Monday, December 24, 2012

Hong Kong and Macau Trip: Day 4


Buset deh, nulis trip di blognya kok sebulan sekali gini. Emangnya masih inget, bu? Tolong itu Bradley Cooper, minta pil NZT nya dong buat lanjutin cerita trip Hong Kong dan Macau di hari keempat!   *ngayal*

Sebenernya saya agak malas bin segan untuk menulis perjalanan saya dan Mono di Hong Kong hari keempat ini. Apa sebab?

Sunday, December 16, 2012

Things I’ve Done In My 27

Kata orang, umur 27 itu berkah. Soalnya 2+7 sama dengan 9, angka tertinggi. Katanya yaaa..

Mau bener atau nggak, sekarang sudah bulan Desember. Jadi, kalo ditang ting tung saya sudah menjalani umur 27 selama 11 bulan dan 26 hari. In 4 days, I have to say good bye to 27 *telen krim malem*

Nah, sebelum umur (yang katanya) keramat ini bertambah, napak tilas perjalanan ah. Ngapain aja sih saya di umur 27 ini?

Monday, November 5, 2012

Hong Kong Macau Trip: Day 3


Today’s itinerary: Macau Grand Prix Museum, Fisherman’s Wharf, Senado Square, City of Dreams, dan naik gondola di The Venetian Dreams.

Bonus itinerary: Miskomunikasiong dengan supir taksi, dan nyangsang di terminal bis di Macau!

Mengunjungi Hong Kong biasanya “sepaket” dengan mengunjungi Macau dan Shenzen. Apalagi walaupun jaraknya berdekatan,  ketiga kota ini punya karakter yang beda satu sama lain. Hong Kong terkenal dengan city hustle and bustle dan berbagai theme parks-nya, Macau dengan kasino, hotel-hotel mewah dan suasananya yang “Vegas-y”, sedangkan Shenzen dengan  tempat belanjanya yang supermurah!

Wednesday, October 3, 2012

MY FIRST B-B-B-BAKING!


YEAAAH..  Dengan bangga tahun ini bisa menceklis salah satu wishlist saya, yang saya sebut sampe 3 kali di sini. O V E N!

Kendalanya kenapa nggak beli juga waktu itu kan, karena keterbatasan space di rumah mini saya dan Mono. Turns out, kalau memang niat pasti ada tempat. Akhirnya setelah mengabaikan kondisi yang ada, saya pun nekat beli aja oven impian.


Sunday, September 30, 2012

Tokyo Zodiac Murders: Book Review


Here’s a little embarassing fact about me: I didn’t read a single book throughout the year! Memalukan memang, and I’m not proud of it.

Thursday, September 6, 2012

Hong Kong & Macau Trip: Day 2

Today’s itinerary: Foto-foto di Avenue of Stars, main seharian di Ocean Park, dan belanja di Ladies Night Market Mong Kok. Let’s go!

Rise and shine! Seperti biasanya, matahari bersinar sangat cerah di HK. Summer is very on! Pas banget, karena hari ini saya dan Mono bakalan ber outdoor ria.



Thursday, August 16, 2012

On Being a Freelancer, So Far..


... so good.



Setelah nggak bekerja lagi sekitar 6 bulan lalu, saya pun memutuskan untuk tetap bekerja, di rumah! Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap ibu-ibu RT yang memilih untuk fokus hanya mengurus rumah, I feel like I could die doing nothing. Waktu resign dulu, saya saya pun sempat dirundung galau ibuk-ibuk... Mostly bukan karena masalah uang, tapi produktivitas. You can call it aktualisasi diri, eksistensi pribadi or whatever lah, but not producing something feels like hammering me.


Saturday, August 11, 2012

Intermezzo: Ramadhan 2012


Rehat dulu ah dari postingan Hong Kong. Yah beginilah kalau tinggal di Wisteria Lane-nya Jakarta Serpong, koneksi internet agak kurang ganteng.  Nggak heran ya, aplot foto Fesbuk dan ngeblog travel post yang biasanya jadi kegiatan terdepan dalam berinternet, sekarang jadi ter-boro-boro!

Tuesday, July 31, 2012

Hong Kong & Macau Trip: Day 1


Jadi, itinerary hari ini adalah: beli-beli segala keperluan di bandara, keliling & belanja di Tsim Sha Tsui, check in hotel kemudian naik Peak Tram menuju Sky Terrace dan Madame Tussauds.

Bonus itinerary: tampang butek dan bau ketek, salah kostum, ada yang sol sepatunya copot (lirik suami).

Hong Kong & Macau Trip 2012: Intro


2012 marks when me and my hubby have the first overseas trip together, because we went to Hong Kong this year! Hore hore horeeeee...

