Monday, February 27, 2012

One Evening with Feist

Before Leslie Feist’s music became “darker” (forgive my amateur term) before the “Metals” album, I’ve been a fan of her.  Feist ini lagunya yang nemenin saya awal-awal kuliah dulu (tahun 2004an). Beli CD “Let it Die” pun bajakan di barel UI. Maklumilah kantong mahasiswa.

Lagu favorit saya waktu itu: Inside and Out, One Evening, Mushaboom, Gatekeeper, Tout Doucement, When I Was a Young Girl, hampir semuanya. Tanpa perlu usaha, waktu itu udah afal mati deh sama lagu-lagu Feist. The autumn-y feeling yang ada di lagu-lagu Feist bikin saya jatuh cinta. Tapi pas album kedua, The Reminder, menurut saya Feist mulai “menggelap”. Walaupun begitu suka juga sih sama lagu “So Sorry”, “Brandy Alexander”, sama “1234”.

Album ketiga, “Metals”, lebih dark lagi. Ouch. Actually I’m not a big fan of dark music,  but Feist is unforgettable for her voice. Her vocal character: Not too powerful, creaky-voiced, misty, like whispering but in strong tone.  Sexy in a weird way lah pokoknya.


Jadi, berbekal membangkitkan romansa masa kuliah, harga tiket konsernya yang lumayan murah, plus usaha ngafalin lagu-lagu Feist di album Metals dua minggu sebelumnya (because I hate being un-singalong person in a concert),  Selasa 15 Februari lalu akhirnya ketemu juga sama Feist.

Dibuka sama Erlend Oye  (yeay!), suasana dibangun dulu lagu Cayman Islands, Close To You, sama satu lagu bahasa Norway dan dari band Big Star.  Sekitar 30 menit kemudian baru Feist muncul bersama pasukannya. She looked great with a mini dress, a medium bangs, and a guitar. Perfect picture!

Photo by: Yahoo! Indonesia
Lagu “Undiscovered First” dari album Metals langsung dimainin. Bener dugaan saya, pasti 70% konser ini bakalan berisi lagu-lagu dari album barunya. “Graveyard”, “How come You Never Go There”, sama “The Bad in Each Other” juga dibawain.  “Mushaboom” hadir dengan  aransemen yang berbeda. Lagu dari The Reminder juga eksis, kayak “So Sorry”, sama “I Feel It All” dan “Honey Honey”.  As expected, lagu-lagu favorit saya dari album Let it Die nggak dibawain :( Tapi di Encore dia kasih kejutan dengan nyanyiin lagu album titlenya “Let it Die”. Hore!

Lagu-lagu kayak “Commotion” sama “Caught a Long Wind”, “Anti Pioneer” were not really my cup of tea, jadi nggak singalong deh. But just by her voice, I was captivated and mesmerized. Bikin saya menikmati sepanjang konser. Nggak kepengen ngobrol apalagi foto-foto. Kamera pun  nganggur adanya.

Overall, Feist was very talkative. She said being in Jakarta was surreal, was feeling like in another dimension. Like very far-faraway.  Another scene: penonton  nyanyiin lagu “Selamat Ulang Tahun” buat stage managernya karena diminta sama dia untuk nyanyi Happy Birthday versi Indonesia. One chatty concert, for sure!

Sebagai encore, selain let it die, Sealion juga akhirnya berputar di Fairgrounds.  Encore kedua (yes, she did TWO ENCORES!) dia nyanyi bareng Erlend di lagu “The Build Up” (aaaakkk....), Intuition dengan Erlend as a dancer, plus “When I Was A Young Girl”. Such a closing.

Puas banget! That was one hell of a concert.

Thanks, Leslie! Even “One Evening” was not in your setlist, I’m glad to have a lovely evening with you.

Friday, February 24, 2012

Makan Apa di Malang?

Ke Malang nggak lengkap tanpa kulineran. Untungnya Mono paham bener hal ini. Hihi.. Menurut dia, semua makanan di kota apel ini top markotop. Makanya, di trip kali ini, nggak ada tuh mamam makanan Italiano, Mexicano, El Spanyola, Amerikano.. nonono. Semua harus khas Jawa Timur. Nggak masalah, since I’m an avid eater, mari jajal bersama kuliner Malang!

1.    Toko Oen
Buat yang mau ke Malang pasti destinasi kuliner utamanya ya ke sini. Walaupun makanannya internasional, daya tarik masa lalu ala Toko Oen jadi incaran. Interiornya khas jaman Belanda, mulai dari kursi, meja, model jendela dan pintu yang lebar, dan plang namanya yang sangat terlihat antik. Makanan andalan Toko Oen adalah desert, walaupun mereka juga menjual berbagai macam makanan snack dan makanan berat seperti nasi goreng.




