Saturday, January 14, 2012

Letter to God: About Death

Prologue: Sedang galau. Inilah yang tertulis. Untuk Tuhanku. Semoga Ia membacanya.

Di awal tahun 2012 ini saya banyak sekali mendengar musibah kematian. Bukan cuma kematian orang tua, nenek, atau sepuh, tapi juga anak-anak muda yang sudah dapat giliran dipanggil olehMu. Tahun 2010 saya pernah merasakan ditinggal teman yang meninggal mendadak, Prinka. Saat itu saya rasanya sedih sekali dan hampa. Tak hanya sedih karena kehilangan teman, tapi juga tak percaya betapa umur kita pendek dan bisa saja diputus tiba-tiba.

Tuhan, mengapa pilu sekali jika mendengar orang mati muda daripada orang yang meninggal karena tua dan sakit? Saya langsung membayangkan betapa cluelessnya orang itu, betapa ia sedang semangat menyusun rencana, bekerja demi kehidupan yang lebih baik, bertemu dengan orang baru, jatuh cinta.. namun di tengah sibuknya kehidupan itu, ia harus meninggalkannya ke destinasi yang kita tak tahu dimana. 

Sedihnya, karena terkadang kita sibuk menyusun destinasi liburan untuk tahun depan, menyusun itinerary, menjaga kesehatan, menabung, tapi terkadang suka lupa destinasi sebenarnya. Destinasi yang ini bukan kita datangi, tapi mendatangi kita, kapan dan dimana tanpa rencana.

Seringnya kematian seperti jauh sekali. Seperti tak mungkin terjadi. Apalagi sekarang sudah ada Twitter. Melihat akun Twitter seseorang yang sudah meninggal itu menyakitkan, karena terlihat betapa cluelessnya ia dalam hitungan minggu/hari/jam ajal menjemput. Betapa sebaris kalimat yang ia tweet itu jadi terkesan ajaib, padahal mungkin jika ia masih hidup, kalimat tersebut mungkin cuma kata-kata biasa yang terekam di dunia maya.

Kadang suka tak sadar betapa gratisnya hidup ini. Betapa bebasnya dan luasnya hal yang bisa kita lakukan. Mengambil nafas,  memutuskan memilih sepatu yang mana saat belanja, makan nasi goreng enak, memesan cappucino, memilih channel TV, ngegosip tentang teman yang menyebalkan, beryoga, quality time atau apalah atas nama hidup bermakna. Namun betapa tak bermaknanya hal itu saat ajal datang.

Tuhan, mengapa saya takut? Apa mungkin karena tak pernah ada preview tentang kehidupan lain yang akan kita datangi itu.. Ketidaktahuan membuat saya takut.. namun lagi-lagi takut tak bermakna jika dibandingkan dengan kepastian 100% akan kematian.

Bagaimana dengan dosa, Tuhan? Saya pasti banyak dosa. Tapi saya tahu juga Engkau Maha Penyayang. Namun bagaimana aplikasi hukuman dan kasih sayangMu? Karena sepanjang hidup ini yang kurasakan hanyalah kasih sayangMu. Tak pernah kelaparan, sekolah sampai selesai, lalu bekerja dengan nyaman di kantor, bertemu dengan pria baik yang akhirnya menjadi suami, bisa makan enak kalau habis gajian, kalau belum gajian juga nggak pernah kelaparan. Sekali-kali mengeluh kurang tidur atau mengutuk kemacetan. Di rumah selalu ada orang tua yang menyambut mesra, tak pernah sekalipun diusir ke luar rumah.

Tuhan, saya tak pernah tahu rasanya mati itu.  Mungkinkah rasa juga akan mati dan hilang? Tapi bagaimana perasaan orang yang saya tinggalkan nanti? Bagaimana jika saya pergi meninggalkan rasa yang belum termaafkan untuk seseorang. Kalau di kehidupan, tinggal bilang “I don’t care, people can say anything they like, I live my own life”. Tapi bagaimana saat mati nanti?

Terkadang saya bertanya dalam hati, lebih sakit mana, ditinggal mati orang terdekat atau meninggalkan mati mereka? Di dalam hidup, kita tenggelam dalam kesedihan, namun orang-orang terdekat pasti datang menghibur. Kita masih terhubung dengan manusia lain. Tapi nanti, apabila saya sendirian di kuburan saya, apakah teman-teman yang sudah mati akan datang menghibur karena saya sedih tak bisa bertemu lagi dengan manusia yang masih hidup?

Sesak rasanya Tuhan, menulis ini. Sesak rasanya tidak mengetahui kapan, di mana, bagaimana, tapi pasti akan terjadi. Sesak rasanya menunggu musibah yang pasti.. namun lebih sesak adalah momen nanti saya lupa akan semua ini lalu akhirnya saat itu datang.

Ingin rasanya selalu ingat mati. Ingin rasanya tak selalu terjebak dalam godaan duniawi.

Semoga tulisan ini selalu jadi pengingat akanMu.                                                                                           

1 comment:

  1. :'( bener yaa harus ingat mati.. jadi menjalani kehidupan selalu ingat Tuhan and must living life to the fullest..

    ReplyDelete