Thursday, June 7, 2012

How I Met #NKOTBSBJKT

Jadi, weekend kemarin saya mengalami yang namanya “dreams come true”. Sebuah konser yang sudah dinanti-nantikan saya dan para perempuan yang tumbuh di tahun 80an akhir – 90an awal selama bertahun-tahun, dalam bentuk kolaborasi boyband dua generasi, New Kids and The Block & Backstreet Boys.

Wednesday, May 30, 2012

My Wish List


Saya belum pernah bikin wishlist. Mungkin karena saya anaknya kurang fokus dan BM. Kalo di list bener-bener, mah, nggak akan kelar-kelar urusan duniawi. Makanya, setelah melalui proses pikir memikir, ini dia list benda-benda yang saya inginkan sampe kepikiran lebih dari dua hari (it means I really want it) :D

Saturday, May 26, 2012

Back to Bali

Everybody deserves a laid-back, unplanned, less-itineraries, wherever-you-wanna-go, eat-like-a-pig, take-less-panorama-photos-and-more-self-photo-kinda-holiday sometimes.



And that’s what I did at Bali for my last trip.

Tuesday, May 8, 2012

Hubby's Birthday Trip

Tanggal 16 April kemarin sang suami berulangtahun. Yeay, akhirnya umur beliau sama kayak saya!  Stevie G. Hotel Bandung pun dipilih menjadi venue merayakan ulang tahun. Sebagai  seorang Liverpudlian berdarah-darah, hidup Mono belum berfaedah kayaknya kalo belum nginep di hotel ini. Emang rejeki, waktu itu salah satu groupon juga lagi ada penawaran harga super miring buat nginep di Stevie G Hotel. Ditambah dengan diskon 50% debit Mandiri, langsung nambah semalem lagi deh. Emang kalo jodoh gak kemana ya :D

Monday, April 23, 2012

The Thing About Denial


“People who undergo bitterness tend to deny beautiful things that come to them.”

Ini bukanlah quote dari pujangga, selebtwit, atau damnitstrue, tapi dari saya sendiri. Jreng! Kenapa saya bisa tiba-tiba sok tau bikin quote, karena dua film yang saya tonton minggu ini: Love and Other Drugs dan One Day.

Dua film yang dibintangi oleh Anne Hathaway ini kurang lebih sama, tentang perempuan yang sudah melalui berbagai fase pahit dalam hidup dan akhirnya “menolak” cinta yang datang kepada mereka, simply because they always assume that love is bad, and if something good comes to them then it’s too good to be true.

Emma Morley dan Dexter Mayhew, bertemu di tahun 1988 pada saat kelulusan kampus. Emma ngaku dia udah lama naksir Dexter, but somehow that night they didn’t have sex. Ternyata sampe tahun-tahun berikutnya, malam itulah yang menjaga mereka untuk tetap “berteman” saja, murni dalam artian no sex at all. Terutama karena mereka tumbuh berpisah dan jarang bertemu, tapi bagaimanapun tetap sharing life timeline yang sama. Karakter Emma mengingatkan saya kepada perempuan masa kini yang suka bermimpi, a bit mellow, and secretly weeping at night after work. Her life wasn’t easy, harus melupakan mimpinya jadi penulis dan bekerja jadi waitress dan guru sekolah supaya bisa melanjutkan hidup. Dia juga harus sharing kamar dan menjalani hubungan dengan seorang comedian wannabe yang momen lucu pria itu cuma terjadi ketika dia jatoh dari tangga. Buatnya, Dexter is the other side of the world to her, yang tinggal di universal paralel, namun sesekali berkunjung ke kehidupannya.  Emma membangun sendiri dinding denial-nya, selama 16 tahun dan sampai Dexter sudah menikah dan punya anak. Emma menganggap bahwa Dexter cuma bakal menambah kepedihan dan kegetiran yang sudah dia koleksi. I don’t want to be an annoying spoiler, tapi gampang ditebak selama 16 tahun akhirnya dinding denial itu runtuh juga.


Film kedua, Love and Other Drugs, hampir sama. Maggie Murdock yang menderita Parkinson, nggak percaya kalau bakal ada laki-laki yang bakal betah lama-lama sama dia. Apalagi Jamie Randall nggak lebih dari seorang bed adventurer yang nggak pernah serius sama satu perempuan. Long story short, in a cliche way, Jamie jatuh cinta beneran sama Maggie. Tapi Maggie nggak mengizinkan hal itu terjadi, karena dia merasa akan selalu jadi beban buat Jamie seumur-umur. Tapi untuk sesaat, Maggie pun merasakan juga betapa manisnya being as the center of the universe of someone, meskipun setelah itu dimentahin lagi. Enough for that addictive sugar.