Saya pesen es krim Oen’s Special (35 ribu), yang isinya ada 3 scoop es krim, wafer, astor, buah ceri. Manis, seger dan halussss.. Selain itu, saya juga pesen chicken sandwich (20 ribuan). Sayang nggak semantep es krimnya. Sandwichnya kecil banget, dan rasanya kurang nendang. Begitupun dengan beef sandwich punya Mono. Well, lain kali, emang harus pesen eskrimnya aja ya.. :D

 
Oen's Special
Chicken Sandwich
Semakin membulat setelah ngabisin eskrim -___-"
 2.    Depot Ronde Titoni
Suka ronde dan angsle? Ini dia masternya. Emang paling bener abang angkotnya nganterin ke sini. Terletak di Jalan Zainul Arifin, atau dekat dengan kantor Pendopo Malang, Depot Ronde Titoni nggak cuma jual angsle dan ronde, tapi juga roti goreng dan cakwe. Pas bener buat cemilan malem di kota Malang yang dingin.  Dengan harga 5000 untuk satu porsi ronde, udah bisa ngerasain nikmatnya ronde manis campur kuah jahe yang pedes. Saya yang nggak doyan minuman pedes, pesen angsle yang juga manisnya pas.. Isinya ronde plus roti dan kacang. Harga angsle juga 5000 perak, serta 2000 perak untuk cakwe dan roti gorengnya. Murah meriah nendang!

Cakweeeee....
Ronde
Angsle
3.    Tahu Campur Pak Iwan Jagalan
Sebenernya saya bukan penggemar tahu campur, mengingat dulu pernah trauma nyoba makan tahu campur di depan kantor pos Fatmawati dan kebanyakan petis. Enek sis. Tapi karena sekeluarga makan dan nggak ada menu lain di tempat makan di Jl. Pierre Tendean 1 D No. 108 (perempatan Jagalan) ini, Maka saya pun memberanikan diri jajal.


Sekilas tentang tahu campur pak Iwan, tempatnya sih kecil, mungkin bisa dibilang warung makan. Tapi walaupun tempatnya sederhana, tahu campur Pak Iwan ini rame banget. Denger-denger sih ini tahu campur paling enak se-Malang.

Yes, ternyata emang mantap! Tahu campurnya pas, nggak kebanyakan petis. Rasanya jadi seger dan gurih. Isinya bihun, tahu, dan daging dicampur kuah hangat. Bisa minta pake gajih atau nggak. Dengan harga 7000 rupiah, nggak heran deh kalo tempat ini crowded. Akhirnya trauma terhadap tahu campur pun sirna :D


4.    Pecel Mbak Poer
Deskripsi pecel nggak lebih dari campuran bayam, kacang panjang, kangkung, dan toge plus bumbu. That’s it. Tapi memang Pecel itu yang penting bumbu kacangnya. Nah, pecel Mbak Poer ini bisa dibilang nakar bumbu dengan pas. Nggak terlalu pedas, tapi tetep gigit. Oiya, di Malang ini saya nemu satu makanan yang saya suka banget: sate komoh. Sebenernya itu sate sapi, tapi pake bumbu yang manis. Nah, makan pecel Mbak Poer ya enaknya pake tambahan ini. Sedaaappp!


Sate Komoh (image from Google)


5.    Grand Food Court
Dari Sempu, perut yang kriuk-kriuk membawa ke Grand Food Court yang terletak di Jl Ahmad Yani no.9.  Nah di sini saya makan Bakso President yang terkenal. Sebenernya kalo makan di tempat legendaris, enaknya di tempatnya langsung. Tapi saat itu hajar yang deket aja lah. Aslinya, tempat ini ada di belakang Mitra II Department Store, lebih tepatnya di Jl. Batanghari No. 5, Malang.

Selain Bakso President, Grand Food Court ini lumayan lengkap tenant-nya. Ada Tahu Campur Pak Iwan, Rawon Tessy, Soto Madura Gubeng Pojok, Ayam Goreng Tenes, dan masih banyak lagi. Tempatnya nyaman, tapi ternyata agak salah nyoba Bakso President di sini. Bukan karena nggak enak, tapi karena pilihan menunya yang lebih sedikit dibanding di warung aslinya. Di Grand Food Court cuma tersedia pilihan standar isi bakso Malang: bakso halus, bakso urat, tahu, batagor, dan bakso panjang. Padahal seharusnya di warung Bakso President  tersedia paru, jeroan, bakso udang, mie gulung, sampe keripik bakso. Lengkapnya gak tanggung-tanggung..


Yang khas dari Bakso Malang juga adalah saos merahnya. Oiya, cara makan orang Malang untuk makan bakso beda lho:  cocol baksonya di saos merah, jangan semua saousnya ditumpahin ke kuah. Goodness!


