Friday, December 30, 2011

2011: The Stories

Gonna write this post in English. Why English? Because I can’t speak or write France, Spanish, let alone ngapak Tegal-ish.  The next reason is because this post is gonna be kinda emotional, which I truly hard to find the comfortable words in Bahasa.

Here we go.

So, it is the end of 2011. The year I’ve been very grateful of. The year of change. The year I stepped a lot further I just can’t believe it myself. 

It’s not hard to find the highlight this year is my marriage.  Half of the year I’ve spent all my energy preparing this.  Eventhough my wedding was not involving so much traditional ceremonies, but it still demands a lot of attention and details it leads me a total weariness. I’ve heard a lot that preparing wedding means firing up the drama, but words are words if you don’t undergo it yourself. I’ve cried so much during this preparation, my relationship with my mother was getting worse, and I’ve lost confidence a lot that I can’t handle everything by myself. Let alone I feel so tired because I haven’t had vacation for two years during my job probation.  I was overburden.

But when the day comes, I feel like the rain of relief on me. It was like everything’s flashing before my eyes and I realized, “here it is….” My life finally begins… I’ve spent half a year being occupied that I ran a lot of things to be grateful. And by June, half of 2011, I woke up to the half of remaining of the year, of so much beautiful things.

First, the man I’ve always dreamed of. I’ve drowned so much in the hecticness of preparing wedding that I forgot I DID THIS TO BE WITH HIM. It’s like I lost the bigger picture. When it’s over, finally I can see that the pain I underwent was worthy: the unconditional love, the patience, the cuddles, the laughter, the silliness and everything we share together. I’m so grateful it’s him, not anyone else. I never thought being a wife would feel this lovely. 

Also started half of this year, I was finally given the opportunity to travel. Travel, vacation, holiday, or what-the-name is the thing I’ve been always dreamed of but the chances never came. June 2011, not also I finally have a morning flight to Bali like I always wanted, but God decided to give me more; a vacation with a wonderful husband. Now I see why holiday feels so delayed for me; because He wants to make it very special :)


September 2011, with my friends, I also finally have a chance to have a holiday in a country I’ve never expected it before.  Bangkok, Thailand is a second city overseas that I’ve visited (according to my passport, I have visited Singapore in 2007). I experienced the joy of staying in a hostel, shopping in one of famous market in the world, Chatuchak, and strolling around the city by water transportation. Sounds simple, but in every travelling journey I’ve found something, some satisfaction that a stuff can’t replace and can’t be explained. 


The last six months of 2011 I feel so energized, so charged, that I did  something I’ve never thought I would.  So I cook and took photos (and even blog about it). I don’t know, I just do, and it’s an instant happiness for me!

Oh my God, I babbled so much, did I?
 
Guess in 2011 I feel so enlightened I can’t stop telling stories about it :D. But life has it ups and downs. 2011 not only contains happy stories, but also unpleasant ones. 

Until now, I have some broken relationship with some people. Some very significant, some finally I know they’re not that significant *giggle*. With the significant ones, I just realized that our relationship has been broken a very long ago and it’s not easy to fix.  In 2012, I have a goal to repair this. And for the people that finally revealed that you’re not that significant, I’m very grateful I finally can cut the crap with you :)

Some more unpleasant story:  I’m also still dealing with insomnia. It started out in 2009, getting worse when preparing my wedding, somewhat cured in this last six months, but sometimes it relapsed. I tried to cut the caffeine, add more veggies to my menu and work out more to make it gone forever.

Finally…

 I’m so happy I can finish this post. It’s been a long time I didn’t write this long. I hope in 2012 I will enjoy the whole year, not only half like I did in 2011 :D But I already took some steps in the end of the year. I’m quitting my job but thankfully, new exciting opportunity has been waiting for me. One lovely house in suburban area also already awaits for me and my husband to be occupied. Yes, I’m starting my new life, the first time separated with my parents! I bet it’s not gonna be easy in the first times, but I know it’s gonna be awesome.

Cherish to lovable 2011. You’ve been great. Thank you!


1.        