Speaking of sugar, dialog termanis adalah ketika Jamie mengejar Maggie ketika ia harus beli obat secara rutin di sebuah kota yang harus ditempuh berjam-jam dalam bus penuh lansia. Kegigihan Jamie pun kemudian membuat Maggie pun mengakui hal ini, kelemahannya, hal yang paling ditutupinya:

Maggie Murdock: I'm gonna need you more than you need me. 
Jamie Randall: That's okay. 
Maggie Murdock: [crying] No it's not! It isn't *fair*! I have places to go! 
Jamie Randall: You'll go there. I just may have to carry you. 
Maggie Murdock: ...I can't ask you to do that. 
Jamie Randall: You didn't. 


Oh so much for being a strong woman.

Ditilik dari pengalaman yang tersisa di otak saya, biasanya makhluk bernama denial ini muncul setelah fase ekspekstasi yang udah mati duluan. Ekspektasi yang meninggal itu pun kemudian bereinkarnasi jadi mati rasa dan kemudian bereproduksi lagi sebuah makhluk bernama denial yang berbahaya. Kenapa saya sebut berbahaya, karena roda kehidupan tiap hari berputar, my dear. Nggak semuanya yang datang ke kehidupan itu bawa racun yang harus ditolak. Namun namanya juga resepsi otak, akan bereaksi sesuai dengan gumpalan pengalaman yang ada di dalamnya.

Kedua film ini pun pada akhirnya menyajikan akhir dari proses itu. The day when you tired of refusing, and just simply receive what has come to you without questioning.

And after that, everything has never been clearer.

Thursday, April 19, 2012

I Love How You..

- Always wait for me to sleep first because you don’t want to your snore to wake me up
- Suddenly takes me dancing in a random afternoon when it’s raining.. you and your surprises.
- Always ask for my permission everytime you want to go to the toilet... :))
- Kiss me on my forehead when I was asleep everytime you have the early flight
- Do the dishes because you know how tired I was after cooking
- Take my hand on our car when the traffic light turns red
- Talk about 90s with me. Growing up in the same era makes us like know everything! :D
- Keep your promise to always make me happy since 2007.. you're keeping it til now.

PS: This list is gonna keep going how mushy they are, and may this note becomes the cure everytime we have the hard times.

XOXO,
your wife

Friday, April 6, 2012

The Kitchen Life, Updated!

Setelah tinggal sendiri dan ga kerja kantoran lagi, akhirnya saya punya allll the time in the world buat masak. 

Alhamdulillah, walaupun dapurnya sempit ngalah2in gang senggol, udah banyak kuah ngebul, bau gosong, wangi bawang yang keluar dari situ.

Setelah ini pengennya bisa beli oven, biar bisa ngewujudin impian saya bikin macaroni schotel.. Amin! 

Well, these are the dishes that have been released from my kitchen. Some blurry images caused by the hungrer and impatience from me and hubby! 




Soto ayam
Kumplit yaaah? :D
Brokoli cah ayam
Sup udang tahu yang rasanya mirip tomyam :D

Pancake madu + apel
 
Ikan lele goreng + sayur asem! *pukpukdirisendiri
Mac and cheese with grilled chicken
   
Salah satu kebanggaan: Baked salmon with salmon and mushroom sauce! (pake inglais biar kedengerannya mantep)

 

Thursday, March 22, 2012

Male Singers I Love and How Mayer Hawthorne Has Topped Them All

Buat perempuan kebanyakan, termasuk saya, male singers alias penyanyi laki itu sebuah kombinasi mematikan, apalagi kalo ganteng. Kalo dengerin lagu-lagu para male singers ini, serasa dinyanyiin sambil ditatap matanya di ruangan yang temaram kemudian selanjutnya...

Untung ilusi ini hanya berlangsung sampe abege saja.

Selama menyukai musik, udah ga terhitung berapa penyanyi pria yang jadi favorit saya. Kenapa saya lebih suka penyanyi pria daripada penyanyi wanita, ya udah pasti karena sexual factor.. Love song is better with heavenly words towarding to “her” than “him” rigghhtttt??

Jika ditilik-tilik, male singers itu terdiri dari beberapa kategori:

1. Yang lagunya enak + tampang surgawi
Yang masuk kategori ini menurut saya tentu saja 3J, John Mayer, John Legend, dan Jason Mraz, dan Michael Buble. Modalnya: tampang yang kecipratan keringetnya Nabi Yusuf + lagu yang gampang dihafalin + perutnya lurus gak belok-belok. Selain itu typical dari kelompok ini adalah fashion statement mereka yang “aman”, kalo nggak urakan kayak kedua JM, rapi jali pake dasi dan sepatu mengkilat ala JL atau MB.