Selain 5 di atas, saya juga makan bakso bakar satu-satunya di Malang, dan Nasi Buk yang ada di deket stasiun. Apa itu Nasi Buk? Nasi campur urap, empal, jeroan, serundeng dan sayur lodeh nangka. Kata Mono: Jangan salah pilih Nasi Buk, yang enak cuma yang di deket stasiun itu. Yang laen abal-abal.

Happy food hunting in Malang City!

Thursday, February 23, 2012

Liburan Mendung di Malang (part 3): Pulau Sempu & Bromo

Perasaan udah ke toko Oen, rafting, udah nginep di Jambuluwuk? Oalah, masih ada 2 hari lagi toh. Hehehe..  masih ada 2 spot tujuan lagi nih yang belom disamperin. Pulau Sempu dan Bromo. Jangan tanya keadaan otot dan tulang saat itu. Jika mereka copotan kayak furnitur Olimpik, maka pasti udah jalan sendiri ke Bersih Sehat! Tapi apalah artinya liburan tanpa bercapek-capek dahulu.. foto bagus kemudian.

 Perjalanan ke Sempu diawali dari obsesi saya akan pantai. Apalagi di Malang, di tempat dingin begitu ternyata ada pantai tersembunyi, waw membuat penasaran!

Seperti disebutkan di awal, perjalanan kita kali ini ditempelin sama hujan. Ya tentunya juga hari di saat keberangkatan kita ke Sempu. Tapi apa namanya ngetrip kalo nggak nekat? Berbekal GPS dan mobil sewaan, akhirnya cuma saya dan Mono aja yang berangkat ke Sempu. Dari rumah Eyang di daerah Tanjung, perjalanannya kira-kira 2 jam. Kami berangkat jam 8 dan sampe pantai Sendang Biru sekitar jam 10. Perjalanannya kelok-kelok, nggak mulus, tapiiii.. hijau semuaa.. Mata yang tiap hari ngeliat Word, Powerpoint, dan Notepad ini akhirnya liburan juga :)






Sebenernya waktu browsing-browsing udah sempet tau sebuah lagoon yang maknifisyen bernama Segara Anakan (yang bila disebut oleh orang Malang menjadi “Segoro Ana’en --> ‘k’ dilebur). Dari pantai Sendang Biru, naik kapal 10 menit ke pulau Sempu, trus lanjut jalan kaki selama 2 jam di medan yang becek, tanah semua, dan berpotensi menyesatkan. Katanya sih, sampe sana semua worth it dengan keindahannya. Tapi kejompoan dan cuaca mengalahkan segalanya. Yaudahlah, yang penting udah ke Sempu. Akika sih ogah, lagi ujan begini jalan di lumpur 2 jam! :))

Penampakan Segara Anakan

Sampe di Pantai Sendang Biru, parkir mobil, bengong dulu. Hujannya nggak berenti sama sekali! Sedih saya.. Sempet mikir juga sama Mono, apa balik lagi? Tapi masa perjalanan 2 jam dibuang begitu aja? Untungnya nggak lama setelah turun dari mobil, langsung dapet kapal yang mau anter ke pulau Sempu. Biayanya 100 ribu. Kita juga langsung nemu rombongan yang mau patungan sama kita. Lumajang..

Nemu spot kosong di Pulau Sempu, langsung pengen nyemplung bawaannya. Emang ya saya itu nggak bisa liat pantai dikit.. Soalnya pemandangan sekitar Sempu yang bener-bener indah. Bukit-bukit hijau di sekitar laut bikin lautan Sempu kayak danau raksasa. Airnya hijau terang dan sejuk. Baguus banget deh pokoknya. Katanya sih, Sempu ini Phuket-nya Indonesia. Bisa-bisa aja, tapi sayang sanitasinya emang belum bagus banget. Harus dimaksimalin lagi sepertinya.
Mas, potoin kita dong.. *bodo amat*

Lumayan mirip kan yaa sama Segara Anakan.. Kurang lumba-lumbanya aja..




Kalo lagi di pantai gini, bener-bener berasa quality time nya sama suami. Bukan apa-apa, saya dan dia itu tipe budak teknologi, kalo nyampe tempat makan pasti dulu2an check in di path/foursquare, bales mention di twitter, comment di facebook, duileeehh... Nah, kalo bener-bener ngobrol ngalor ngidulnya. Kenapa? Karena tangan udah kena air asin, ya sayang dong itu gadget om Steve Jobsnya pemirsa!