Friday, November 18, 2011

New Found Love: Cooking

Emang bener ya kalo status baru itu terkadang bisa membawa kita jadi punya semacem energi untuk ngelakuin hal yang bener-bener gak dipikirin sebelumnya. Contohnya MASAK. Sebelum menikah, nggak pernah kepikir seiprit pun mau coba turun ke dapur. Kenapa? Keputusan ini dilandasi oleh 3 hal:

1.Waktu kecil, mungkin saking Mama saya selalu mau saya makan sehat, maka di rumah itu menunya itu-itu doang. Yang paling saya doyan itu ayam goreng mentega, selebihnya udah ‘kenyang’ banget sama bening bayam, gado-gado, atau paling banter ikan kembung goreng. Jadinya saya kayak kodok ditempurungin, makan di luar pun paling banter KFC atau kadang Pizza Hut. Jadi menurut saya, proses masak memasak itu cuma buat makanan rumah yang ngebosenin.  

2.Selain alasan tersebut, saya juga ngeliat dapur sebagai tempat yang jorok dan memasak sebagai proses yang kurang endes dilihat.  Bau bawang, jahe, dan motong-motong sayur itu nggak lady banget (najis ya sombongnya).

3.Oknum pencicipnya adalah keluarga yang apresiasi terhadap makanannya kurang. Lihat alasan nomor 1.

Ternyata setelah merit, ketiga faktor di atas rada-rada bubar jalan. Apalagi saya menikah sama lelaki yang punya apresiasi tertinggi terhadap makanan dengan cara naik 13kg semenjak officially jadi pacar saya (sejak tahun 2007).  Tak diragukan lagi lah ya ukuran appetite nya.  Tapi, walaupun rakus, suami saya juga termasuk picky eater. Alias kalo makan milih maunya yang enak-enak doang. Yeeee.. selain gak suka makanan pedas (kecuali makanan Padang), dia itu sebenernya nggak masalah sama makanan rumah asal rasanya ENAK.  Yaweslah, langsung tertantang hormon ini untuk cuus masak sesuatu!

Thanks to Masterchef, motivasi masak saya yang kedua. Masterchef bener-bener ngebuka mata saya kalo masak itu effortless, dan yang pasti bisa dilakuin dalam keadaan rambut di blow dan mata dishading.  Dan hasilnya itu, bikin happy tummy and happy heart. Tekad memasak pun semakin bulet.

Pencarian resep dimulai dari internet (where else?). Berhubung kompor di rumah ortu saya itu udah lebih toku dari saya, nyalainnya kudu pake korek, dan oven di bawahnya udah meninggal sejak bertahun-tahun yang lalu (innalillahi), maka pencarian dimulai dari blog-blog pemula. Masakan saya sementara harus mentok di tumis atau kuah. No baking-baking atau presto-presto ing!

Ketemulah resep-resep gampang dan ciamik dari mbak cantik yang tinggal di Aussie milik Nadia Primaji. Ia dan suaminya itu newlywed yang masak demi pengeretan (which is every wife’s main duty, save the money for: MAC Palette, a pair of shoes, or Zara Dress).  Semua masakannya terlihat yummy dan yang paling penting, kebanyakan cuma ngelibatin wajan/panci+kompor+sodet. Percobaan pertama saya, yaitu  Honey Chicken yang nyontek dari blog Mbak Nadia ini sukses tudemeks. Rasanya ni'mad, sampe hubby tambah nasi. Yeeaay, you’re talking to the next Martha Stewart, baby! *kepedean

my darling honey chicken

Selanjutnya, nggak afdol rasanya kalo urusan perdapuran nggak masak pasta. Apalagi pasta termasuk kedoyanan suami. Nah, untuk resep yang satu ini saya nyontek dari blog masak paling hip masakini, yaitu Belajar Masak. Blog yang awalnya terkenal di Twitter ini emang bikin gemes minta dijajal. Akhirnya saya coba masak Mac and Cheese. Biasanya yah, bikin mac and cheese tuh harus dipanggang. Nah, di Belajar Masak bikin resep yang tinggal aduk-aduk aja di wajan! Mejiiik.. lagi-lagi percobaan kedua saya ini menuai sukses.


Yang terakhir, blog yang harus harus harus banget dibuka sama para beginner avid cook, yaitu resepnugraha.net. Blog ini juga punya ibu cantik bernama mbak Astri Nugraha, seorang caterer, designer, ibu beranak 4, suka berkebun, rajin ngeblog, pokoknya multitasker tingkat dewa!  Ibu yang juga tinggal di Ostrali ini punya blog resep yang di-archive-kan secara super-duper sistematis, berdasarkan kategori ayam, daging, ikan, sayur, dst. Nyontek dari sini,  saya sukses bikin sayur kangkung belacan. Eits walaupun cuma kangkung belacan, ini termasuk prestasi lho. Karena suami saya kurang doyan sayur, dan walaupun akhirnya rasanya kebanyakan terasi, tapi tetep dimakan sampe habis. Saya jadi terharu..