2. Yang lagunya enak + tampang lumayan
Banyak nih yang kayak gini, walaupun aura upil Nabi Yusuf aja gak ada, tapi punya musik yang bikin nagih. I love: Jack Johnson and his surfing buddy Donavon Frankenreiter, Amos Lee, Simply Red, Beck, atau Jens Lekman.



3. Leader band yang paling menonjol di band-nya, tapi kalo sendirian jadinya nggak terlalu kece alias band-jenik
Menurut saya Chris Martin lah yaaa.. Sama Jay Kay nya Jamiroquai, atau Erlend Oye nya Kings of Convenience.


4. Boybands
Tampangnya masuk kategori 1 (bahkan kadang-kadang lebih dari kategori 1, mungkin bidadara surga aja kalah), suaranya pun oke, tapi terkadang sisi macho mereka luntur tur tur  begitu mereka berjoget. Walaupun Ronan Keating, Nick Carter,dan Shane Filan tetap memiliki hatiku ketika umur belasan.



Nah, sejak tahun 2011 bertambah satu lagi male singer favorit saya, Mayer Hawthorne. I love him for so many reasons! Pertama, lagunya beda banget sama yang male singer yang saya sukai. He sings soul, a music I’m not really familiar with. Biasanya soul itu kan identik sama black people. Tapi, Mr. Hawthorne ngebawain soul dengan cara yang beda. Kebanyakan lagunya bercerita tentang perempuan (classic formula), dalam nada dan beat yang menyenangkan sekali.  Suaranya bisa serak kayak bangun tidur, bisa juga falsetto ala black people juga.


Kedua, tampangnya masuk kategori 1. Non arguable. Tapi, gayanya nggak standar kayak penyanyi kategori 1. Mayer loves tidy outfit, tapi di-combine sama sneakers Nike-nya, atau kadang-kadang dasi yang sama sekali tabrakan. Waktu Java Jazz kemarin (hari kedua), dese pake PINK SUIT (!!), flowery tie (!!), buat nemenin kemeja putih dan celana khakinya. Di hari pertama lebih ajaib lagi. Doi pake celana pendek di atas suit (!!). Even he wore RED SUIT for his concert at England (!!) tapi entah bagaimana, tetap “laki”, bikin meleleh, dan ga lekong-ish. Ajaib pokoknya kakang Mayer ini.

MH performance at England, photo by @madebymayo
at Java Jazz with PINK suit, photo by @odeliabuntario

Alasan ketiga, Mr. Hawthorne ini punya band yang bernama The County, which makes him a band leader. Tapi tanpa band-nya pun, fansnya udah kenal duluan dengan nama Mayer Hawthorne, dan kalaupun dia tampil tanpa band, nggak bikin jeniknya menurun. Ah gokil pinter banget deh kamyu...











at press conference, he wore a bath suit!!!!

Java Jazz day 2



On the top of the reason, konsernya di Java Jazz kemarin bener-bener bikin senyuuum! Di luar lagu-lagunya yang emang udah saya hafal mati, Mayer Hawthorne is really an incredible piece to watch on stage. Lucu dan gemesin bikin pengen sentil! MH punya "tradisi" untuk ngambil foto di setiap stage doi tampil dimanapun buat di-upload di Instagram. Yang bikin ngakak adalah sesi “picture time” dimana dan band-nya spare waktu beberapa menit buat difoto dalam berbagai gaya kocak. Doi juga ngajak joget bareng di lagu medley “Shiny and New’ dan  “I Wish it Would Rain”. Mana pake sesi buka kancing jas pula sebelum lagu medley tadi.  Haduuh... *kipaskipaskepanasan*


Java Jazz day 3. Akhirnya ikut nampang juga...



picture time!!
Mari kita tonton video konsernya kemarin yang sangat menggemaskan:


Suasana retro ala tahun 50an berasa banget waktu MH dan bandnya nyanyi harmonisasi vokal ala Motown. Konser pun ditutup sama encore “Maybe So, Maybe No” sama “Gangsta Love”.  Like being mind-bogglingly starstruck in one hour... Bener-bener pengalaman konser yang bikin hepi sampe beberapa hari (Pengalaman terakhir seneng nonton konser kayak gini waktu Jason Mraz).

Mayer Hawthorne, thank you for the awesome concert, you make me feel so shiny and new again!