Puas berenang-renang dan ngobrol, jam 1 siang langsung balik aja deh. Karena ntar malem bakal ke Bromo, makanya kita nggak mau malem-malem. Sampe malang, lanjut makan Bakso President dulu! Cihuy!
                                                                     
***
Nggak pake tidur, jam 12 malam langsung cus ke Bromo. Alhamdulillah udah nyewa supir, perjalanan 3 jam di mobil pun dihabisin buat tidur aja. Lumanyan ya.. Tim kali ini terdiri dari saya, Mono, mama dan papa mertua, sama Niar sepupunya Mono. Sampe di sana pun ujan deras masiiiih aja menghantui. Lebih parah malah, hujannya pake angin segala. Mobil serasa digoyang-goyang sama angin yang kencengnya level wahid! Mobil kijang yang disewa buat berangkat pun goyang kena hantaman angin. Skeriii...

Sampe di sana, disamperin sama orang yang nyewain mobil jeep 4WD. Sewa mobilnya 350ribu bisa buat berlima, dan bakalan dianterin ke 2 tempat: penanjakan dan kaki kawah Bromo. Sampe di penanjakan, gerimis masih mengundang. Tanahnya juga basah, berlumpur dan licin plus cuaca yang gelap. Kabut masih menghalang, tanda-tanda sunrise nggak bakal datang. Nyesss kesel dan kecewa. 

Fog took my sunrise away :(
Untung sini masih orang Indonesie, langsung bersyukur Insya Allah masih ada kesempatan dateng lagi ke sini. Kesian soalnya ngeliat orang bule Rusia yang ngomongnya “No sunrise, huh?” sambil berkaca-kaca matanya.. Tapi bukan saya kalo nggak bisa ambil hikmahnya.. Daripada bermuram durja nggak bisa liat matahari terbit, mendingan kita naik kuda. Hihihi, begini deh hikmahnya jalan-jalan sama orang tua, jompo dikit masih dimaklumin. Di saat mama mertua udah nggak kuat nanjak, dese minta temenin eke naik kuda. Saya yang tadinya sok kuat di penanjakan, hatinya mencelos lega.. Akhirnya (walaupun gondok bayar 100ribu buat nanjak pake kuda)!
Please ignore the hat..
Dari penanjakan, jeep membawa saya dan rombongan ke kaki kawah Bromo. Dari situ harus jalan sekitar 1 km lagi untuk mencapai kaki kawah. Seharusnya jika cuaca cerah, maka tempat ini akan terlihat seperti gurun pasir yang indah, atau bahkan terlihat surreal seperti planet lain, seperti foto yang diambil teman saya Dmaz Brodjonegoro ini.


Photo by: Dmaz Brodjonegoro

Tapi, akibat hujan nonstop, semua jadi terlihat buram, coklat tua, dan dinginnya dua kali lipat. Ampun dije! Semua yang dipake di badan pun basah dari kepala sampe kaki. Amsyongnya adalah nggak bawa baju ganti karena mana tau bakalan lebih kuyub dari berenang? Di sini, saya juga naik kuda (lagi). Tapi kali ini saya nggak sendirian karena seluruh keluarga ikut naik kuda. Bisa dimaklumin karena keadaan anginnya yang super kenceng dan menyulitkan jalan kaki, belum lagi terjangan air ujan yang bikin perjalanan tambah lama.
 
Touchdown kaki kawah Bromo, dinginnya udah menusuk-nusuk tulang. Entah kenapa walaupun nggak lagi musim liburan (pasca Imlek), saat itu Bromo rame banget. Mungkin karena anak-anak sekolah dan kuliah masih belum masuk masa sekolah. Jadinya anak tangga yang untuk naikin puncak Bromo terpantau padat.. maka urunglah niat untuk menanjak karena macet di tengah-tengah tangga. Tips buat yang nggak tahan dingin, mungkin bawa minuman panas di termos kali ya. Atau tempel koyo di seluruh badan supaya nggak pusing. Soalnya dinginnya ituuuu nek! Nggak ada ampun.
Senyam-senyum.. padahal udah mau pingsan kedinginan

Not looking forward to see this, really :(

Bromo oh Bromo.. suatu saat gue harus dateng lagi pas cuaca cerah! Walaupun kurang manis, namun Bromo jadi penutup trip Malang saya. Jangan tanya bentuk tulang pas pulang gimana. Karena semua dijabanin, udah pasti mencong semua. Sampe Jakarta, Bersih Sehat aku dan suamiku datang!!

Monday, February 20, 2012

Liburan Mendung di Malang (part 2): Jambuluwuk & Rafting

Batu off we go!  Perjalanan keluarga kali ini udah di arrange sama adiknya mama mertua yang satu lagi, tante Ridha. Ia sama suaminya Om Herman udah nyewa villa Jambuluwuk Batu, yang udah pernah saya denger keberadaannya di Ciawi.