Yes, bukan usaha namanya kalo gak pake gagal. Kejadian ini baru dua minggu lalu, waktu percobaan bikin cumi saos padang yang nyontek lagi dari blog mbak Nadia. Saos padangnya siih berhasil, tapi pas dicobain gigit cuminya, alamak neeek! Lebih alot dari sendal jepit nenek-nenek. Ternyata, masak cumi itu ada triknya biar nggak alot, dan saya baru sempet baca setelah kelar masak. Ih, sedih deh…

Motong cumi ketebelan+gak direbus dulu = ALOT!

Soal frekuensi masak, saat ini sih belom sampe seminggu sekali, yah berhubung masih berstatus karyawati ya, dan ada masanya di mana weekend cuma pengen gegoleran doang. Tapi yang namanya fondasi niat itu udah ada (jieeeh). Until then, wait for me, Masterchef (not Indonesia)! :D 



Tuesday, October 18, 2011

Bangkok, The Love/Hate List

THE LOVE LIST

1. BTS Skytrain
Bersih, dingin, kemana-mana nggak pake macet.  Beli tiketnya menggunakan mesin yang tinggal masukin koin pecahan 10 baht dan 5 baht. Nggak punya koin? Tuker aja di loket! 




SIRIK RIK RIK RIK! *meratap*

2. The Traffic
Meskipun di sini katanya macetnya lebih parah dari Jakarta, alhamdulillah saya nggak pernah melihat/ngerasain pemandangan hina itu. Malahan menurut saya, walaupun di sini semua driver (mulai dari taxi driver sampe tuktuk) nyetirnya kayak orang kebelet, tapi mereka hormat banget sama pejalan kaki. Kalau kita mau nyebrang, dari jauh mereka udah ngerem. Kalo di Jakarta, astagfirullah ya, kurang dari ½ centi baru diinjek itu pedal rem...

3. The Ignorance
Mungkin perasaan saya aja, atau di Bangkok memang orangnya kurang ramah. Tapi sebenarnya sikap kayak gitu menyenangkan sih. Mereka rata-rata cuek dan nggak suka menatap orang lain. Waktu baru sampe di Bangkok, saya naik BTS dan bawa koper segede gaban, foto-foto, nggak ada satupun yang peduli, apalagi ngetawain. Ada juga cewek pake rok mini sampe pahanya kemana-mana, saya ngeliat sekeliling, nggak ada orang cabul yang ngedeketin atau ngeliatin. It’s like when you don’t disturbing another people, then take your time to do everything you want. It’s kinda nice to have some private space in public room like that :)
Kebayang nggak bernorak-norak kayak gini di Jakarta?
 
THE HATE LIST 

1. SIM Card
Dari awal saya udah yakin bisa dapet nomor dengan gampang, ya apalagi karena saya tinggal di Jakarta yang bisa ketemu tukang pulsa dan jual nomer perdana 2 meter sekali. Dari info-info yang didapet di Twitter sih, kita tinggal ke 7Eleven sana, beli nomer TrueMove, kemudian bisa langsung aktifin paket BlackBerry hanya untuk 3 hari. Sounds practical, pada kenyataannya, ternyata para karyawan 7Eleven bengong pas kita tanya TrueMove. Udah bolak-balik ke sekitar 5 7Eleven, nggak ngerti-ngerti juga. Akhirnya kita nemu booth-nya di Chatuchak, dan ternyata udah dijelasin panjang lebar, butuh sekitar 3 hari untuk aktivasi. Jiah, bagaimana ini Doremon? Ya akhirnya kita menyerah, dan Cuma bisa update status dengan naungan WiFi hostel saja...