Monday, February 27, 2012

One Evening with Feist

Before Leslie Feist’s music became “darker” (forgive my amateur term) before the “Metals” album, I’ve been a fan of her.  Feist ini lagunya yang nemenin saya awal-awal kuliah dulu (tahun 2004an). Beli CD “Let it Die” pun bajakan di barel UI. Maklumilah kantong mahasiswa.

Lagu favorit saya waktu itu: Inside and Out, One Evening, Mushaboom, Gatekeeper, Tout Doucement, When I Was a Young Girl, hampir semuanya. Tanpa perlu usaha, waktu itu udah afal mati deh sama lagu-lagu Feist. The autumn-y feeling yang ada di lagu-lagu Feist bikin saya jatuh cinta. Tapi pas album kedua, The Reminder, menurut saya Feist mulai “menggelap”. Walaupun begitu suka juga sih sama lagu “So Sorry”, “Brandy Alexander”, sama “1234”.

Album ketiga, “Metals”, lebih dark lagi. Ouch. Actually I’m not a big fan of dark music,  but Feist is unforgettable for her voice. Her vocal character: Not too powerful, creaky-voiced, misty, like whispering but in strong tone.  Sexy in a weird way lah pokoknya.


Jadi, berbekal membangkitkan romansa masa kuliah, harga tiket konsernya yang lumayan murah, plus usaha ngafalin lagu-lagu Feist di album Metals dua minggu sebelumnya (because I hate being un-singalong person in a concert),  Selasa 15 Februari lalu akhirnya ketemu juga sama Feist.

Dibuka sama Erlend Oye  (yeay!), suasana dibangun dulu lagu Cayman Islands, Close To You, sama satu lagu bahasa Norway dan dari band Big Star.  Sekitar 30 menit kemudian baru Feist muncul bersama pasukannya. She looked great with a mini dress, a medium bangs, and a guitar. Perfect picture!

Photo by: Yahoo! Indonesia
Lagu “Undiscovered First” dari album Metals langsung dimainin. Bener dugaan saya, pasti 70% konser ini bakalan berisi lagu-lagu dari album barunya. “Graveyard”, “How come You Never Go There”, sama “The Bad in Each Other” juga dibawain.  “Mushaboom” hadir dengan  aransemen yang berbeda. Lagu dari The Reminder juga eksis, kayak “So Sorry”, sama “I Feel It All” dan “Honey Honey”.  As expected, lagu-lagu favorit saya dari album Let it Die nggak dibawain :( Tapi di Encore dia kasih kejutan dengan nyanyiin lagu album titlenya “Let it Die”. Hore!

Lagu-lagu kayak “Commotion” sama “Caught a Long Wind”, “Anti Pioneer” were not really my cup of tea, jadi nggak singalong deh. But just by her voice, I was captivated and mesmerized. Bikin saya menikmati sepanjang konser. Nggak kepengen ngobrol apalagi foto-foto. Kamera pun  nganggur adanya.

Overall, Feist was very talkative. She said being in Jakarta was surreal, was feeling like in another dimension. Like very far-faraway.  Another scene: penonton  nyanyiin lagu “Selamat Ulang Tahun” buat stage managernya karena diminta sama dia untuk nyanyi Happy Birthday versi Indonesia. One chatty concert, for sure!

Sebagai encore, selain let it die, Sealion juga akhirnya berputar di Fairgrounds.  Encore kedua (yes, she did TWO ENCORES!) dia nyanyi bareng Erlend di lagu “The Build Up” (aaaakkk....), Intuition dengan Erlend as a dancer, plus “When I Was A Young Girl”. Such a closing.

Puas banget! That was one hell of a concert.

Thanks, Leslie! Even “One Evening” was not in your setlist, I’m glad to have a lovely evening with you.

Friday, February 24, 2012

Makan Apa di Malang?

Ke Malang nggak lengkap tanpa kulineran. Untungnya Mono paham bener hal ini. Hihi.. Menurut dia, semua makanan di kota apel ini top markotop. Makanya, di trip kali ini, nggak ada tuh mamam makanan Italiano, Mexicano, El Spanyola, Amerikano.. nonono. Semua harus khas Jawa Timur. Nggak masalah, since I’m an avid eater, mari jajal bersama kuliner Malang!

1.    Toko Oen
Buat yang mau ke Malang pasti destinasi kuliner utamanya ya ke sini. Walaupun makanannya internasional, daya tarik masa lalu ala Toko Oen jadi incaran. Interiornya khas jaman Belanda, mulai dari kursi, meja, model jendela dan pintu yang lebar, dan plang namanya yang sangat terlihat antik. Makanan andalan Toko Oen adalah desert, walaupun mereka juga menjual berbagai macam makanan snack dan makanan berat seperti nasi goreng.