Sebelum nyampe sana, para pria Jumatan dulu. Nah pas banget mesjidnya itu terletak di depan alun-alun Batu. Ih, itu kayaknya alun-alun paling lucu semesta raya deh! Langsung deh insting fotografi amatiran (kelas Instagram) ini bergelora. Alun-alun sekaligus taman itu ada ferris wheel-nya, WC yang berbentuk apel sama strawberry, sama buah-buah raksasa yang lain. Mana udara dingin dan mendung, jadinya betah lama-lama. I wish Jakarta had a slice of this, really!





Solat Jumat kelar, foto-fotoan pun kelar. Lanjut jalan ke Jambuluwuk. Villa Jambuluwuk ini besar banget, hijau, dan memang diperuntukkan buat ngumpul. Biasa buat meeting kantor atau outing atau buat ngariung keluarga.  Pemandangannya super! Dari pinggir vila bisa keliatan gunung (yang saya nggak tau namanya) dan kabut yang indah bangeeet..  Di sekitar villa juga dihiasi bunga-bungaan, sungai kecil, bikin pemandangannya tambah spektakuler. Suasananya dingiiin dan asri. Vilanya juga dibagi berdasarkan ukuran, pake nama-nama daerah di Indonesia, dan saya kebagian nginep di Palembang. Meskipun villanya bagus, tapi rada mengecewakan nih room service-nya. Masa udah check in jam 2 siang, lantainya masih basah bekas pel? Udah gitu kamarnya emang ada 4 (2 atas sama bawah) dan segede gaban, tapi bed-nya cuma 2, twin pula! Sungguh tak recommended ya bagi yang mau bermesraan..




Kolam renang yang keren pun bikin lupa sama kekecewaan tadi. Rugi rasanya kalo nggak nyebur. Apalagi karena terletak di atas, jadi view nya langsung gunung berkabut tadi. Sisa hari pun dihabiskan di kolam renang yang dingin, foto-foto di depan gunung berkabut, dan ngumpul di villa bersama keluarga.



                                                                              ***
Besoknya, habis sarapan langsung check out jam 10 pagi. That was the first weekend in 2012 and I’m going to have some rafting! Di Batu, lokasi raftingnya itu di sungai Brantas dan nama tempatnya itu Kaliwatu. Kalo denger kata rafting di Citarik, saya ngebayanginnya agak berlebihan. Sekali jatoh, langsung keseret air sungai dan sayonara! Tapiiii katanya level rafting di sungai Brantas agak di bawah level Citarik kok, soalnya arusnya lebih tenang. Yuk mari dicoba.

Tips buat yang mau rafting pertama kali kayak saya, jangan pake sendal jepit apalagi sepatu. Sepatu dan kaus kaki hanya akan menyulitkan pergerakan karena berat dan basah. Mendingan pake sepatu sandal ala Crocs. Soalnya, kita dikhawatirkan akan jatuh dari perahu. Nah berabe kan kalo sendal anyut. Karena saya udah terlanjur pake sendal jepit, makanya langsung diiketin di pelampung yang nempel di badan. Kedua, jangan pake jins. Berat lho kalo basah. Mendingan pake celana training panjang, karena kalau pake celana pendek jadinya kedinginan kayak saya :D 

Sebelum rafting, kita di brief dulu sama lifeguardnya. Satu perahu buat 4-6 orang plus satu pendayung. Karena waktu itu lagi rame banget sama anak Unbraw, jadinya dayungnya abis deh. Yaudah enak dong nggak usah dayung (demikian pikiran perempuan males).  Dan.. off we go to the river! Jauuuh dari bayangan saya tentang arus sungai yang super deras, sungai Brantas tuh ayem. Tapi tetep ajaaaa seru! Karena berbatu-batu, tentu aja perjalanan perahu jadi meliuk-liuk dan turunannya itu sih yaaa.. serasa turun di air terjun mini! Bikin kaki gemeteraaann.. Yak DAN AKHIRNYA KITA JATOH SODARA-SODARA! Eh bukan kita deng, Mono doang yang nasibnya emang kudu nyemplung ke aer kali. Haha.. Tapi doi mah demen, sekali jatoh begitu dia langsung ribuuuut aja pengen ngebalikin perahu! Di saat udah sampe ujung, akhirnya saya rela deh ditebalikin. Terlanjur basah yah sudah mandi sekali...
Serius bener bang..


Ketauan banget histerisnya ya -_-"

Yuhuuuiiiii...


Oiya tips ketiga, bawalah baju ganti ya. Baju ganti dalam artian sampe CD, BH dan sampo sabun sekalian. Karena udah pasti basah, dan ada sesi perang-perangan antar sesama perahu -__-“ Jadinya itu basah sampe ke dalem-dalem bro and sis... Dan ketika balik ke markas rafting, ada kamar mandinya kok.