2. Makanan nonpork susah
Kalau di Indonesia, kayaknya susah ya nemu makanan mengandung babi. Nah, di sini justru kebalikannya! Hampir semua restorannya ada menu babinya. Ya walaupun kita bisa pesen menu ayam/sapi, tetep aja was-was karena kecampur saat dimasak. Bismillah aja itu kuncinya. Oiya di Chatuchak ada satu tempat makan yang namanya Saman Islam, tanpa ba bi bu lagi kita langsung nyosor kesana meskipun ngantrinya panjang. Di sini Tom Yum nya alamak enaknya! Saya sendiri pesen Pad Thai alias kwetiaw yang rasanya surprising, yang dikira gurih ternyata agak manis karena ada campuran bumbu kacangnya.
Restoran Saman Islam


Hampiiir ngambil yang sate, kalo nggak distop sama pedagangnya yang bilang itu berbabi, hiks


Kalo ini ayam. Enak? Pastinya. Higienis? Insya Allah.
 3. Urusan ke belakang
Hal-hal kecil yang bisa bikin bersyukur di Indonesia meskipun tersiksa, yaitu tersedianya air di setiap toilet umum, DIMANAPUN. Di Bangkok, dan seluruh negara di dunia, ternyata air di toilet bukan hal biasa. Sungguh. Menyiksa.  Sebenarnya mungkin nggak segitunya kalau Cuma pipis, tapi kalo BAB kebayang lah ya ribet dan jijiknya. Untung,  di lobi hotel, ternyata ada tersedia semprotan untuk membersihkan selesai urusan ke belakang. ALHAMDULILLAH. Untung saya ga lagi diare, maka bolak-balik ke lobi cukup sehari sekali.

4. Nggak sempet nyoba MANGO STICKY RICE! :(
Penyesalan luar biasaaaa....




Akhirnya, journal trip akhirnya kelar setelah satu bulan karena kelamaan dianggurin. It’s been a great and unforgettable experience.  Semoga umur saya masih cukup untuk bisa jalan-jalan, dan nulis lagi trip tersebut di sini. Amin.. :)

Bangkok Trip Part 2: Where Our Feets Stepped

The Chatuchak Market
The combination of girls plus Bangkok = SHOPPING! Karena kita sampe hari Sabtu, inceran pertama di hari Minggu tentunya The Famous Chatucak Weekend Market.  Kita naik BTS Siam dari depan hostel sampe stasiun Mo Chit yang Cuma butuh sekitar 10 menit.  Setelah sampe sana, SPEECHLESS! Saya baru pertama kali nginjekin kaki di pasar yang gedenya luar biasa. Ada 27 section aja gituh! Plus 15ribu booth! You name it deh.. Segala cardigan, jeans, kaos, celana setrit.. sampe panci pun ada. Tapi jangan bayangin pasar yang super beceknya kayak Mayestik kalo ujan ya.. Cuma dikit aja kok yang  kotor dan becek. Selebihnya Chatuchak ini bersih dan ditata secara cantik. Karena, yang jualan di sana itu beragam,  ibaratnya mulai dari abang-abang pasar Senen sampe young fashion designer yang bersarang di 1 Grand Indo. Boothnya pun dibuat lucu dan menarik. Malah ada satu section yang bikin kaget, karena suasananya kok mendadak kayak di Legian?  Tapi yang paling bikin betah di sini ya HARGANYA.. Yah kalo model chiffon-chiffon-an kayak di Mangga Dua udah bikin emosi karena first bargainnya 200ribuan, di sini udah bisa nyengir karena tawaran mbak Thainya buka harga mulai dari sekitar 200-400 baht atau sekitar 60ribu sampe 120ribu rupiah! Surgaaa...
Pemandangan waktu pertama masuk ke Chatuchak. Kurang endes..

Topi-topi yang bikin ngiler
Jreng! Mendadak lucuuuuu...
Habis foto ini langsung dimarahin, "no picture no picture please!"
Some random booth decoration
Another cuteness


The Calypso Ladyboy Show Cabaret
Ini tujuan kedua kita di hari kedua. Meskipun badan udah lengket peliket abis bergumul dengan mas-mas tukang jual kaos Junk Food di Chatuchak, yang satu ini tetep nggak boleh kelewat. Kita emang nggak ke Pattaya yang katanya Ladyboy-nya lebih dahsyat cantiknya. Tapi nonton The Calypso Ladyboy Cabaret Show udah cukup menarik kok. Apalagi lokasinya deket dari hostel, yaitu di Asia Hotel. Kalo nggak salah biayanya sekitar 500 baht atau sekitar 150ribu rupiah untuk nonton show ini (lagi-lagi semua diurusin mama Septy yang sekali lagi, single dan available). Overall, show para transgender ini menghibur pisan. Profesional dan nggak asal. Koreografinya narinya rapiiiih banget dan kostumnya niat. Ya APALAGI HASIL SURGERY-nya, ya . POL-POLAN...(sambil ngeliatin teti-kadinya para Ladyboy).

