam membayangkan situasi-situasinya.

Tapi beneran deh, membaca buku ini = serasa dilem. Ones can not simply remove the glue before they finish it, despite of all those confusion. Cocok banget buat yang mengalami reader’s block kayak saya.  And I love Tokyo Zodiac Murders for un-virginizing my 2012 reading’s thick hymen! :))))

4 comments:

  1. Perdana komen disiniiiii!!!!! *gunting pita*

    Eh ini kasusnya sama banget deh kayak satu kasus di komik Detektif Kindaichi... Dan macam antum, ana juga suka bangeettt buku-buku kasus pembunuhan berdarah-darah giniii.. Mau beli juga ah bukunya.

    Eh btw izin naro link blogmu di blogku yaaaaa :D

    ReplyDelete
  2. Yeeeeyyy dikomenin sama salah satu blogger paporit! *sungkem* :))

    Pokoknya bukunya baguss fry, worth it buat dibeli. Antara buku ini sama songpop, masih menangan buku ini deh hihihi

    Ih boleh bgttt.. Makasih yaa fry!

    ReplyDelete
  3. Hai salam kenal!
    Omaygat, akhirnya nemu juga orang yg baca buku ini. Soalnya aku sempet dibilang 'sadis' krn penasaran sama buku ini :') *maaf jadi curhat*. Setuju bgt kalo buku ini bikin mingkem sampe abis. Alurnya menarik dan susah dijelasin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kalo ini sadis Detektif Conan/ Kindaichi apa namanya dong? Padahal di sini ga ada visualnya ya.. hehehe..

      Salam kenal juga yaa :)

      Delete