Tuesday, May 8, 2012

Hubby's Birthday Trip

Tanggal 16 April kemarin sang suami berulangtahun. Yeay, akhirnya umur beliau sama kayak saya!  Stevie G. Hotel Bandung pun dipilih menjadi venue merayakan ulang tahun. Sebagai  seorang Liverpudlian berdarah-darah, hidup Mono belum berfaedah kayaknya kalo belum nginep di hotel ini. Emang rejeki, waktu itu salah satu groupon juga lagi ada penawaran harga super miring buat nginep di Stevie G Hotel. Ditambah dengan diskon 50% debit Mandiri, langsung nambah semalem lagi deh. Emang kalo jodoh gak kemana ya :D



Karena merayakannya di kota tetangga, tentunya ini liburan yang nggak terlalu direncanain secara detail. Tapi Bandung gitu lho, tiap hari kayaknya beranak tempat makan baru yang minta disamperin banget ya. Waktu itu saya pernah out-of-town-date juga tahun lalu ke kota ini, nyobain makan di Hummingbird, Origin, dan cafe Cocorico tapi cuma nginep di guest house.  Sayangnya waktu itu belom rajin ngeblog, sodara-sodara. Nah, yang sekarang ini kegiatannya nggak beda jauh sama jalan-jalan ke Bandung terakhir kali, makanya saya bertekad untuk menuliskan napak tilas perjalanan kali ini!


The Captain Residence
Stevie G. Hotel berada di Jl. Sersan Bajuri 72, atasnya Jalan Setiabudhi dimana terletak the famous Rumah Mode. Dari situ masih agak jauh deh, sekitar masih setengah jam lagi dengan jalan yang berliku-liku. Letaknya sebelah-sebelahan sama Kampung Gajah. For anyone who already knew Maja House, ya di situ tempatnya.

Buat fans Liverpool, nama Stevie G. Pasti udah nggak asing lagi ya. Saya sih emang baru tau kalo Stevie G itu nickname-nya Steven Gerrard kapten Liverpool (ya maaapp, sepakbola is like the other side of the world to me :D). Konon katanya sang owner pemuja kapten ganteng ini, jadilah sebuah hotel berjudul nama beliau.








Hotel ini udah terkenal dengan desainnya yang unik. Lobinya minimalis pisan.. Serba wooden, dan dipercantik sama dekorasi domba-domba di atas rumput hijau. Tapi setiap kamar dibikin konsep berbeda-beda. Ada The Author, yang penampakannya semi-shabby-chic. Ada juga Gelateria, yang nuansanya warna-warni kayak Lollipop.






Saya dan Mono udah pasti dong yaaaa.. nginep di markas besar, kandang, sarangnya Liverpool, yaitu This Is Anfield room.



Yasalam, desain kamar ini bener-bener niat. Satu sisi dinding gambarnya semua pemain legendaris Liverpool, kayak King Kenny Dalglish, Robbie Fowler, sampe Michael Owen (oooohh kirain dari lahir udah di MU..), plus tulisan sejarahnya masing-masing pemain. Di sisi seberangnya, ada gambar lapangan Anfield. So very Liverpudlian! Buat saya yang bukan fans Liverpool (or any football club in this world), menurut saya kamar ini keren banget.


The birthday boy with the team


Malam kedua, kamar This is Anfield ternyata udah ada yang booking. Ya nggak papa, karena nggak lagi weekend kita bisa pilih dan liat-liat kamar. Setelah keliling, akhirnya sepakat cuppp kamar Illegal Immigrant. Suka aja sama foto-foto hitam putih yang dipajang di sisi ujung kamar, desain batanya yang klasik, sama ada sofanya! Soalnya waktu di kamar This is Anfield, cuma ada satu kursi buat satu orang.



So far, nginep di hotel Stevie G. bisa jadi penyegaran untuk para Jakartans yang mau nginep di Bandung. Meskipun kekurangannya nggak ada kolam renangnya, bisa jalan dikit ke Kampung Gajah. Yang pasti, nginep di sini bikin nagih karena pasti penasaran pengen coba kamar yang lain :D


Mendadak Theme Park
Lho-lho-lho, kok, kesini? Iya, ke Trans Studio Bandung itu sebenernya keputusan spontan aja sih karena saya dan Mono udah agak bosen keliling FO di Bandung. Such a heavenly vicious circle, makan- belanja di FO- ngemil – makan lagi – beli oleh-oleh batagor Kingsley sama Kartika Sari – nambah tiga kilo. This got to stop!

Tentang si Trans Studio, Mono udah pernah jajal waktu lagi kerja di Makassar. Nah, saya nih yang belum pernah nyambangin Trans Studio. Saya pikir, ah theme park indoor mah gancil, mana sini yang berani ngalahin Dufan! Jumawanyaaaaa... dan kejumawaan itu pun sirna ketika sampe di lokasi.

Tanpa saya sadari, semakin tambah umur, sepertinya level keberanian saya untuk nekat naik wahana di theme park itu ternyata semakin menukik tajam. Kayaknya nyali saya mentok di tahun millenium. Jaman piyik dulu mah, coba deh,  mana wahana Dufan yang belom pernah gue naikin?