Secara keseluruhan sesi rafting di Kaliwatu ini sekitar 1 ½ jam. Puas banget dong ya kalo dibandingin sama arung jeramnya Dufan. Biayanya satu orang 110 ribu, udah termasuk makan siang habis rafting. Nggak rugi kan?

Liburan Mendung di Malang (part 1)

Say yeah to the first trip in 2012! Di awal tahun ini, tanpa rencana berarti saya pergi ke Malang, kampungnya Mono. Tadinya sempet ada wacana mau berangkat sekitar dari akhir Desember, tapi kemungkinan jadinya masih mentah karena  kerjaannya yang cutinya digilir.

Tak dinyana, akhirnya tanggal 3 Januari kemarin dia dapet cuti 10 hari. Wacana pun akan segera menjadi tindakan. Saya sebagai manusia yang belum pernah ke Malang ini pun excited, meskipun Malang gitu lho ya.. Nggak sengehits Bali, Gili Trawangan, Hong Kong apalagi Yurop.. Tapi berbekal browsing dan promosi suami yang menggebu-gebu soal kampungnya, plus foto-foto di Facebook temen yang bikin ngiler, Malang worth to visit kok.  Apalagi di sana bakalan idup enak leyeh-leyeh ga usah pusing transportasi dan akomodasi, ya iyalah secara ini kampungnya laki sendiri, ya banyak kerabat dan handai taulan yang siap membantu menyupiri. Hihi.

Cus lah kita dua hari kemudian, tiket pesawat langsung dibook (untung murah karena nggak lagi peak season, 800ribuan aja bolak balik), packing, berburu coat di FO  berhubung mau ke Bromo (jiyee kayak mau ke Frankais aja). Eh mami mertua juga mendadak ngiler mau ikutan. Judulnya liburan rame-ramean deh.  Pengennya sih, sekalian jalan-jalan juga bisa lebih kenal deket sama tante, bude, pakde, dan sepupunya Mono.

Ternyata oh ternyata, liburan yang tak terencana ini sungguh sungguh menyenangkan. Saya ngerasain es krim nya Toko Oen yang legendaris, rafting untuk pertama kalinya seumur-umur, pergi ke pantai Sempu yang lagi jadi thread populer di kaskus dan website-website traveling, dan yang terakhir pergi ke gunung Bromo yang katanya punya sunrise yang menggetarkan jiwa.

Walaupun menyenangkan, liburan dadakan ini ada flop-nya juga. Berhubung lagi musim hujan, acara melancong kali ini pun nggak jauh-jauh dari yang namanya basssaaah.. Defisit baju adalah akibatnya. Sebenernya sih nggak masalah, tapi gong hujan  paling nggak ngenakin ya pas di Bromo. Momen sunrise pun hilang ditelen bulet-bulet sama kabut.

Yasutralah, tapi karena udah sampe, ya dinikmati aja. Lagian kayaknya emang nggak bisa deh emosi di kota sedamai Malang. Nggak macet, nggak berisik, nggak pake tol aja nyampe ke tujuan paling lambat 20 menit. Kalo saya bisa bandingin suasananya sama Bandung, Malang is like Braga Bandung quieter, humbler, dan breezier. Pengen bobo terus bawaannya :D
                                                                              ***

Di hari pertama, karena udah sampe sekitar jam 2 siang, langsung pergi ke rumah eyangnya Mono. Rumah eyang ini yang bakalan jadi markas selama di Malang :D. Eyang yang udah berusia sekitar 70 tahunan itu masih sehat, dan tinggal di rumah yang sederhana banget, tapi ambience damainya itu pol banget. Beliau tinggal di sini sama Tante Ristu (adiknya mama mertua) dan anaknya yang namanya Tyas (yang berarti adalah sepupunya Mono). Memang yang banyak tinggal di sini adalah keluarga kandungnya mama mertua.  Saya sama Mono menempati kamar yang kecil, tapi lagi-lagi, nyaman bangeeett.. Bawaannya pengen nempelin kepala ke bantal. The feeling when you came home after you travel for a long time? Exactly.

Hujan sore rintik-rintik di hari pertama saya di Malang bikin suasana tambah adem tenterem. Disuguhin secangkir teh di ruang tamu sama tante Ristu aja berasa merem melek keenakan.. Padahal cuma teh seduh Tong Tji. Karena hujannya cuma rintik-rintik, yuk ah cus ke Toko Oen. Akhirnya saya berempat (sama suami, mama dan papa mertua) ngangkot pergi ke Toko Oen. Setelah ngemil-ngemil lucu di Toko Oen, lanjut cari kuliner Malang lainnya. Dari situ mama mertua berhasil aja loh nyarter angkot buat nganter-nganter kita keliling cari makanan. 30 ribu aja sampe depan rumah. Hahahaha sungguh gak kebayang di Jakarta, biaya segitu buat ojek doang kali, itu juga udah pake berantem ma abangnya!