Yuk, neeeeek...

Katanya kalo mau foto sama para Ladyboy ini harus ngasih tips lho.
Kebagian foto sama pemeran yang paling kocak :D
 The Grand Palace
Yak hari ketiga,  mari kita lupakan sejenak hedonisme akan fashion dan mari kita jelajah tempat-tempat layak foto alias candi-candi di sepanjang Sungai Chao Phraya. Dan terpujilah kau Bangkok, kota yang bisa memanfaatkan transportasi sungainya. Halo, bisa bicara dengan sungai Ciliwung?
Untuk menyusuri sungai Chao Phraya ini, harus bayar 150 baht untuk tiket terusan alias bisa turun dan naik dari dermaga aja sampe puas. Kapalnya beroperasi dari jam 8 pagi sampe jam ½ 8 malem. First stop nya Maharaj Pier, di mana Grand Palace berada.  Selama perjalanan dari dermaga sampe Grand Palace banyak jualannya, oiya di sini banyak cincin murah lho. Karena di Chatuchak kemaren nggak nemu saking gedenya.
Singkat cerita, setelah foto-foto berbagai manuver gaya di Grand Palace, setelah makan siang, kita pun ngebatalin rencana ke Wat Arun, Wat Pho, ataupun Chinatown. Waktu terbatas, padahal kita mesti belanja di Platinum! Trus, tiket 150 bahtnya gimana? Tabur ke sungai supaya suatu saat kita bisa balik lagi, hahaha..
Row, row your boat..






Pemandangan menyenangkan setelah turun dari kapal

Sawatdeekhrab..
Langsung pose membabi-buta

Platinum Fashion Mall
Lagi, lagi, destinasi surgawi feminin. Jika kamu ngebayangin Platinum Fashion Mall itu kayak Mangga Dua, jauh banget. Mangga Dua itu nggak rapih, dan setiap item nggak ditata tiap lantai. Apalagi mesti dikotori dengan barang-barang lelaki seperti toko HP, games atau mainan yang bikin alergi. Di Platinum ini semuanya adalah SANDANG.  Ada 3 Zone di mall geda ini, dan baju ya cuma ada di lantai khusus baju! No sandal no sepatu no tas. Kalau mau nyari sepatu ya harus di lantai lain. Tapi kalo soal harga, Platinum Fashion Mall ini memang agak mahal, dan kayaknya targetnya buat reseller. Jadi kalau satu baju harganya 350 baht, tapi kalo beli 2 dikasih 300 baht satunya.  Bedanya sampe 15 ribu. Lain kali ke sini udah harus punya toko online di Facebook ya kayaknya..
Photos are taken from Google karena penulis sedang LUPA DIRI!

Madame Tussauds Wax Musseum
Nggak kalah sama di Hong Kong, akhirnya Bangkok punya juga museum yang penuh sama creme de la creme ya Hollywood ini. Nggak jauh, tinggal jalan kaki ke mall Siam Discovery.  Tapi di tempat ini adalah tempat di mana saya nangis kejer, karena batere kamera HABIS BIS BIS! Padahal udah dicharge semalem loh. Dan yang lebih parahnya lagi nggak cuma punya saya aja yang habis, kamera Lulu, Mely dan Omi juga is det.  Padahal setiap spot di tempat ini serasa memanggil-manggil flash kamera. Huaaa.. Untungnya masih dapet beberapa foto norak serasa pose sama orangnya langsung pake iPod. Lady Gaga, ternyata kamu pendek ya?
Sebentar ya saya approve dulu..
Ternyata!
Aduh kakaaanggggg...
Hope pose (pose ngarep)
MBK Mall
Hari terakhir, udah nggak banyak mau. Jika bisa kucopot kaki ini, maka akan kutitipkan pada Sleeping Buddha. Agendanya hari ini cuma nyari oleh-oleh berbentuk makanan, dan liat-liat dikit di Siam Square. Bagi yang nyari oleh-oleh cemilan manisan mangga, atau ikan yang bentuknya panjang-panjang kayak tali sepatu (lagi-lagi nggak difoto :(), atau keripik duren, datanglah ke MBK. Ada toko di lantai 2 yang khusus nyediain cemilan yang unik banget bentuk sama rasanya. Selebihnya, mall ini emang super luas dan kebanyakan jualan gadget. Ya mirip-miriplah sama Roxy. 
 Oiya di hari terakhir ini saya juga nggak lupa nyari Nestea Milk Tea yang katanya super nikmat dan yang pasti nggak ada di Jakarta. Ini dia fotonya, dan memang ENAK!
to be continued again...