Saya pun jiper dan kaki gemeter cuma ngeliat wahana Giant Swing. Giant Swing itu semacam  ayunan raksasa yang digoyang secara ekstrim. Lah, padahal apa bedanya ama Kora-Kora di Dufan? Beda dong, kalo Kora-Kora pake perahu, kalo ini kaki kita melayang bebas di udara. Mana kursinya individual, kalo putus gimana?
(image from Google)

Selain Giant Swing, ada lagi yang seru yaitu Yamaha Race Coaster. Sebenernya wahana ini cupu kalo dibandingin sama Halilintarnya Dufan. Kalo Halilintar dibalik 360 derajat, ini cuma dinaikin sampe puncak rel, terus ditarik mundur. Harusnya lebih less-frightening ya.. Tapi Dufan menang 1-0 dari Yamaha Roace Coaster dari unsur nostalgia, karena saya juga nggak berani naik ini!

(image from Google)

Trus naik apa dong? Saya akhirnya berani naik Lost City, itu semacam Niagara-Gara-nya Dufan, hanya karena terjunnya nggak seterjal Niagara-Gara. So very brave, huh? Selain itu, saya juga berani lohhh masuk wahana Dunia Lain yang lumayan serem, Si Bolang (ya abiiiisss), dan 4D Marvel Superheroes yang cuma kursinya cuma digoyang-goyangin doang. Gimana ini, katanya punya cita-cita ke Universal dan Disneyland????

Sebenernya nggak banyak naik wahana di Trans Studio  juga nggak rugi, karena di sana banyak wahana-wahana yang ringan-ringan aja kayak Sky Pirates yang berupa balon udara yang ngelilingin seluruh Trans Studio, tempat-tempat menarik kayak museum iptek (yang emang beneran seru), museum Trans TV (sedikit garing), karnaval setiap jam 5 sore, dan tempat makan yang lucu-lucu seperti the vintage Corvette Diner. Oldie but goodie!




Seru amat kayanya bang...


Fueling Up!
Bandung oh Bandung.. You seem like never have enough eateries. Kayaknya tinggal di sini pun belom tentu udah nyoba semua restoran baru yang menggoda iman. Karena di kunjungan sebelumnya saya dan Mono udah mencicipi cafe Cocorico, Sierra, resto Origin dan Hummingbird, maka kita pengen nyoba di tempat lain.

Untuk uptown dinner, kita makan di The Peak. I won’t be giving the review since this restaurant has been already dedengkot in uptown cafes in Bandung, overpriced dan nggak terlalu enak pula.

Yang berkesan buat saya justru sebuah resto waffle yang ada di Jakarta juga, Brussel Springs. Tapi mungkin karena tempatnya agak jauh, selama di Jakarta saya belum pernah ber-nom-nom di sini. Dari interiornya sih lucu karena banyak gambar monster dimana-mana, kursi-kursi warna-warni, sama Tin Tin.





For the savoury parts, we ordered Waffle Margarita yang didominasi daging cincang dan melted cheese. Yuuum! Lalu datanglah Banana Maple Waffle for a sweet session, waffle yang di atasnya dihiasi pisang, maple sauce, ditambah es krim dan chocolate tower. Uyeah..



Yang unik di resto Brussel Springs adalah minumannya yang bernama Blossom Tea. Jadi sejenis bunga dicelup ke air panas, nanti dia merekah dan mengembang sendiri di dalem teko. Rasanya sih biasa aja, tapi prosesnya itu... epic enough for a cup of tea :))
before...


after!


Eatery lain yang kita sambangi adalah Tree House, yang terletak di Jalan Hasanuddin no 5, belakangnya rumah sakit Borromeus. Lokasi lain, Tree House juga ada di mall Ciwalk.



Sesuai namanya, Tree House cafe ini luarnya didominasi kursi dan meja kayu-kayuan. Di atasnya juga tergantung lampion-lampion warna hijau. Tapi begitu masuk ke dalem, kafe yang (sepertinya) tadinya rumah ini lebih terlihat girly karena flowery prints dan warna-warna pastel. Sebagai pemanis, cangkir-cangkir yang dipakai princess untuk tea time pun dipajang.









Untuk menu, Tree House punya makanan western tapi juga ada menu Indonesia, kayak nasi tutug oncom yang saya pesan. Mono pesen chicken sausage fettucini yang super delicioso, and for the thirst we ordered chocolate and green tea milkshake.






Selain makanan, Tree House Cafe juga jual sosis beku home-made lho. Ditilik dari fettucini dengan sosis ayam tadi, sepertinya sosis-sosis tersebut layak coba deh. Definitely would try for the next visit!

***
Sebuah perayaan ulang tahun yang manis ya suamiku.. I had a really good time, padahal yang ulang tahun kamu hahahaha... Happy 27th birthday love, let's celebrate in Yurop next year! *binigaktaudiri*

1 comment:

  1. aaahh banyak tempat makan baru di banduuung.. mauuukkk

    ReplyDelete