Abang angkotnya pun langsung ngebawa kita ke tahu campur yang paling enak di Malang, Tahu Campur Pak Iwan. Dari situ, kita dibawa ke Ronde Titoni buat menikmati angsle dan wedang ronde. Cacing perut yang tadinya sibuk orkestra sekarang sibuk bertapa.

Dan postingan hari pertama ini ditutup dengan bahagia dan tidur nyenyak di rumah eyang :)

Monday, February 13, 2012

Resign

Masih seger banget di ingatan, dua tahun lalu tepatnya 11 November 2009, jadi hari pertama saya gabung ke Kompas.com.  Posisi saya waktu itu sebagai copywriter dan masuk di departemen kreatifnya Kompas.com.

Waktu itu usia saya masih 24, masih emosian, masih meniti karir, berharap bisa menemukan pekerjaan yang lebih baik, pokoknya karir di atas segala-galanya. Secara lagi LDR ya nek..

Saya yang dulunya kerja di majalah remaja cewek dan menjabat sebagai  feature writer dan editor jadi-jadian, punya ekspektasi kerja di Kompas.com tuh berat banget. Dateng harus on time jam  ½ 9, pulangnya malem bahkan kadang pagi, orangnya serius semua, bosnya galak kayak herder, trus kerjanya rodi. Tapi rela aja lah ya, namanya juga kerja di tempat femes.

Walaupun begitu, masih untunglah di Kompas.com masih bisa pake jeans. Saya kan nggak suka sama kostum kantoran ala mbak-mbak bank. Jadi pekerjaan ini pun saya siap terima dengan bahagia.

Hari pertama masuk, rada kaget juga. Beda banget sama tempat kerja sebelumnya yang kebanyakan perempuan, di divisi saya ini banyakan lelaki. Dari sekitar 15 orang waktu itu, cuma ada 4 cewek termasuk saya.  Waktu itu saya mikirnya ceweknya sadis-sadis nih, ya secara dulunya saya anak majalah cewek kan.. Udah biasa banget sama yang namanya geng-gengan.  Waktu itu di umur segitu, ternyata saya masih mikir kalo semua cewek di kantor pasti mean girls. Ahahaha. Shallow, I was.

Ternyata, pas makan siang saya langsung ditegor sama dua cewek yang ada di situ. Irma dan Grace, langsung nyolek bahu saya dan ngajak makan siang. Saat itu cewek yang satu lagi (Mbak Anas) lagi cuti karena anaknya sakit. Dari situlah dimulai keikriban di antara kita berempat.

Grace, me, Irma, Mbak Anas

Singkat cerita, dua minggu kemudian, saya udah ikutan tradisi rebutan martabak, donat atau pizza gratis (kalo ada yang ultah dan bagi-bagiin makanan)  dan nyela kawanan pria di sana. Saya juga langsung dapet celaan ‘tukang nyender’ sama ‘tukang ngelem’ gara-gara pembawaan saya yang santai dan dikit-dikit ngakak.  Baru kerasa deh bedanya kerja di lingkungan yang kebanyakan cowok. Jangan harap ngeliat ada yang lagi kasak-kusuk ngomongin orang, yang ada pasukan gendut-gendut lagi becanda jorok :))
Kompas.com Creative Team antiwaras

Tapi walaupun berada di lingkungan yang isinya laki semua, justru ceweknya jadi kompak dan nggak geng-gengan. Gimana  mau nge-geng juga ya, scara cuma 4 orang ya bok.. Apalagi setelah ditinggal Mbak Anas yg resign demi anak, semakin berkuranglah jumlah kaum hawa nan jelita di divisi kreatif Kompas.com. Saya serta Irma dan Grace pun jadi kompak dalam menangkis cela-celaan sadis dan jorok para pria :)) 

Soal kerjaan, saya juga salah besarrr sodara-sodara. Divisi saya ini kalau diibaratkan kayak pusat kreatif dan multimedia Kompas.com a.k.a tukang pahatnya AE. Saya sebagai copywriter, job desc nya ya bikin copy segala bentuk kreatif yang diorder AE, baik yang jualan ke klien maupun internal (promonya Kompas dan Kompas.com). Jadi kayak semi agency tapi di media. Berat? YA TOLONG NGGAK SAMA SEKALI KALEEE.. Sebagai copywriter tugas saya ya cuma ketak ketik copy sekaligus bikin kopi kalo udah kepala mulai nyender. Sekali-sekali brainstorming ide, tapi suasana meeting pun nggak pernah serius :D