Saya pesen es krim Oen’s Special (35 ribu), yang isinya ada 3 scoop es krim, wafer, astor, buah ceri. Manis, seger dan halussss.. Selain itu, saya juga pesen chicken sandwich (20 ribuan). Sayang nggak semantep es krimnya. Sandwichnya kecil banget, dan rasanya kurang nendang. Begitupun dengan beef sandwich punya Mono. Well, lain kali, emang harus pesen eskrimnya aja ya.. :D

 
Oen's Special
Chicken Sandwich
Semakin membulat setelah ngabisin eskrim -___-"
 2.    Depot Ronde Titoni
Suka ronde dan angsle? Ini dia masternya. Emang paling bener abang angkotnya nganterin ke sini. Terletak di Jalan Zainul Arifin, atau dekat dengan kantor Pendopo Malang, Depot Ronde Titoni nggak cuma jual angsle dan ronde, tapi juga roti goreng dan cakwe. Pas bener buat cemilan malem di kota Malang yang dingin.  Dengan harga 5000 untuk satu porsi ronde, udah bisa ngerasain nikmatnya ronde manis campur kuah jahe yang pedes. Saya yang nggak doyan minuman pedes, pesen angsle yang juga manisnya pas.. Isinya ronde plus roti dan kacang. Harga angsle juga 5000 perak, serta 2000 perak untuk cakwe dan roti gorengnya. Murah meriah nendang!

Cakweeeee....
Ronde
Angsle
3.    Tahu Campur Pak Iwan Jagalan
Sebenernya saya bukan penggemar tahu campur, mengingat dulu pernah trauma nyoba makan tahu campur di depan kantor pos Fatmawati dan kebanyakan petis. Enek sis. Tapi karena sekeluarga makan dan nggak ada menu lain di tempat makan di Jl. Pierre Tendean 1 D No. 108 (perempatan Jagalan) ini, Maka saya pun memberanikan diri jajal.


Sekilas tentang tahu campur pak Iwan, tempatnya sih kecil, mungkin bisa dibilang warung makan. Tapi walaupun tempatnya sederhana, tahu campur Pak Iwan ini rame banget. Denger-denger sih ini tahu campur paling enak se-Malang.

Yes, ternyata emang mantap! Tahu campurnya pas, nggak kebanyakan petis. Rasanya jadi seger dan gurih. Isinya bihun, tahu, dan daging dicampur kuah hangat. Bisa minta pake gajih atau nggak. Dengan harga 7000 rupiah, nggak heran deh kalo tempat ini crowded. Akhirnya trauma terhadap tahu campur pun sirna :D


4.    Pecel Mbak Poer
Deskripsi pecel nggak lebih dari campuran bayam, kacang panjang, kangkung, dan toge plus bumbu. That’s it. Tapi memang Pecel itu yang penting bumbu kacangnya. Nah, pecel Mbak Poer ini bisa dibilang nakar bumbu dengan pas. Nggak terlalu pedas, tapi tetep gigit. Oiya, di Malang ini saya nemu satu makanan yang saya suka banget: sate komoh. Sebenernya itu sate sapi, tapi pake bumbu yang manis. Nah, makan pecel Mbak Poer ya enaknya pake tambahan ini. Sedaaappp!


Sate Komoh (image from Google)


5.    Grand Food Court
Dari Sempu, perut yang kriuk-kriuk membawa ke Grand Food Court yang terletak di Jl Ahmad Yani no.9.  Nah di sini saya makan Bakso President yang terkenal. Sebenernya kalo makan di tempat legendaris, enaknya di tempatnya langsung. Tapi saat itu hajar yang deket aja lah. Aslinya, tempat ini ada di belakang Mitra II Department Store, lebih tepatnya di Jl. Batanghari No. 5, Malang.

Selain Bakso President, Grand Food Court ini lumayan lengkap tenant-nya. Ada Tahu Campur Pak Iwan, Rawon Tessy, Soto Madura Gubeng Pojok, Ayam Goreng Tenes, dan masih banyak lagi. Tempatnya nyaman, tapi ternyata agak salah nyoba Bakso President di sini. Bukan karena nggak enak, tapi karena pilihan menunya yang lebih sedikit dibanding di warung aslinya. Di Grand Food Court cuma tersedia pilihan standar isi bakso Malang: bakso halus, bakso urat, tahu, batagor, dan bakso panjang. Padahal seharusnya di warung Bakso President  tersedia paru, jeroan, bakso udang, mie gulung, sampe keripik bakso. Lengkapnya gak tanggung-tanggung..