The Bangkok Trip Part 1

Prologue: This blog is owned by a newlywed. But this coming trip story doesn’t come from the couple, it’s from the wife and her girlfriends.

Ceritanya, saya dan temen-temen cewek bertujuh jadi salah satu yang berhasil dapetin tiket murah Jakarta-Bangkok naik penerbangan lowcost yang terkenal seantero dunia itu. Tiketnya berhasil dibeli sekitar bulan Oktober 2010, di mana saya belum menikah, dilamar pun belum! Tapi dengan pedenya saya langsung minta izin pacar (yakin amat yaaa... untungnya sekarang sudah jadi suami #hihi) untuk pergi ke luar negeri tiga hari.  Untungnya dia ikhlas, kayanya kasihan sama saya yang fakir traveling. Jadilah 10 September sampai  13 September kemarin saya berangkat. Yeay!  

Oiya, sebenernya trip ini nggak bakal berhasil tanpa kehadiran sang mami Septy (Twitter: @TianyUD). Gadis manis (single and available) ini yang paling rajin browsing tiket, cari tau jalur-jalur Skytrain, booking hostel, pokoknya saya berenam yang males-males ini tinggal bayar, rebes! Dia juga yang bikinin itinerary super lengkap beserta perkiraan biaya-biaya dan waktunya segala, walaupun pada prakteknya nggak semua sempet dilakuin. We love you Septiany! Well, And the Bangkok story goes..



The Three-Nights Stand 
Kita nginep tiga malem di Bangkok, dan sampe di Bangkok sudah jam 9 malem. Walaupun kita bukan backpacker, kita juga nggak mau stay di hotel mahal-mahal dong! Tapi harus tetep clean dan layak buat selonjoran. Dan Septy nemuin satu hostel yang super niceeeee banget bernama Lub. D. Youth hostel ini bersih, murah, dan strategis banget. Terletak di depan mall Siam Paragon, tinggal ngesot ke Siam Discovery dimana museum wax Madam Tussauds berada, deket  7Eleven kalo mendadak laper, plus yang paling penting di depan kita BTS Station Siam yang bawa kita kemana-mana... Cihuy ya? 
Tampak depan Lub D

Ada tempat mainnya lho

Kebagian tidur di atas :D

Mesin-mesin serbaguna




Ini juga pengalaman saya pertama kali nginep di youth hostel. Amazed sama tempat tidur bertingkat, ruangan yang nggak spacious, tapi sangat-sangat nyaman. Setiap tempat tidur disediain 3 colokan charger.  Kamar mandinya pun rame-rame, tapi bersihnya ngalahin kamar mandi Celebrity Fitness. Ada mesin kondom (ehem), mesin washing powder, dan mesin cuci buat para backpackers kalo susah nemuin kali dan papan penggilesan di Tibet sana. Di lobinya pun ada komputer terkonek internet dan WiFi gratisaaan...  Malahan ada movie theater di lantai atas (yang nggak sempet saya ceki-ceki berhubung kamar kita di bawah)! Seru ya.. Bayangan saya tentang hostel itu jorok langsung buyar. Oiya, satu malem di sini untuk dorm-nya hanya 40 Baht saja atau sekitar 120ribu rupiah lho...

to be continued...

Friday, September 9, 2011

God, before I turn 50, can I…

Standing in the front row of John Mayer Concert,

Sleep under the moonlight at one of the houses at Santorini, 


Swimming in the blue sea of Maldives,

 
Crossing under Grand Canal by Gondola at Venice,


Taking pictures the colorful scenery at Raja Ampat underwater,

 
Having a new year’s eve at New York Times Square,
Wearing pink boots and joining at the hecticness of Shibuya,

   
 Lying down at the sea of tulips at Holland,


 Riding hot air balloon,


 And then have a fine dining at one of the Gordon Ramsay’s restaurant?



Amin.