Soal bos yang saya kira bakal sadistis dan jam kerja yang minta disembah? Lagi-lagi salah banget.  Saya bebas dateng jam 9an atau sekali-kali jam 10 paling mentok, lalu pulang ½ 6 sore. Jarang ada deadline mendesak. Bos saya, yang juga seorang lelaki, orang Sunda banget, bodor pisan, dan ngga heran semua bawahannya juga.  Doi punya hobi fotografi, dan terkadang saya sama cewek-cewek dijadiin objek percobaan. Horeee!
With Regina, the new girl. Photo by Riki Kurniadi

This was the most fun job I’ve ever had so far :)
                                                                           ***

Setahun, saya masih betah  bekerja di Kompas.com walaupun emang ada rasa jenuh. Bukan cuma jenuh kerjaan, tapi juga karena macetnya Jakarta yang tiada maaf bagimu. Jarak rumah saya di Lebak Bulus ke Palmerah itu nggak terlalu jauh, tapi tiap hari butuh satu setengah jam sampe dua jam aja di jalan untuk sampe kantor. Pernah diakalin dengan berangkat siang, tapi macetnya sama aja dan saya makin siang nyampenya. Belum lagi kalo jalan pulang. Tau sendiri yah daerah sepanjang Jalan Panjang – Permata Hijau – Pondok Indah bener-bener udah di luar akal sehat di jam-jam pulang kantor. Efeknya? Agak lebih sering memaki, agak lebih sering ngeluarin jari tengah, agak pegel kakinya setiap malem, agak insomnia jadinya harus menghadapi macet tiap hari L. Never knew that traffic can affect me like that.

Emang manusia itu nggak ada puasnya ya. Dikasih kerjaan banyak, bete. Kerjaannya dikit, ngehe. Ya saya yang kedua itu. Kadang-kadang rindu juga jadi jurnalis (jadi-jadian), yang (kesannya) sibuk liputan sana-sini, kenalan sama anak majalah anu, interviu artis anu, photoshoot di studio anu, dan glamoritas anu anak majalah pada umumnya.  Kerjaan saya yang kebanyakan di depan komputer bikin saya ngerasa agak tumpul..

Apalagi setelah menikah, semakin terasalah dibelenggu  pekerjaan. Jam kerja Mono sama saya nggak match sama sekali. Dia kerja di hari saya nggak kerja, dan sebaliknya. Jadinya saya sering dikomplen deh. Kapan bikin anaknya? :))

Akhirnya, karena faktor-faktor di atas dan sudah berpikir berbulan-bulan,  saya pun mengajukan resign. Cukup lama buat saya berpikir untuk ninggalin kerjaan yang lingkungannya menyenangkan + nggak setres + no pressure dan hari-harinya penuh sama tawa. Belum lagi orang-orangnya yang bikin saya ngerasa jadi bagian dari keluarga.

Meskipun akhirnya saya memutuskan resign dan rindu kerja di majalah, saya nggak langsung cus ngelamar di tempat lain. Saya cuma ingin break dari kerjaan dan menata hidup (cieee). Bukan karena berantakan sih, tapi memang setelah berbulan-bulan cari rumah sendiri, saya dan Mono akhirnya dapet rumah kontrakan impian di daerah Serpong. Tambah jauh buat saya bekerja, dan tambah susah buat saya untuk mengatur hidup berdua kalo ditambah bekerja kantoran.

Hari resign saya diwarnai dengan tumpahnya air mata. Nggak nyangka bakal sesedih ini. Apalagi di hari terakhir saya, semua pada ngumpul di rooftop kantor, kemudian foto-foto bareng, yang dilanjutkan dengan saya pamit sama satu-satu. Makin meveeeekk lah saya, mata basah, eyeliner luntur, maskara caur, hidung merah kayak badut. Momen ini pun kemudian diabadikan sama Mas Riki (bos saya) di kamera dan seminggu kemudian jadi sebuah video mengharukan dan bikin mevek part 2 yang diupload di Facebook.

The Farewell from mazta on Vimeo.


Nggak nyesel sama sekali jadi bagian dari Kompas.com walaupun sebentar. Masuk di umur 24, keluar di umur 27 dengan pengalaman yang tambah kaya, temen yang nambah banyak, pelajaran bekerja yang nambah referensi, dan pribadi yang nggak emosian lagi  (Insya Allah amien!).

My desk for 2 years. Good bye :')
 Thank you Kompas.com Creative Department for the 2 years and 3 months of laughters, joy, happy tears, and the crappily tasty foods. Most importantly thank you for togetherness you all shared to me, thank you for making me the part of the family. See u next time :)