Thursday, August 16, 2012

On Being a Freelancer, So Far..


... so good.



Setelah nggak bekerja lagi sekitar 6 bulan lalu, saya pun memutuskan untuk tetap bekerja, di rumah! Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap ibu-ibu RT yang memilih untuk fokus hanya mengurus rumah, I feel like I could die doing nothing. Waktu resign dulu, saya saya pun sempat dirundung galau ibuk-ibuk... Mostly bukan karena masalah uang, tapi produktivitas. You can call it aktualisasi diri, eksistensi pribadi or whatever lah, but not producing something feels like hammering me.




Karena itulah, saya memberanikan diri jadi freelancer. What kind of freelancer? Since I’ve been whoring in media from my early career for almost five years, then I’m going to be freelance writer. Padahal mah, hati sempet nggak pede. Dibilang jurnalis, bukan banget. Secara pengalaman saya cuma kerja di majalah remaja cewek. Paling banter itu review film, bikin life-guide features, sama wawancara musisi. Dibilang copywriter tulen juga bukan, karena pengalaman saya jadi copywriter selama dua tahun, bukan di advertising agency tapi di media. Nah, serba nanggung kan? :)) 

Tapi bermodal cinta menulis dan  pede jaya, saya pun bertekad kuat pengen jadi freelancer. Ya alhamdulillah wasyukurillah, di tahun 2012 ini, internet is all you need. And Allah give me His hand through Linkedin. Hihihi.

Sebelumnya, saya pernah mengerjakan project freelance pertama saya untuk majalah Bella. Maybe it’s not a very well-known magazine, because it contains only beauty, wellness, health for a middle-aged woman gitu lah kelasnya. Di sana, saya sempat menulis beberapa artikel features kesehatan, yang saat itu jadi sanctuary dan escape di saat saya lagi jenuh dengan pekerjaan saya sebagai copywriter. Creating punchline for every single day, makes me bored to death, and longing for a flowing piece kind of writing! :))

Nah, dari situ saya belajar buat menyeimbangkan antara kerjaan kantoran sama (saat itu) side job. Nggak mudah, kakaaa.. Di saat lagi asyik ngerjain artikel panjang berbau-bau news dan informasi, tiba-tiba orderan dari AE datang dan otak dipaksa ngebalik gimana caranya bikin kalimat ringan, rhyming dan sukur-sukur, punching. It’s like two different sides of the world.

Tapiiii.. ketika artikelnya selesai, rasanya seperti ada sunrise di mataku. PUAS bangeeet... Kayak abis lahiran (situ pernah haah??). Beneran deh, leganya kayak abis brozol. Apalagi pas ngeliat artikelnya dimuat di majalah, aduh anakku... *timang-timang*  From then I also popped a thought, being a freelancer seems possible and should be given a try.

Modal awalnya jadi freelancer?

Bener-bener cuma memperbarui Linkedin. Dari headline “Kompas.com employee” jadi “Independent Writer & Copywriter.” Dari situ, percaya nggak percaya, emang rejeki nggak kemana, saya mendapatkan pekerjaan freelancing pertama saya. Salah satu temen di kantor saya dulu, tiba-tiba mengirim message via Linkedin, meminta saya buat menulis copy advertorial beauty product untuk majalah ELLE dan wawancara by phone narasumbernya. Deadline yang cuma 2 hari, wawancara 2 narsum, plus nggak tau bayarannya berapa itu pun langsung dihajar aja =))

Saya juga ikutan eksis di freelancerandco. Di website ini, para pekerja lepas bidang kreatif bebas mem-post profil, specialty, dan portfolionya. Calon klien yang minat menggunakan jasa kreatif tinggal pilah-pilih berdasarkan kebutuhan.

Selain eksis di dunia maya, saya juga segera revamp portfolio saya. Eh bukan revamp deng, secara emang nggak pernah sempat bikin portfolio :D Sempet ribeeet nyari file-file tulisan yang berserakan, terutama file yang udah di-layout. Kenapa harus yang udah di-layout? Karena tentunya lebih meyakinkan dan mengesankan udah pernah di-publish gitu :D It’s all about first impression, ya kaaaan? Untuk platform portfolio, atas saran Seno, saya pilih Behance Network. Nggak ribet, bisa upload image berukuran besar dan banyak, dan bisa view per-project, lagi. Rela deh diribetin, karena portfolio buat freelancer itu ya kayak obeng buat McGyver. 