Yang khas dari Bakso Malang juga adalah saos merahnya. Oiya, cara makan orang Malang untuk makan bakso beda lho:  cocol baksonya di saos merah, jangan semua saousnya ditumpahin ke kuah. Goodness!


Selain 5 di atas, saya juga makan bakso bakar satu-satunya di Malang, dan Nasi Buk yang ada di deket stasiun. Apa itu Nasi Buk? Nasi campur urap, empal, jeroan, serundeng dan sayur lodeh nangka. Kata Mono: Jangan salah pilih Nasi Buk, yang enak cuma yang di deket stasiun itu. Yang laen abal-abal.

Happy food hunting in Malang City!

Thursday, February 23, 2012

Liburan Mendung di Malang (part 3): Pulau Sempu & Bromo

Perasaan udah ke toko Oen, rafting, udah nginep di Jambuluwuk? Oalah, masih ada 2 hari lagi toh. Hehehe..  masih ada 2 spot tujuan lagi nih yang belom disamperin. Pulau Sempu dan Bromo. Jangan tanya keadaan otot dan tulang saat itu. Jika mereka copotan kayak furnitur Olimpik, maka pasti udah jalan sendiri ke Bersih Sehat! Tapi apalah artinya liburan tanpa bercapek-capek dahulu.. foto bagus kemudian.

 Perjalanan ke Sempu diawali dari obsesi saya akan pantai. Apalagi di Malang, di tempat dingin begitu ternyata ada pantai tersembunyi, waw membuat penasaran!

Seperti disebutkan di awal, perjalanan kita kali ini ditempelin sama hujan. Ya tentunya juga hari di saat keberangkatan kita ke Sempu. Tapi apa namanya ngetrip kalo nggak nekat? Berbekal GPS dan mobil sewaan, akhirnya cuma saya dan Mono aja yang berangkat ke Sempu. Dari rumah Eyang di daerah Tanjung, perjalanannya kira-kira 2 jam. Kami berangkat jam 8 dan sampe pantai Sendang Biru sekitar jam 10. Perjalanannya kelok-kelok, nggak mulus, tapiiii.. hijau semuaa.. Mata yang tiap hari ngeliat Word, Powerpoint, dan Notepad ini akhirnya liburan juga :)






Sebenernya waktu browsing-browsing udah sempet tau sebuah lagoon yang maknifisyen bernama Segara Anakan (yang bila disebut oleh orang Malang menjadi “Segoro Ana’en --> ‘k’ dilebur). Dari pantai Sendang Biru, naik kapal 10 menit ke pulau Sempu, trus lanjut jalan kaki selama 2 jam di medan yang becek, tanah semua, dan berpotensi menyesatkan. Katanya sih, sampe sana semua worth it dengan keindahannya. Tapi kejompoan dan cuaca mengalahkan segalanya. Yaudahlah, yang penting udah ke Sempu. Akika sih ogah, lagi ujan begini jalan di lumpur 2 jam! :))

Penampakan Segara Anakan

Sampe di Pantai Sendang Biru, parkir mobil, bengong dulu. Hujannya nggak berenti sama sekali! Sedih saya.. Sempet mikir juga sama Mono, apa balik lagi? Tapi masa perjalanan 2 jam dibuang begitu aja? Untungnya nggak lama setelah turun dari mobil, langsung dapet kapal yang mau anter ke pulau Sempu. Biayanya 100 ribu. Kita juga langsung nemu rombongan yang mau patungan sama kita. Lumajang..

Nemu spot kosong di Pulau Sempu, langsung pengen nyemplung bawaannya. Emang ya saya itu nggak bisa liat pantai dikit.. Soalnya pemandangan sekitar Sempu yang bener-bener indah. Bukit-bukit hijau di sekitar laut bikin lautan Sempu kayak danau raksasa. Airnya hijau terang dan sejuk. Baguus banget deh pokoknya. Katanya sih, Sempu ini Phuket-nya Indonesia. Bisa-bisa aja, tapi sayang sanitasinya emang belum bagus banget. Harus dimaksimalin lagi sepertinya.
Mas, potoin kita dong.. *bodo amat*

Lumayan mirip kan yaa sama Segara Anakan.. Kurang lumba-lumbanya aja..




Kalo lagi di pantai gini, bener-bener berasa quality time nya sama suami. Bukan apa-apa, saya dan dia itu tipe budak teknologi, kalo nyampe tempat makan pasti dulu2an check in di path/foursquare, bales mention di twitter, comment di facebook, duileeehh... Nah, kalo bener-bener ngobrol ngalor ngidulnya. Kenapa? Karena tangan udah kena air asin, ya sayang dong itu gadget om Steve Jobsnya pemirsa!