Setelahnya, tawaran pekerjaan pun mengalir dengan sendirinya. Sempet kaget juga sih dengan fakta bahwa ternyata para pekerja di bidang ini dibutuhkan banget. It makes me thrilled when my phone rings from the unknown number and offering a job. Malahan ada beberapa teman yang tau saya resign dan menawarkan pekerjaan yang saya belum pernah lakukan sama sekali: ngedit buku. Alhamdulillah sekarang tinggal proses finishing J

Ada juga kerjaan yang nggak dateng sendiri, tapi saya yang menawarkan diri. Hihihi.. Namanya juga networking yaa.. Saya menghubungi beberapa temen kuliah yang bekerja di agency, kali-kali gitu butuh freelance copywriter. Eh ternyata emang rejeki. Brand shampoo yang dia handle lagi butuh freelance writer. Saya kirim tulisan dan menang pitching. Jadi deh sekarang ngerjain hairfashion.me. Lumayaaan buat jajan-jajan IRT *kipaskipasduit* =))

This is where I work :)

Pokoknya, alhamdulilah so far so good.

Tapi, namanya juga pekerjaan yaaa... nggak lengkap kalo nggak ada suka-dukanya.

Ini yang saya sukai dari bekerja freelance: Tentu, di Jakarta yang semua serba mat sembelit karena macet ini, kerja freelance itu sangat-sangat enjoyable. Tinggal duduk di depan meja kamar, press play music di iTunes, ketak ketik, send email, rebes. Lalo lagi nggak mood, bisa kabur sebentar ke TV terdekat, bobo siang (WHAT I LOVE THE MOST!!!), atau main game.

 I’m setting my own deadlines. I can skip work in one day, or work like a horse on the other day. NO BOSS OH GLORY!

Dukanya, apalagi kalo bukan hubungannya dengan Yang Maha Penting: Invoice. Sebagai freelancer, kita nggak punya kontrak mengikat yang menuliskan kapan klien mau bayar fee. Jadinya yaaa.. ada yang mesti diingetin terus. Status saya yang masih freelancer pemula, kudu setok sabar selemari Carrie Bradshaw. Nggak boleh marah-marah dong, nanti networkingnya bubyaaarrrr!

Ada juga klien yang ajaib. Sebuah ad agency ujug-ujug nelpon minta dibuatin greeting word Hari Raya buat kliennya, terkesan in a rush banget. Udah cukup mengganggu, deadline-nya nggak jelas, berubah-ubah dan revisi berkali-kali. Nggak taunya setelah revisi ke delapanpuluhempat kali, dese mutusin hubungan kerja karena nggak ada kecocokan di antara kita. Lah, kalo gitu kenapa nggak pake proper way seperti interview, kirim sample writing, pitching dan sebagainya sih? Awalnya sempet kesel, tapi setelahnya berhasil ngirim BBM marah-marah asertif. Walaupun orangnya mengerti, teteeeup. Sampe sekarang fee nya belom masuk-masuk juga loh ceu... *lemparbom*

Pekerjaan ini tadinya juga jual murah banget deh! Ya awalnya dari temen-temen sekantor aja. Pisah kantor, mereka punya project tertentu dan menawarkan ke saya. Malahan, sampe sekarang ada lho yang bayar saya pake produk kecantikan. Nggak apa-apa banget. Ya siapa sih yang nggak gembira tau-tau ada kiriman parfum Escada, eyeshadow-nya NYX, sama foundationnya Make Up Store? :D

Lucu juga sih. Kadang, saya melihat pekerjaan ini sama aja kayak orang mau mulai usahanya. Awal-awalnya nggak laku, obral barang, sampe rugi. Hihihi. Tapi sekarang udah mulai ngeliat titik terang, kok. Oh iya, dulu waktu pertama memulai kerja freelance, semua tawaran kerjaan mau dihabek aja rasanya, sampe pusing sendiri. Sekarang, udah tau mana yang mau disamber, sama yang kudu ditolak (bukan humblebrag loh ini yaaaa. Takut kualat!!). Udah bisa ketawa-ketawa juga kalo lagi nggak ada tawaran kerjaan samsek :))

Pengennya sih, ini pekerjaan lifetime. Walaupun lagi ribet netekin, masak, bersihin kulkas sampe nganter anak sekolah, tetep nulis terusss.   

Someday, I will have my own space in my house like this just to play with words and phrases.



Mulai deh mulai ngayal berlebiiiihhh :))))

2 comments:

  1. heemm..nanti kalo saya sudah bosan jd pegawai (bukan nama acara tv) saya mohon bimbingannya ya, kakaaakk. :p

    ReplyDelete