Puas berenang-renang dan ngobrol, jam 1 siang langsung balik aja deh. Karena ntar malem bakal ke Bromo, makanya kita nggak mau malem-malem. Sampe malang, lanjut makan Bakso President dulu! Cihuy!
                                                                     
***
Nggak pake tidur, jam 12 malam langsung cus ke Bromo. Alhamdulillah udah nyewa supir, perjalanan 3 jam di mobil pun dihabisin buat tidur aja. Lumanyan ya.. Tim kali ini terdiri dari saya, Mono, mama dan papa mertua, sama Niar sepupunya Mono. Sampe di sana pun ujan deras masiiiih aja menghantui. Lebih parah malah, hujannya pake angin segala. Mobil serasa digoyang-goyang sama angin yang kencengnya level wahid! Mobil kijang yang disewa buat berangkat pun goyang kena hantaman angin. Skeriii...

Sampe di sana, disamperin sama orang yang nyewain mobil jeep 4WD. Sewa mobilnya 350ribu bisa buat berlima, dan bakalan dianterin ke 2 tempat: penanjakan dan kaki kawah Bromo. Sampe di penanjakan, gerimis masih mengundang. Tanahnya juga basah, berlumpur dan licin plus cuaca yang gelap. Kabut masih menghalang, tanda-tanda sunrise nggak bakal datang. Nyesss kesel dan kecewa. 

Fog took my sunrise away :(
Untung sini masih orang Indonesie, langsung bersyukur Insya Allah masih ada kesempatan dateng lagi ke sini. Kesian soalnya ngeliat orang bule Rusia yang ngomongnya “No sunrise, huh?” sambil berkaca-kaca matanya.. Tapi bukan saya kalo nggak bisa ambil hikmahnya.. Daripada bermuram durja nggak bisa liat matahari terbit, mendingan kita naik kuda. Hihihi, begini deh hikmahnya jalan-jalan sama orang tua, jompo dikit masih dimaklumin. Di saat mama mertua udah nggak kuat nanjak, dese minta temenin eke naik kuda. Saya yang tadinya sok kuat di penanjakan, hatinya mencelos lega.. Akhirnya (walaupun gondok bayar 100ribu buat nanjak pake kuda)!
Please ignore the hat..
Dari penanjakan, jeep membawa saya dan rombongan ke kaki kawah Bromo. Dari situ harus jalan sekitar 1 km lagi untuk mencapai kaki kawah. Seharusnya jika cuaca cerah, maka tempat ini akan terlihat seperti gurun pasir yang indah, atau bahkan terlihat surreal seperti planet lain, seperti foto yang diambil teman saya Dmaz Brodjonegoro ini.


Photo by: Dmaz Brodjonegoro

Tapi, akibat hujan nonstop, semua jadi terlihat buram, coklat tua, dan dinginnya dua kali lipat. Ampun dije! Semua yang dipake di badan pun basah dari kepala sampe kaki. Amsyongnya adalah nggak bawa baju ganti karena mana tau bakalan lebih kuyub dari berenang? Di sini, saya juga naik kuda (lagi). Tapi kali ini saya nggak sendirian karena seluruh keluarga ikut naik kuda. Bisa dimaklumin karena keadaan anginnya yang super kenceng dan menyulitkan jalan kaki, belum lagi terjangan air ujan yang bikin perjalanan tambah lama.
 
Touchdown kaki kawah Bromo, dinginnya udah menusuk-nusuk tulang. Entah kenapa walaupun nggak lagi musim liburan (pasca Imlek), saat itu Bromo rame banget. Mungkin karena anak-anak sekolah dan kuliah masih belum masuk masa sekolah. Jadinya anak tangga yang untuk naikin puncak Bromo terpantau padat.. maka urunglah niat untuk menanjak karena macet di tengah-tengah tangga. Tips buat yang nggak tahan dingin, mungkin bawa minuman panas di termos kali ya. Atau tempel koyo di seluruh badan supaya nggak pusing. Soalnya dinginnya ituuuu nek! Nggak ada ampun.
Senyam-senyum.. padahal udah mau pingsan kedinginan

Not looking forward to see this, really :(

Bromo oh Bromo.. suatu saat gue harus dateng lagi pas cuaca cerah! Walaupun kurang manis, namun Bromo jadi penutup trip Malang saya. Jangan tanya bentuk tulang pas pulang gimana. Karena semua dijabanin, udah pasti mencong semua. Sampe Jakarta, Bersih Sehat aku dan suamiku datang!!